Beberapa Hal tentang Cerita Pendek

Seorang ahli cerita pendek Richard Summers, yang telah lebih dari 19 tahun lamanya mengajar teknik mengarang cerita pendek di University of Arizona, Amerika Serikat, dalam bukunya "Craft Of The Short Story", yang banyak saya pergunakan untuk mengarang karangan ini, mengatakan tidak seorang pun dapat mengajar seorang pengarang muda bagaimana ia harus menulis. Ia boleh mendapat pimpinan, ia boleh ditolong dengan kritik-kritik dan anjuran-anjuran, atau karangannya boleh diperbaiki di bawah pimpinan seseorang, malahan boleh ditunjukkan kepadanya soal yang mengenai tehnik mengarang. Akan tetapi pada akhirnya ia mesti mengajari dirinya sendiri dengan melalui percobaan dan kegagalan, dengan jalan menulis dan sekali lagi menulis, dengan jalan mempergunakan dengan giat segala kesempatan untuk mencurahkan pikirannya sendiri dan sedikit demi sedikit mengatasi segala kesalahannya sehingga akhirnya ia memiliki suatu gaya menulis, yang jika telah sekali terdapat, tidak akan hilang lagi dari padanya.

Rumusan Cerita Pendek

Apa sebenarnya yang dinamakan cerita pendek? Cerita pendek atau short story itu? Apakah semua cerita yang pendek termasuk golongan cerita pendek? Tidak selamanya. Karena panjang pendeknya sesuatu cerita tidak menjadi ukuran apakah sesuatu cerita termasuk golongan cerita pendek atau tidak. Ada cerita pendek yang terdiri dari 500 perkataan tetapi ada juga yang terdiri sampai 40.000 perkataan, sebagai cerita pendek The Turn of The Screw karangan Henry James. Demikian juga mungkin tidak banyak yang mengetahui, bahwa buku Robert Louis Stevenson yang termashur "The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr Hyde" digolongkan oleh para ahli dalam golongan short story. Oleh karena itu perkataan short-story kadang-kadang dijadikan satu menjadi short-story, sehingga ada istilah "short short-story" dan "long short-story".

Apa bedanya sebuah cerita pendek dari sebuah karangan sebuah coretan atau sebuah percakapan?

Demikianlah kita mengemukakan beberapa rumusan dari beberapa ahli.

Richard Summers dalam bukunya yang dikutip di atas mengatakan: ... rumusan yang lengkap tidak dapat diberikan, karena suatu usaha untuk memberikan gambaran yang lengkap akan gagal ... Oleh karena itu, buat apa kita bersusah payah untuk memberikan rumusan ini? Sebabnya ialah, dengan sebuah analisa tentang apa sebenarnya cerita pendek itu dan apa yang bukan, para pengarang yang belajar mengarang cerita pendek dapatan yang pertama. Sebuah karangan biasa bukan cerita pendek. Sebuah skets pribadi seorang manusia bukan cerita pendek. Sebuah lukisan bukan cerita pendek. Sebuah percakapan tidak selamanya termasuk cerita pendek. Catatan tentang peristiwa-peristiwa, seperti sebuah buku harian atau seluk beluk tentang sebuah kapal yang tenggelam bukan cerita pendek. Akan tetapi sebuah vignett -- yaitu suatu cerita tentang suatu kejadian kecil dalam penghidupan (biasanya yang bersifat ironis) bisa dan sering termasuk dalam golongan cerita pendek. Sebuah skets sesuatu pribadi, sebuah catatan tentang kejadian-kejadian, sebuah percakapan, malahan suatu gambaran bisa dirobah menjadi suatu cerita pendek dengan mengadakan perobahan kecil dalam sikap menulis dan tujuan mengarang.

Brander Mathews, dahulu professor dalam Dramatic Liturature pada University of Columbia dalam bukunya "The Philosophy of The Short Story" meletakkan aksennya terhadap bentuk. Ia menulis: "Bukan cerita pendek jika tidak ada sesuatu yang akan diceritakan. Suatu cerita pendek dalam mana tidak ada terjadi apa-apa adalah suatu ketidakmungkinan sama sekali." Menurut Mathews tadi perbedaan antara sebuah cerita pendek dengan sebuah skets adalah "jika sebuah skets mungkin disamakan dengan suatu stilleleven, dalam cerita pendek sesuatu senantiasa terjadi. Sebuah skets mungkin suatu garis besar dari sesuatu pribadi, atau suatu gambaran dari perasaan seseorang, akan tetapi dalam cerita pendek sesuatu harus dilakukan, harus ada perbuatan (action)"

Professor Stewart Beach, lecturer on Short Story Writing pada New York University, dalam bukunya "Short Story Technique", memberikan rumusan sebagai berikut: "Mengingat batas-batasnya maka cerita pendek termasuk bentuk yang paling sederhana dari fiksi). Perbedaan dengan buku roman, cerita pendek kurang tempat untuk memecahkan sesuatu keadaan yang ruwet."

Dalam "A Book of The Short Story", Professor E.A. Cross mengatakan: "Bersamaan dengan buku roman, cerita pendek adalah suatu kerja fiction. Tetapi berbeda dengan buku roman, efek yang satu-satunya biasanya hanya satu kesan impression, dan bukan satu usaha sengaja mempersatukan berbagai bahan menjadi kesatuan." Henry Scidel Candby dala ata pengantar "The Book of The Short Story" mengatakan, "kesan yang satu dan hidup, itulah seharusnya hasil dari sebuah cerita pendek."

Masih banyak lagi definisi yang telah diberikan oleh para ahli tentang apa sebenarnya cerita pendek itu, akan tetapi pendapat-pendapat di atas cukup kiranya memberi sedikit pengertian tentang apa yang termasuk dalam golongan cerita pendek dan apa yang bukan.

Dua Macam Cerita Pendek

Ada dua macam cerita pendek, yang menurut para ahli perbedaannya dapat disamakan dengan perbedaan antara musik populer dengan musik klasik.

Cerita pendek yang pertama termasuk golongan yang biasa disebut "quality stories" atau cerita yang mempunyai harga kesusasteraan. Golongan cerita pendek kedua adalah commercial (atau craft) stories, yaitu seperti juga dapat dimengerti dari perkataannya sendiri adalah cerita yang dijual untuk mencari uang. Akan tetapi ini tidak berarti, bahwa kita harus menganggap rendah cerita-cerita yang sedemikian, atau memandang kaliber pengarangnya kurang besar, sebab banyak juga pengarang-pengarang ternama di samping pekerjaannya yang sunguh-sungguh, telah menulis "commercial stories", seperti 0. Henry, Bret Harte, James M. Cain, F. Scott Fitzgerald, Booth Tarkinton, W. Somerset Maugham, dan lain-lain. "Commercial stories" ditulis untuk satu pasaran yang tertentu karena juga seseorang pengarang pengarang yang kenamaan kadang-kadang membutuhkan uang.

Pembaca umumnya menyukai bahasa yang romantis, plot yang kocak, percintaan besar antara dua orang muda dan sebagainya, dan "commercial stories" yang biasa menulis tentang hal-hal itu, lebih gampang dijualnya oleh karena cerita berdasar "laki-laki yang tampan bertemu dengan perempuan yang cantik" masih sangat populer di antara pembaca di mana saja.

"Quality stories" yang mempunyai harga kesusasteraan adalah pekerjaan yang lebih sungguh-sungguh dari pengarang-pengarang yang tidak mengingat apakah karangannya akan dibayar orang atau tidak. Buat dia pasaran menjadi soal kedua, soal yang pertama adalah bahwa ia harus menulis untuk mencurahkan buah kalbunya dan pikirannya dengan sekuat tenaga, sedangkan ia senantiasa berusaha supaya kwalitet ceritanya, melebihi kwalitet cerita-ceritanya yang dahulu.

Di Amerika, di mana cerita pendek sangat populer sekali, "quality stories" biasa dimuat dalam majalah-majalah kesusasteran yang tidak atau sedikit sekali membayar honorarium, seperti Partisan Review, Arizona Quarterly, Kenyon Review, Quarterly Review of Literature dan beberapa lain-lainnya. Akan tetapi jika cerita pendek seseorang pengarang telah dapat dimuat dalam salah satu majalah ini, ia akan mendapat penghargaan yang baik sebagai pengarang.

"Commercial stories" biasa dimuat dalam majalah-majalah populer sebagai Saturday Evening Post, Collier"s, Ladies Home Journal, Mac CALL"S, American Magazine, dan lain-lain.

Judul buku: Teknik Mengarang
Penulis buku: Mochtar Lubis
Penulis artikel: S. Tasrif S.H.
Penerbit: Kurnia Esa, Jakarta 1981
Halaman: 11 -- 15