Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Anne Bradstreet (Penyair Pertama di Amerika)

I am obnoxious to each carping tongue Who says my hand a needle better fits, A Poet's pen all scorn I should thus wrong, For such despite they cast on Female wits.

(Saya terluka dengan setiap orang yang mengkritik dan mengatakan saya sebaiknya kembali menjahit saja [kembali ke dapur]. Semua orang berpikir saya akan merusak seni puisi karena mereka sangat menghina kecerdasan perempuan - Red.)

Hampir semua dari kita mengenal Anne Bradstreet dari meditasi dan puisinya. Sebagai penyair, ia menggabungkan kerinduan hati manusia dengan iman dan kesalehan yang sungguh, dan dia diakui sebagai Puritan sejati dan salah satu penyair terbesar Amerika.

Keturunan Mayflower

Gambar: Anne Bradstreet

Bradstreet lahir di sebuah kastil di Northampton, Inggris, di mana ayahnya adalah seorang pengurus untuk kaum bangsawan Earl of Lincoln (salah satu kaum bangsawan di Inggris yang berkuasa pada rentang tahun 1143 -- 1572 - Red.) yang Puritan. Dia menikmati hak istimewa dan kekayaan, pernah mencatat, "Ketika aku masih sekitar tujuh tahun ... aku punya delapan tutor sekaligus yang secara bergantian mengajar ... bahasa, musik, menari."

Pada usia 16 tahun, ia menikah dengan Simon Bradstreet, lulusan baru dari Cambridge dan juga pelayan di perkebunan Earl (Earl of Lincoln - Red.). Dua tahun kemudian, pada tahun 1630, ia datang ke Massachusetts dengan sekelompok kaum Puritan yang dipimpin oleh John Winthrop.

Perubahan mendadak ini tidak cocok untuknya: "Saya mengubah kondisi saya dan menikah, dan datang ke negara ini, di mana saya menemukan dunia baru dan sopan santun baru, di mana hati saya bangkit (dalam kemarahan)," tulisnya kepada anak-anaknya pada kemudian hari. "Tetapi setelah saya yakin itu adalah cara Allah, saya berserah dan bergabung ke gereja di Boston."

Ia menjalani kehidupan seorang ibu yang menuntut, tetapi relatif nyaman (akhirnya melahirkan delapan anak), dan istri dari suami yang berada di kalangan tertinggi dari masyarakat Massachusetts.

Di sela tugas-tugas rumah tangga, ia menemukan waktu untuk menulis puisi. Kakak iparnya berpikir itu sangat baik, beberapa puisinya berhasil dicetak di Inggris, dengan judul The Tenth Muse Lately Sprung up in America.

Meskipun saat ini ia dianggap penyair Amerika pertama, dan meskipun puisinya dikagumi oleh banyak orang pada zaman ini, ia dikritik oleh beberapa orang karena menulis puisi, sebagaimana yang pernah dicatatnya dalam sebuah puisi:

I am obnoxious to each carping tongue
Who says my hand a needle better fits,
A Poet's pen all scorn I should thus wrong,
For such despite they cast on Female wits.

(Saya terluka dengan setiap orang yang mengkritik dan mengatakan
bahwa saya sebaiknya kembali menjahit saja.
Semua orang berpikir saya akan merusak seni puisi
karena mereka sangat menghina kecerdasan perempuan - Red.)

Gairah Puritan

Tetap saja ia mengarang puisi: tentang alam, tentang pernikahan, tentang anak-anak, tentang iman -- kadang semuanya sekaligus. Sebagaimana salah satu sejarawan mengatakan, puisinya menunjukkan "seorang Puritan bisa ... menggabungkan gairah seksual, cinta anak-anak, dan humor yang dikemas dengan baik -- bahwa perempuan Puritan, singkatnya, bisa menjadi seorang Puritan dan seorang wanita dengan pesona yang besar."

Dalam To My Dear and Loving Husband, ia merayakan cinta dalam pernikahan sambil menunjuk kepada cinta yang lebih abadi:

(Berikut ini adalah transliterasi dari teks asli, oleh karena itu gaya bahasa yang digunakan mungkin tidak sesuai dengan penulis aslinya - Red.)

Jika pernah dua adalah satu, maka pasti itu kita.
Jika pernah seorang pria dicintai oleh istri, maka itu engkau.
Jika pernah istri bahagia oleh seorang pria,
Bandingkan dengan aku, hai wanita, jika engkau bisa.
Aku menghargai cintamu lebih dari seluruh tambang emas,
Dari semua kekayaan yang negeri Timur miliki.
Cintaku sedemikian hingga sungai tak bisa memuaskan,
Juga cinta darimu tak terbalaskan.
Cinta-Mu tak pernah bisa kubayar kembali;
Aku berharap surga membalas dengan berlipat-lipat kepadamu.
Maka, saat kita hidup, cinta kita begitu abadi,
Sehingga saat kita tidak lagi hidup kita akan hidup untuk selamanya.

Salah satu puisinya yang paling pedih ditulis pada tahun 1665 setelah kematian seorang cucu bayi:

(Berikut ini adalah transliterasi dari teks asli, oleh karena itu gaya bahasa yang digunakan mungkin tidak sesuai dengan penulis aslinya - Red.)

Selamat jalan sayang, hatiku menjadi terlalu puas,
Selamat jalan bayi manis, kesenangan mataku,
Selamat jalan bunga cantik yang dulu pernah hadir
Kemudian dibawa pergi kepada keabadian.
Sayang untuk apa aku menangisi nasibmu,
Atau mengeluhkan hari-hari yang begitu cepat berakhir
Engkau ada dalam keadaan Kekal.
Secara alami Pohon membusuk ketika mereka tumbuh.
Dan Plum dan Apel yang benar-benar matang jatuh,
Dan Jagung dan rumput pada musimnya dipotong,
Dan waktu merubuhkan apa yang kuat dan tinggi.
Tapi menanam yang baru harus memberantas/membasmi,
Dan tunas baru tertiup, waktunya begitu singkat,
Karena tangannya sendiri yang memandu alam dan nasib.

Tulisan-tulisannya menyangkal mitos tentang Puritan yang kolot dan sangat sopan, yang begitu lama menjadi bagian dari jiwa Amerika. (t/Jing-Jing)

Diambil dari:
Nama situs : Christianity Today
Alamat situs : http://www.christianitytoday.com/history/people/poets/anne-bradstreet.html
Judul asli artikel : Anne Bradstreet
Penulis artikel : Tim Christianity Today
Tanggal akses : 19 Mei 2016