Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Bahasa Ibu Perlu Asuhan Guru

Di negeri ini, guru masih dikenal sulit memberi nilai. Bahasa Indonesia pun kerap terasa sulit bagi anak karena miskinnya asuhan berbahasa ibu.

Rhenald Kasali (2017) mengakui pendidikan Indonesia cenderung menghukum; kurang memacu anak agar maju. Di Amerika Serikat -- kata Rhenald -- anak yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris dipuji-puji oleh guru meskipun karya tulis si anak masih buruk.

Di gampong ulon kana listrek. Ulon dengon rakan-rakan ka jeut belajar bak malam uro untuk peugot tugah-tugah sikula. Wate kamoe teungoh belajar rame-rame, ka lheun listrek. Kamoe pih gabuk/panik karena seuput dan han jeut le meurunoe. Kamoe keuneuleuh buet thoet lilen keu geulanto listrek.

Bagaimana sikap guru apabila karangan anak itu diajukan di kelas pelajaran bahasa Indonesia? Akankah anak dari daerah Aceh tersebut memperoleh pujian dari guru dengan nilai bagus, hebat, dan mantap? Bisa jadi, guru cemas melihat terbatasnya kemampuan berbahasa Indonesia dan buru-buru mengoreksi bahasa si anak.

Bukan Lawan

Sementara ini, di dunia pendidikan Indonesia, masih ada anggapan bahasa daerah dan bahasa nasional/negara merupakan pasangan bahasa yang terpisah; belum bersifat kontinum seperti hierarki piramidal dalam teori Bloom (1956). Kesinambungan penguasaan bahasa pada anak kurang terjamin karena prestasi anak sedini mungkin dituntut menurut ukuran bahasa baku yang dianggap lebih baik dan benar, seperti ini.

Di desa saya, sudah ada listrik. Saya dan teman sudah dapat belajar pada malam hari untuk mengerjakan tugas sekolah. Ketika sedang belajar bersama, listrik padam. Kami panik karena gelap dan tidak dapat belajar lagi. Kami menyalakan lilin sebagai pengganti listrik.

Karena melihat situasi pembelajaran seperti itu, A. Chaedar Alwasilah (2012) pernah mengkhawatirkan hilangnya peran bahasa daerah dalam pencerdasan daya nalar anak bangsa. Padahal, betapa cerdasnya anak Aceh tadi. Melalui pemanfaatan bahasa ibu, teks naratif yang diproduksi anak itu sudah memenuhi tujuan pembelajaran: mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Ia mencari lilin sebagai pengganti listrik yang padam.

Dalam konteks itu, bahasa merupakan praktik mencari dan menemukan ilmu pengetahuan yang wacananya -- menurut Norman Fairclough (1994) -- diproses melalui produksi dan konsumsi teks. Di dalam Kurikulum 2013, pembelajaran bahasa Indonesia dengan berbasis teks dirancang untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan alam dan sosial. Integrasi IPA dan IPS dalam pembelajaran bahasa negara itu juga membawa pesan M. Tabrani (1938): bahasa Indonesia bukan lawan bahasa daerah.

Merancang transisi

Sangat penting pesan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama kali digelar 80 tahun lalu di Solo (1938). Kongres itu memutuskan bahwa bahasa Indonesia tidak merombak bahasa daerah. Menurut Tabrani (pada saat kongres), bahasa yang digagas kelahirannya pada tanggal 2 Mei 1926 ini disebarkan untuk mewujudkan satu tekad bertanah air, berbangsa, dan berbahasa: Indonesia. Untuk itu, bahasa daerah tidak boleh dibongkar. Namun, transisi penggunaannya perlu dirancang menuju bahasa Indonesia.

Lewat jalur pendidikan, rancangan transisi berbahasa itu sebaiknya dibuat. Beruntunglah sekarang masih dilanjutkan agenda Kurikulum 2013 yang memberi ruang pemanfaatan bahasa daerah sebagai bahasa ibu dalam pembelajaran tematik. Misalnya, tema sumber energi cahaya itu dibahas dengan bahasa teks naratif. Unsur-unsur leksikogramatikal dalam teks karya siswa yang terpengaruh oleh penggunaan bahasa ibu harus dihargai.

Kemampuan guru untuk merangsang setiap siswa berpikir kritis sambil mengasuh bahasa ibu si anak seperti praktik di atas masih merupakan tantangan pendidikan Indonesia. Pada tahap awal pendidikan dasar, sesuai dengan UU Sisdiknas (Tahun 2003), guru tidak perlu sibuk membuat koreksi -- apalagi tega memberi hukuman dengan nilai buruk -- atas diksi bahasa ibu: bentuk kata listrek, sikula, dan semacamnya. Koreksi bahasa anak agar bercorak bahasa resmi negara perlu ditunda hingga siswa memasuki kelas lanjutan di sekolah dasar.

Lanskap Bahasa

Dalam buku Pokoknya Rekayasa Literasi (2012), Alwasilah pernah mengajukan konsep etnopedagogi untuk merancang pendidikan berbasis kearifan lokal dengan memasukkan bahasa daerah yang ada dalam setiap suku bangsa. Rancangan etnopedagogi itu perlu diterapkan dengan sungguh-sungguh pada awal pendidikan formal di sekolah dasar dan dilanjutkan di ruang informal seperti dalam pendidikan keluarga dengan ayah-bunda.

Lebih lanjut, advokasi kepada generasi penutur muda perlu terarah supaya bahasa daerah tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat berkembang mendukung kemajuan bahasa negara yang harus tampak di ruang publik. Berbagai tuntutan seperti yang disuarakan Rahmat Taufiq Hidayat (2016) agar bahasa daerah setara dengan bahasa (negara) Indonesia perlu diikuti dengan ketaatan pada tata lokasi fungsi bahasa.

Tata ruang berbahasa atau apa yang disebut dengan perencanaan lanskap bahasa (linguistic landscape dalam E. Shohamy, 2010) perlu dibuat untuk mengatur penggunaan bahasa, termasuk bahasa asing, di ruang publik. Rancangan induk lanskap bahasa Indonesia sesungguhnya sudah tersedia sejak UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan diundangkan.

Sudah semestinya, bahasa asing dan bahasa daerah/bahasa ibu tidak berebut fungsi di ruang publik dengan bahasa negara. Dalam hal penulisan (1) nama gedung/lembaga, (2) nama sarana umum, (3) nama ruang pertemuan, (4) nama jabatan, (5) produk barang/jasa, (6) penunjuk arah/rambu umum, dan (7) spanduk atau alat informasi lain, bahasa Indonesia wajib diutamakan dan bahasa lainnya -- apabila perlu -- diikutsertakan.

Jagalah lanskap bahasa ruang publik agar tetap utuh berwajah Indonesia. Keutamaan bahasa Indonesia tidak bisa tergantikan dengan yang lain. Negara ini tetap disepakati sebagai satu bangsa, bukan negara multi-bangsa (multinational state dalam istilah sosiolinguistik Kloss, 1968): bangsa Jawa, Sunda, Aceh, dan lain-lain tidak beridentitas terpisah-pisah dengan bahasa ibu masing-masing.

Di tengah kesibukan mengatur kemudahan bahasa asing karena kebutuhan akan investasi asing -- pada Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari ini -- Indonesia patut berkhidmat. Tidak perlu terulang tragedi bahasa Bengali. Bangladesh lahir terpisah dari Pakistan karena tuntutan penutur Bengali pada tahun 1952 agar bahasa daerahnya diasuh dalam dunia pendidikan dan layanan publik pemerintahan.

Sikap trigatra bangun bahasa—utamakan bahasa Indonesia; lestarikan bahasa daerah; kuasai bahasa asing -- perlu ditanamkan pada setiap anak bangsa. Untuk itu, usaha guru sangat perlu guna membangun kesadaran berbangsa dengan bahasa daerah melalui pembelajaran ilmu pengetahuan berbasis bahasa ibu di sekolah dasar. Selamat mengasuh bahasa ibu!

Diambil dari:
Nama situs: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Alamat situs: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/2556/bahasa-ibu-p...
Judul asli artikel: Bahasa Ibu Perlu Asuhan Guru
Penulis artikel: Maryanto
Tanggal akses: 21 Agustus 2018