Mengamati Budaya

Ditulis oleh: Yudo

Dalam artikel pada edisi yang lalu, kita sudah membahas tentang bagaimana budaya memengaruhi kesusastraan suatu daerah. Namun, jika kita menyelisik lebih dalam, yang mendapat pengaruh langsung dari budaya bukanlah karya sastra itu sendiri, melainkan para penulisnya. Jika kita mengamati para sastrawan besar Indonesia, kita bisa melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak hanya terbuka terhadap budaya pada zamannya, tetapi juga dengan aktif merekam budaya itu dalam tulisan-tulisan mereka. Sekali lagi, budaya yang kita maksud dalam hal ini bukan hanya hal-hal yang bersifat tradisional saja, melainkan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dikategorikan dalam kebiasaan modern atau kontemporer.

Jadi, apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk dapat merekam budaya yang ada di sekitar kita? Di bawah ini ada beberapa tip sederhana yang dapat membantu kita untuk semakin peka terhadap budaya di sekitar kita dan merekamnya:

  1. Membuka diri terhadap keadaan sosial-budaya sekitar kita. Membuka diri berarti aktif mencari tahu tentang kondisi lingkungan kita. Tidak perlu yang muluk-muluk, dengan mengamati kondisi sosial yang ada di lingkungan tempat tinggal kita saja, kita sudah bisa mendapatkan banyak hal yang berkaitan dengan budaya atau kebiasaan, baik yang positif maupun yang negatif. Kita bisa mengamati pola kebiasaan masyarakat ketika diperhadapkan pada suatu kondisi seperti pernikahan, kematian, hari-hari raya, hari-hari khusus yang ditetapkan pemerintah, ataupun kebiasaan umum lainnya yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar kita.

  2. Mencari sumber-sumber literatur yang membahas suatu budaya atau kebiasaan. Ada banyak buku dan sumber lainnya yang bisa membantu kita memahami keadaan sosial-budaya di sekitar kita. Bahan-bahan ini tidak hanya akan membuka pemahaman kita mengenai asal usul budaya yang kita amati, tetapi juga akan membawa kita kepada sumber-sumber yang lain, sehingga pemahaman kita mengenai budaya itu akan semakin dalam. Selain itu, dengan membaca banyak referensi, kita juga bisa melihat suatu budaya dari berbagai sudut pandang.

  3. Bersikap kritis terhadap budaya yang diamati dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah diterima. Jangan takut bersikap kritis terhadap budaya yang kita amati. Jangan hanya mencermati asal usulnya, tetapi amatilah juga sisi positif dan negatifnya, apa manfaat dan akibatnya, bagaimana budaya itu membentuk generasi selanjutnya. Dengan demikian, kita bisa menolong orang lain untuk melihat suatu budaya atau kebiasaan secara objektif. Perlu diingat bahwa hasil pengamatan atau pandangan kritis kita terhadap budaya tidak melulu berupa esai atau tulisan yang bersifat serius. Kita bisa mengemasnya dalam bentuk narasi atau puisi sehingga bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Ingatlah bahwa selalu akan ada pihak lain yang mungkin tidak setuju dengan hasil pengamatan kita, akan tetapi jangan berkecil hati. Dari ketidaksetujuan itulah, justru muncul diskusi-diskusi lanjutan yang pada akhirnya juga akan tetap memberi kontribusi kepada masyarakat kita. Tetaplah semangat dalam berkarya!

Sumber bacaan:

  1. Sesario Putra Pradana . 2011. "Masyarakat dan Kebudayaan" dalam http://kakikolongmeja.blogspot.com/2011/04/masyarakat-dan-kebudayaan.html

  2. _______________. 2012. "Apresiasi Budaya GodeanBukti Kepedulian Masyarakat" dalam http://oase.kompas.com/read/2012/11/07/23441368/Apresiasi.Budaya.Godean....

  3. ________________. 2012. "Kultur Budaya" dalam http://disporbudpar.cirebonkota.go.id/index.php/Kesenian/kultur-budaya.html