Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Felix Tan -- Penulis di Media Massa

Felix Tan lahir di Belinyu, Bangka pada tahun 1920. Ia mengenyam pendidikan di Sekolah Belanda; HCS Holand Chinese School (sekolah dasar), Mulo (SMP), AMS Algemene Middelbare School (SMA) sekarang (Kanisius). Setelah itu, berangkat ke negeri Belanda dan meneruskan di University of Leiden Belanda, mengambil fakultas Anthropologi, selama 6 tahun (1946 -- 1952) beliau menuntut ilmu dirantau. Felix memperistri orang sebangsanya, Ami Tan yang memberikannya 8 orang anak.

Setelah lulus sebagai doktorandus Antropologi, beliau kembali ke tanah air dan bekerja sebagai tenaga pengajar di IKIP Bandung. Tahun 1954, Felix mengikuti kursus B1 dan B2 untuk kualifikasi pengajar yang berakhir dengan diangkatnya beliau menjadi Direktur Penyelenggara kursus B1 dan B2 itu. Ia diangkat menjadi dosen paruh waktu di berbagai sekolah, termasuk di Universitas Padjajaran Bandung, Universitas Parahyangan, Akademi Pendidikan Jasmani, dan IKIP. Pada tahun 1960, ia dikirim pemerintah Indonesia ke Amerika Serikat untuk menekuni Library Science di New York University. Tahun 1962, ia mendapat gelar Master in Library Science dan dipekerjakan di MPRS sebagai penerjemah paruh waktu.

Bertemu dengan PK Ojong pada Tahun 1953

Pada waktu itu Auwyong Peng Koen (PK Ojong) menangani Star Weekly, sebuah majalah berbahasa Melayu, dan Keng Po sebagai koran harian. Kebetulan PK Ojong datang ke Museum Gajah, jalan Merdeka Barat, Jakarta. Saat itu, Felix Tan sedang bekerja di Gedung Gajah (Museum Nasional, red.)sebagai antropolog, begitu ketemu dan ngobrol, mereka langsung cocok bagaikan kawan lama. Kemudian, Felix Tan ditawari untuk menjadi penulis di majalah dan korannya yang kemudian kita kenal dengan "Intisari", majalah bulanan yang formatnya mirip "Readers Digest", dan "Kompas" sebagai harian yang sampai hari ini tergolong sebagai surat kabar Indonesia yang terbesar.

Mulanya, Felix tak sanggup karena bahasa Indonesianya kurang baik; dia selalu menggunakan bahasa Belanda karena pendidikannya selalu menggunakan bahasa tersebut. Akan tetapi, Peng Koen tak keberatan dan bersedia menerjemahkan tulisan Felix ke dalam bahasa Indonesia. Maka, mulailah Felix Tan menulis sebagai salah satu kolumnis di Star Weekly. Setelah 3 bulan, PK Ojong meminta beliau untuk menulis dalam bahasa Indonesia.

Setelah 6 bulan, Felix Tan telah fasih menulis menggunakan bahasa Indonesia. Pada saat meletusnya G-30-S, Felix Tan pernah menulis reportase yang lengkap beserta foto-foto tentang aktivitas disekitar G-30-S di Bandung, laporan ini dimuat satu halaman penuh di halaman depan harian Kompas secara ekslusif, dan prestasinya sempat menarik pengamat jurnalistik Internasional sehingga dia mendapatkan penghargaan Jurnalist Prize dari Amerika Serikat.

Artikel yang ditulis Felix, antara lain "Siapa yang Asli?" (membahas asal-usul suku-suku yang berdiam di kepulauan Indonesia), "Surat dari Bandung" (semacam editorial mingguan yang dicetak pada harian Kompas, isinya politik dan masalah sosial), dan rubrik "Pengalaman hidup di Amerika" (semacam pengalaman Jusni Hilwan di Toronto yang dipublikasikan di Indonesia Media).

Beliau juga adalah salah satu dari sembilan tokoh pendiri KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia). Mulai saat itu, dia merasa sangat kecewa dengan Shindunata, seorang pelopor asimilsasi. Felix menyatakan bahwa asimilasi pemaksaan seperti ganti nama, kawin campur (kecuali secara alamiah suka sama suka) itu adalah cara yang salah besar. Dia selalu mengkritik Sindhunata dalam setiap kesempatan untuk masalah ini. Selama 8 tahun, anaknya tidak tahu dia adalah seorang Tionghoa. Akan tetapi, sebuah huru-hara membuat anaknya bertanya, "Kita orang C... , ya papa?" Anaknya tidak tahu sebab Felix selalu mengajarkan kepada kedelapan anaknya (4 putera dan 4 puteri) bahwa, "Kita orang Indonesia," demikian beliau menunjukkan semangat nasionalisnya.

Felix yang sering juara pingpong ini sangat mengagumi pribadi Yakob Utomo (pemred Kompas). "Dia adalah salah seorang pribumi yang hebat dan terpuji," cetusnya.

Pada tahun 1968, Felix pergi ke Hawaii. Di sana, ia bekerja di perpustakaan dan mengajar di Maunaolu College sampai tahun 1975, lalu diminta mengajar oleh Maui Community College sebagai pengajar paruh waktu di bidang ekonomi. Tak hanya itu, ia juga harus mengajar mata kuliah Kebudayaan Asia selama 2 tahun, maka dia dituntut belajar sambil mengajar. Bahkan, pernah ia mengajar 12 mata kuliah yang berbeda pada saat yang sama. Bagaimana mungkin? Kuncinya yaitu filosofi mengajar yang dimilikinya, "Tuhan menunjuk saya sebagai manusia yang harus mengabdikan sebagai tenaga pengajar yang baik. Untuk itu, saya juga harus belajar keras untuk mempersiapkan bahan yang harus diajarkan," demikian ujar Felix yang baru berhenti mengajar di University of Hawaii pada tahun 1999, di usia 79 tahun.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Tokoh Indonesia
Alamat URL : http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/1198-kolumnis-intisari-kompas
Judul asli artikel : Kolumnis Intisari dan Kompas
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 22 April 2014