Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Bagaimana Seorang Penulis Kristen Menyampaikan Kebenaran?

Setiap orang yang merasa terpanggil untuk menulis sebagai seorang pelayan Kristus Yesus tahu bahwa satu standar berlaku untuk setiap penulis Kristen: kebenaran. Kedengarannya sangat sederhana awalnya, tetapi terkadang kebenaran tidak begitu mudah dilihat. Isu-isu kultural dan politik dan kebenaran seringkali terjalin dalam simpul yang tidak siap diurai.

Meskipun demikian, kebenaran itu penting.

Penulis menemukan di awal bahwa terdapat "kebenaran" yang merupakan posisi aktivis, "kebenaran" yang merupakan interpretasi teologis, dan "kebenaran" yang merupakan kepercayaan tradisi kuno yang entah bagaimana menjadi "kebenaran" yang "diketahui semua orang". Seorang penulis yang mengerjakan subjek yang mudah menyinggung perasaan sepertinya mendapati dirinya sama seperti Pilatus.

Gambar: Penulis Kristen

"Apakah kebenaran itu?"

Saya baru-baru ini membaca sebuah novel pendek yang menyelidiki makna dari kebenaran. Pengarangnya dengan terampil membongkar pertanyaan dalam jerat historis dan kultural, tetapi di bawah semuanya itu adalah pertanyaan tentang apa kebenaran itu dan mengapa itu penting. Itu bukan sebuah novel Kristen, tetapi benar-benar mengajukan pertanyaan yang menarik. Lebih dari separuh buku itu, pengarang mengungkapkan subjeknya yang sesungguhnya.

Bacalah, kemudian tanyakan pada diri Anda sendiri apa subjeknya yang sesungguhnya.

"Sebagai seorang ilmuwan dan sejarawan amatir, kepedulian saya satu-satunya adalah kebenaran. Saya tidak peduli jika Mickey Mouse menemukan Amerika pertama kalinya dan seluruh orang di planet menolaknya. Jika saya menemukan bukti untuk hal sebaliknya, dan saya benar-benar percaya bahwa fakta ini adalah penting bagi pemahaman manusia yang seringkali menyesatkan dari naturnya sendiri, saya akan mencari cara untuk menyebarkannya apa pun konsekuensinya, karena kita akhirnya mengalami kerugian yang lebih besar dari ketidaktahuan akan kebenaran, bahkan jika penyelidikan pertama kita tentang kebenaran itu melukai harga diri kita, hak istimewa kita, atau iman kita yang terlihat kuno dalam permainan silap mata religius. Kecemburuan kultural atau iri hati politik tidak punya tempat dalam ilmu pengetahuan, terlebih lagi agama yang memainkan bagian aktif dalam perniagaan internasional. Jika kita memiliki sedikit saja petunjuk tentang kebenaran, adalah tanggung jawab kita untuk menyelidikinya sampai kita dapat mencapai resolusi yang dapat dibuktikan."

(Diucapkan oleh karakter Lukas dalam novel In the Shadow of the Cypress oleh Thomas Steinbeck, © 2010 oleh Thomas Steinbeck, Simon & Schuster NY, NY, hal. 171)

Pembicara itu, suara dari pengarang, menunjukkan bahwa persepsinya tentang kebenaran didasarkan pada hal-hal yang dia sebut sebagai fakta. Fakta adalah hal-hal yang semua orang bisa lihat dan sepakati. Masalah dengan fakta adalah bahwa setiap fakta melibatkan pengamatan.

Mungkin pengukuran/penilaian.

Setiap fakta tak dapat dielakkan diamati dari sebuah sudut pandang. Pengarang tersebut berbicara tentang pandangan-pandangan, tetapi menolak gagasan bahwa ilmu pengetahuan memiliki suatu pandangan. Dia menyatakan secara tidak langsung bahwa perspektif kultural, tujuan politik, atau pemahaman rohani tidak punya tempat dalam pengamatan fakta. Dia menolak nilai-nilai religius dalam perniagaan. Dia menyatakan secara tidak langsung bahwa unsur-unsur rohani dalam kehidupan kita harus dihilangkan ketika kita mencari kebenaran.

Agar Anda tidak benar-benar putus asa dengan penulis ini, Anda harus tahu bahwa novel tersebut sebenarnya mempertanyakan semua keyakinan yang tegas itu. Tidak dengan tepat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, dan itu tidak apa-apa, karena membuat pembacanya berpikir. (Senangnya, novel tersebut juga menceritakan sebuah kisah yang menawan hati, dan orang-orang Kristen tidak akan merasa diserang dengan isi moralnya. Sayangnya, pernyataan ini perlu disampaikan, mengingat bahwa budaya masa kini memiliki pandangan yang sangat bebas mengenai konten yang dapat dianggap pantas bahkan untuk anak-anak.)

Novel ini mewakili, bukan hanya sebuah gaya menulis sebagai satu cara untuk menyampaikan kebenaran, tetapi juga dengan jelas mengungkapkan kecenderungan pengarang tentang subjeknya. Bagaimana berbedanya perkataan ini jika pembicaranya mengekspresikan suatu pandangan Kristen tentang kebenaran?

Apa sebenarnya pandangan Kristen tentang kebenaran?

Sepuluh Hukum tampaknya merupakan sebuah titik awal yang baik. Salah satu dari Sepuluh Hukum Allah untuk kehidupan adalah ini: Katakan kebenaran. Keluaran 20:16, bahkan perintah yang sederhana ini adalah sumber kontroversi. Ternyata perintah ini tidak begitu sederhana sama sekali.

Hukum tunduk pada interpretasi legal, dan pendapat mengenai arti dari hal ini tampaknya perintah sederhana yang mengingatkan saya akan suatu episode dalam novel besar James Michener tentang Israel, berjudul The Source. Michener menggambarkan sebuah sekolah rabi kuno. Pada satu hari, guru, pengurus, rabi yang dihormati, memberitahu semua murid bahwa pekerjaan rumah mereka adalah mengumpulkan 100 alasan mengapa seorang Yahudi tidak boleh makan kadal. Mereka semua bekerja sangat keras, dan merasa senang dengan pekerjaan itu, karena kadal jelas tidak termasuk makanan halal. Mereka kembali ke kelas, menyampaikan poin-poin mereka dan kemudian menunggu dengan bersemangat untuk melihat siapa yang paling membuat rabi terkesan.

Rabi tua itu hanya mengumumkan bahwa tugas pekerjaan rumah berikutnya adalah mereka harus mengumpulkan 100 alasan bahwa seorang Yahudi harus selalu makan kadal.

Pelajaran dari kisah ini: kebenaran adalah apa saja yang bisa Anda buat selama Anda menggunakan kata-kata legal yang tepat. Berbagai terjemahan untuk aturan Allah tentang mengatakan kebenaran dan berjilid-jilid tafsiran tentang subjek tersebut membuatnya gamblang bahwa seorang juru tulis yang terampil dapat menguraikan caranya/pendapatnya sendiri tentang kebenaran legal tanpa berusaha terlalu keras.

Ajaran sempurna tentang kebenaran adalah Kristus itu sendiri. Kristus adalah Firman Allah yang hidup, sebagaimana Yohanes dengan indah menjelaskannya dalam pasal pertama Kitab Injilnya.

Pada perjamuan terakhir dengan kedua belas Murid, Yesus menjelaskan pesan itu. Dia memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi, mereka menjadi sedih, karena mereka tidak ingin Dia pergi walaupun Dia sudah memberikan peringatan-peringatan juga sebelumnya. Yesus berkata,

"Dan, kamu tahu jalan ke tempat Aku pergi." (Yohanes 14:4)

Anda dengan segera bisa membayangkan segala obrolan semacam itu pasti akan memicu perdebatan/keheranan. Mengatasi keributan, Tomas berkata,

"Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, bagaimana kami tahu jalan itu?" (Yohanes 14:5)

Ketika Anda membaca pernyataannya, Anda melihat bahwa mereka telah menutup pikiran mereka terhadap semua yang pernah Yesus katakan mengenai takdir-Nya, dan mereka belum siap untuk membuka pikiran mereka. Lalu, Yesus berkata,

"Akulah jalan." (Yohanes 14:6)

Mereka harus memandang kepada Dia untuk melihat jalan agar sampai kepada tujuan-Nya dan untuk bersama dengan Dia. Sesungguhnya, Dia berkata,

"Akulah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan." (Yohanes 14:6)

Dia sedang menunjuk kepada sesuatu yang tidak pernah mereka mengerti hingga Pentakosta. Sampai Roh Kudus datang atas mereka pada hari Pentakosta, mereka tidak dapat memproses fakta bahwa Kristus adalah Kebenaran. Kristus, Allah dalam daging, adalah Kebenaran tertinggi sepanjang masa.

Ajarkanlah mereka untuk menaati semua yang Aku perintahkan kepadamu. (Matius 28:20, AYT)


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Tidak ada seorang pun yang bisa menguraikan/menerangkan pendapat-Nya dari pewahyuan itu.

Mengatakan bahwa Kristus adalah Kebenaran tidak membuat kehidupan penulis Kristen menjadi lebih mudah. Banyak pembaca yang tidak lebih siap untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya daripada para murid.

Sama seperti Yesus harus menyampaikan terus-menerus kebenaran dalam porsi-porsi kecil dan analogi-analogi besar, para penulis Kristen harus melakukan hal yang sama. Itulah keindahan dari fiksi Kristen.

Seseorang pastinya akan mengejek gagasan menyebut novel Kristen perumpamaan, dan dalam arti literal, firman itu tidak cocok/tepat/sesuai. Akan tetapi, para penulis Kristen yang berusaha untuk menyampaikan kebenaran dalam ukuran yang mudah diproses untuk lebih siap diterima oleh pembaca daripada esai yang bersifat teosofis bersifat terlibat dalam pengajaran seperti yang Yesus contohkan dalam perumpamaan. Itulah sebabnya, sangat penting bagi para penulis Kristen untuk memegang Kebenaran, Kristus itu sendiri, sebagai standar mereka, inti dari segala yang mereka lakukan.

Entah fiksi atau non-fiksi, para penulis Kristen sedang melakukan pekerjaan "ajarkanlah (mereka) untuk menaati semua yang Aku (Kristus) perintahkan." Matius 28:20

Penulis fiksi Kristen ingin menceritakan kisah yang menawan hati, dan tentu saja ingin menyampaikan kebenaran. Beberapa penulis melepaskan simpul dan menjawab semua pertanyaan. Yang lainnya memilih untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan membiarkan pembaca untuk memikirkan sendiri jawabannya. (t/Jing-Jing)

Audio: Bagaimana Seorang Penulis Kristen Menyampaikan Kebenaran?

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Godly Writers
URL : http://www.godlywriters.com/how-can-a-christian-writer-tell-the-truth/
Judul asli artikel : How Can A Christian Writer Tell the Truth?
Penulis artikel : Katherine Harms

Topik: 

Komentar