Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Kiat Menulis Bebas: Kiat Paling Jitu Agar Kita Selalu Lancar Menulis!

Sejak sekitar 3 tahun lalu, saya mengenal istilah "Kiat Menulis Bebas" dari Pak Hernowo, penulis yang terkenal dengan konsep "Mengikat Makna". Penemu konsep menulis bebas ini sebenarnya adalah Peter Elbow lewat bukunya "Writing Without Teacher" (sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul sama dan diterbitkan oleh Indonesia Publishing atau iPublishing tahun 2007). "Tapi, saya menerapkan kita menulis bebas ini tidak dari Peter Elbow, melainkan dari Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog yang menulis buku 'Opening Up'," ujar Pak Hernowo ketika suatu hari saya mengonfirmasikan konsep "Kiat Menulis Bebas" tersebut padanya.

Terlepas dari apa pun, saya merasa bersyukur karena menemukan sebuah fakta yang sangat menarik, sebagaimana yang tertulis pada judul artikel ini. Bahkan, saya kemudian menyebut kiat ini sebagai "rahasia terbesar di dunia penulisan". Saya pun memberi nama khusus untuknya, dengan tujuan agar mudah diingat: "Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri".

Kiat Menulis Bebas = Kembali ke Fitrah Manusia

Saya yakin Anda semua sudah paham, bahwa otak manusia memiliki dua belahan, yakni otak kanan dan otak kiri.

Otak kanan = menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan.

Otak kiri = sistematis, runut, penuh pertimbangan.

Secara naluriah, sebenarnya setiap manusia sudah "diprogram" oleh Tuhan untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri, dalam hal apa pun. Sebagai contoh:

1. Seorang perempuan jalan-jalan di sebuah mal. Dia melihat sebuah baju bagus yang dijual dengan diskon 50 persen. Maka pikiran spontan si perempuan ini akan berkata, "Wah, harus beli nih!"

2. Seorang pemuda secara tak sengaja melihat perempuan cantik lewat di depan matanya. Maka secara spontan dia akan berkata di dalam hati, "Wah, cantiknya! Andai dia jadi milikku."

3. Seseorang yang disenggol oleh orang asing secara tak sengaja, maka secara spontan emosinya akan naik dan timbul niat spontan untuk marah atau membalas tindakan tersebut.

Hal-hal seperti contoh di atas adalah reaksi spontan manusia ketika menghadapi situasi tertentu. Dan reaksi spontan ini adalah hasil pekerjaan otak kanan.

Setelah reaksi spontan itu muncul, biasanya kita tidak langsung bertindak. Misalnya pada contoh nomor 1. Setelah si perempuan secara spontan berkata "Harus beli", maka dia kemudian berpikir. "Jadi beli tidak, ya?" Pikirannya pun penuh oleh berbagai macam pertimbangan. Hingga akhirnya dia mungkin tidak jadi membeli.

Aktivitas "penuh pertimbangan, banyak berpikir", dan seterusnya ini, merupakan hasil kerja dari otak kiri.

Secara hukum alam, kita -- manusia terbiasa mengerjakan apa pun dengan otak kanan dulu baru otak kiri. Reaksi spontan dulu baru berpikir. Ini adalah hukum alam, sangat sesuai dengan fitrah manusia.

Masalahnya, dalam menulis kita justru melawan hukum alam. Kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia!

Kita mulai menulis dengan berbagai macam pikiran dan pertimbangan:

Tulisan ini nanti jadinya bagus tidak ya?
Bagaimana kalau hasilnya jelek?
Bagaimana kalau nanti tulisan ini diejek oleh orang lain?
Bagaimana kalau tulisan ini tidak sesuai dengan tata bahasa dan ejaan yang berlaku?
Kalau tulisan ini saya kirim ke Kompas, dimuat enggak ya?
Saya ingin membuat tulisan sebagus tulisan Andrea Hirata. Tapi bagaimana kalau tulisan saya nantinya tidak bagus, jauh dari kualitas Andrea Hirata?

Dan seterusnya!

Dengan kata lain, belum apa-apa kita sudah pakai otak kiri! Padahal, hukum alam justru mengajarkan kita untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri. Ini berlaku dalam hal apa pun, termasuk dalam menulis.

Maka, ketika saya belakangan ini rajin memasyarakatkan "kiat menulis bebas" kepada teman-teman penulis, itu didorong oleh keinginan saya agar para penulis kita kembali ke fitrahnya, kembali ke hukum alam dalam hal menulis.

Memang, kecenderungan kita untuk "melawan hukum alam" ketika menulis sedikit banyaknya dipengaruhi oleh sistem pendidikan kita di sekolah. Sejak kecil, kita diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia bahwa menulis harus pakai kerangka karangan, harus mematuhi EYD, harus taat pada tata bahasa, dan seterusnya. Ajaran seperti ini membuat kita berpikir bahwa menulis itu rumit, membingungkan, dan sulit untuk dipraktikkan.

Padahal sebenarnya, menulis itu sangat gampang! (seperti kata Arswendo Atmowiloto pada bukunya "Mengarang Itu Gampang!"). Bagaimana caranya agar gampang? Ya, tentu saja dengan "kembali ke hukum alam". Kikislah habis "aliran sesat" yang diajarkan oleh guru kita di sekolah dulu. Mulai sekarang, menulislah dengan otak kanan dulu baru otak kiri.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : www.jonru.net
Alamat URL : http://www.jonru.net/
Penulis : Jonru Ginting
Tanggal akses : 21 Desember 2011