Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Elemen Jurnalisme

Bill Kovach dan Tom Rosentiel, penyari pemikiran insan pers Amerika Serikat yang tergabung dalam Committee of Concerned terkait harapan publik atas implementasi jurnalisme, mengawali paparan dengan kesadaran bahwa setiap generasi menciptakan jurnalismenya sendiri, tetapi tujuannya tetap sama. Mulai dari sekelompok suku di Afrika sampai pulau yang paling terpencil di Samudra Pasifik, orang-orang primitif ini ternyata mempunyai definisi yang sama tentang apa yang mereka sebut berita.

Orang mempunyai kebutuhan dalam dirinya -- sebuah naluri -- untuk mengetahui apa yang telah terjadi di luar pengalaman langsung diri mereka sendiri. Tahu terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak bisa kita saksikan dengan mata sendiri ternyata menghadirkan rasa aman, kontrol diri, dan percaya diri.

Namun, inti sari pemikiran insan pers Amerika Serikat yang tergabung dalam Committee of Concerned dalam melaksanakan serangkaian upaya untuk menghimpun harapan warga atas penerapan teori-teori jurnalistik itu disebut Kovach dan Rosentiel menyurut dan mengalir seiring waktu.

Kendati menyurut dan mengalir, tetapi prinsip-prinsip yang selama ini disetujui wartawan dan yang diharapkan masyarakat adalah tetap dalam batas tertentu yang mudah dipahami. Prinsip-prinsip yang disebut "Sembilan Elemen Jurnalisme" itu adalah:

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran.

Utama, tetapi membingungkan. Bahkan, seandainya kebenaran hanya didasarkan pada kejujuran dan fairness (tidak berat sebelah) dan balance (seimbang). Pada kenyataannya, upaya wartawan untuk "fairness" dan "balance" itu tetap saja subyektif dan dipengaruhi politik media massa.

2. Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara.

Elemen ini menjawab pertanyaan, "Untuk siapa wartawan bekerja?" Demi menjawabnya, Kovach dan Rosentiel menyarankan pemilik/perusahaan harus menomorsatukan warga, mempekerjakan manajer bisnis yang juga menomorsatukan warga, menetapkan dan mengomunikasikan standar yang jelas, menaruh akhir berita di tangan wartawan, serta mengomunikasikan standar yang jelas kepada publik.

3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

Elemen ini mengingatkan prinsip dasar jurnalistik yang mengandalkan fakta sebagai sumber berita. Wartawan tidak pernah menambahi sesuatu yang tidak ada, serta tak pernah menipu audiens. Kovach dan Rosentiel lalu menyarankan insan pers untuk menerapkan prinsip intelektual dari laporan ilmiah:

  • berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi Anda,
  • andalkan reportase Anda sendiri,
  • bersikaplah rendah hati.

4. Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputannya.

Wartawan sebisa mungkin bersikap independen, tanpa takut dan tanpa tekanan, tanpa konflik kepentingan. Namun, dalam banyak kasus, wartawan tidak bisa independen secara total karena bekerja untuk majikan yang punya kekuasaan dan uang.

Jalan keluar untuk kemustahilan itu menurut Kovach dan Rosentiel adalah, "Jika wartawan/media memiliki hubungan yang bisa dipersepsikan sebagai konflik kepentingan, mereka berkewajiban melakukan 'full-disclosure' tentang hubungan itu." Tujuannya adalah agar pembaca waspada dan menyadari bahwa tulisan/liputan itu tidak terlalu independen.

5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan.

Jurnalis senantiasa dituntut memantau kekuasaan dan menyambung lidah yang tertindas. Prinsip itu kini kerap melenceng karena peran sebagai anjing penjaga (watchdog) yang berlebihan karena lebih ditujukan untuk menyajikan sensasi. Pemantau atas kekuasaan dinilai efektif dengan reportase investigatif.

6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk kritik maupun dukungan warga.

Selain harus menyajikan fakta, wartawan harus berpegang pada standar kejujuran yang sama atau kesetiaan kepada kepentingan publik. Media harus mampu menjadi ajang saling kritik dan menemukan kompromi. Forum yang disediakan untuk itu harus untuk komunitas seutuhnya, bukan hanya untuk kelompok yang berpengaruh atau yang secara demografi menarik.

7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan.

Jurnalisme adalah mendongeng dengan sebuah tujuan, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan orang untuk memahami dunia. Tantangan pertama adalah menemukan informasi yang dibutuhkan orang untuk menjalani hidup mereka, dan yang kedua adalah membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak. Penulisan jurnalistik yang bagus selalu merupakan hasil dari reportase mendalam yang solid, dengan imbuhan detail dan konteks yang mengikat tulisan.

8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.

Jurnalisme adalah kartografer (pembuat peta) modern. Ia menghasilkan peta bagi warga untuk mengambil keputusan tentang kehidupan mereka sendiri. Itulah manfaat dan alasan ekonomi kehadiran jurnalisme. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme bergantung kepada kelengkapan dan proporsionalitas.

9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Setiap wartawan -- dari redaksi hingga dewan direksi -- harus punya rasa etika dan tanggung jawab personal -- sebuah panduan moral demi menyajikan berita yang akurat, adil, imbang, berfokus pada warga, berpikiran independen, dan berani. Upaya itu akan padam dengan sendirinya tanpa adanya atmosfer keterbukaan yang memungkinkan orang menentang asumsi, persepsi, dan prasangka orang lain.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Dasar-Dasar Jurnalistik
Alamat URL : http://materijurnalistikums.blogspot.com/2009/10/elemen-jurnalisme.html
Penulis artikel : Rahmat Wibisono
Tanggal akses : 28 Oktober 2014