Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Jangan Menulis Hanya untuk Diterbitkan

Bagi kita yang menyukai kata-kata, kita tertarik pada bunyi keyboard dan penguraian makna di halaman. Kita merasa hidup saat kita menyusun kata-kata menjadi kalimat; beberapa dari kita bahkan merasa lebih dekat dengan Allah saat kita menghidupi iman kita dengan menuliskannya. Waktu yang dihabiskan untuk menulis terasa penting, bahkan kudus.

Gambar: menulis untuk diterbitkan

Akan tetapi, bagi kebanyakan dari kita, hal yang berjalan seiring dengan kecintaan kita pada menulis adalah keinginan untuk diterbitkan. Keinginan ini dapat didorong oleh budaya pada umumnya, yang mengatakan bahwa tulisan kita hanya bernilai jika pembaca kita sangat banyak dan artikel kita terkenal. Penerbitan umumnya dianggap sebagai tujuan dari kehidupan menulis, dan melihat kata-kata kita dicetak merupakan bentuk validasi yang sempurna untuk pekerjaan kita.

Sebagai seorang penulis dan guru menulis, saya sering melakukan percakapan dengan penulis lain yang terpaku pada penerbitan. Mereka sangat ingin melihat karya mereka diterbitkan di suatu tempat. Mereka ingin tahu bagaimana memulai karier menulis, atau bagaimana mendapatkan informasi tentang menulis untuk majalah terkemuka.

Menanggapi pertanyaan mereka, saya terpaksa bertanya: Apakah Anda ingin diterbitkan? Atau Anda ingin menulis?

Ini bukan pertanyaan yang sama, meskipun banyak dari kita bingung antara satu dengan yang lain. Meskipun tulisan dikaitkan dengan penerbitan, diterbitkan tidak membuat seseorang menjadi penulis. Menulislah yang menjadikan seorang penulis.

Keinginan yang sangat besar akan Validasi

Dari pengalaman saya, keinginan terus-menerus yang dimiliki para penulis untuk melihat kata-kata mereka diterbitkan tidak ada hubungannya dengan menulis dan lebih berkaitan dengan masalah nilai dan tujuan yang belum terselesaikan dalam musim kehidupan mereka -- sering kali yang terasa kurang memuaskan. Mengapa? Karena ketika kita dipanggil untuk melakukan sesuatu yang tenang dan tidak terlihat -- mungkin musim mengasuh anak atau musim kesetiaan pada pekerjaan yang membosankan -- menulis bisa tampak seperti tiket cepat keluar dari hari ke hari. Kita berpikir bahwa mungkin -- mungkin saja -- jika kita bisa mendapatkan penerbit yang tepat untuk menerima kita, atau jika kita bisa mendapatkan editor yang tepat untuk memberi kita kesempatan, maka mungkin kita akan merasakan validasi, bahkan jika kehidupan sehari-hari kita tampak membosankan.

Akan tetapi, diterbitkan tidak akan memenuhi kerinduan Anda akan validasi. Ketenaran tidak akan mengisi kekosongan itu. Sebagai seseorang yang sering menulis dan menerbitkan, saya menemukan bahwa penerbitan bukanlah hal yang membuat hati dan jiwa saya tetap hidup -- saya berani mengatakan, diterbitkan sebenarnya akan memiliki efek sebaliknya pada jiwa yang mencari kemasyhuran. Sebaliknya, saya harus kembali ke tujuan akhir menulis, mengajukan pertanyaan yang lebih besar mengapa menulis ada. Dan seperti semua hal di bawah kekuasaan Allah, tujuan menulis adalah lebih besar daripada yang bisa saya pahami. Ini jauh, jauh lebih besar daripada diterbitkan.

Tujuan menulis adalah ibadah (1 Kor. 10:31).

Inilah mengapa pertanyaan yang harus kita ajukan kembali sebagai penulis, berulang-ulang, bukanlah mengenai penerbitan atau platform. Sebaliknya, pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: Apakah saya menyembah Allah dalam pekerjaan saya sebagai penulis?

Ini bukan pertanyaan basi, juga bukan jawaban menghindar. Ini bukan cara untuk mengabaikan pertanyaan tentang penerbitan yang sebenarnya. Akan tetapi, itu harus menjadi tempat awal untuk setiap pekerjaan yang dilakukan penulis Kristen.

Akhirnya Puas

Ibadah pada dasarnya adalah tindakan bodoh bagi dunia yang tidak percaya. Itu tidak menghasilkan uang bagi kita, dan tidak memberi kita pujian. Sebenarnya, menulis sebagai ibadah berarti mengalihkan segala pujian dan perhatian kepada Allah.

Inilah cara kita mengatasi godaan untuk menemukan keberhargaan diri kita dalam penerbitan daripada di dalam Kristus. Kita mengejar kepuasan dalam menulis untuk Kristus saja. Karena jika tulisan kita adalah sebuah ibadah -- menulis untuk Dia, menulis tentang Dia, menulis dengan Dia -- maka pada akhirnya tidak masalah apakah ada orang lain yang membaca kata-kata itu. Jika esai, cerita, dan artikel kita membawa sukacita dan pujian bagi Raja dunia, dan jika itu mengarahkan hati kita kepada kebaikan-Nya dan kelayakan-Nya, maka kata-kata itu telah mencapai tujuan utama yang harus dipenuhi: ibadah. Jika mata-Nya adalah satu-satunya mata yang membaca kata-kata yang telah kita tulis -- tetapi jika kata-kata itu menghormati dan memuliakan Dia -- maka kita telah menulis dengan baik dan luar biasa menurut mata surga.

... menulis sebagai ibadah berarti mengalihkan segala pujian dan perhatian kepada Allah.

  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Nah, perspektif ini tidak berarti kita harus menolak penerbitan ketika ada kesempatan; itu tidak berarti kita harus menulis sebagai pertapa jauh dari dunia. Akan tetapi, artinya adalah bahwa jika kita mengirimkan karya untuk penerbitan, kita tidak melakukannya karena kita menggali validasi. Sebaliknya, kita menulis dari rasa aman di dalam Kristus (1 Yohanes 3:1), memercayai Allah akan melakukan kehendak-Nya dalam pekerjaan kita karena kita taat kepada-Nya.

Setiap kesempatan menulis untuk audiens di luar Allah Tritunggal adalah sekunder -- sebuah karunia, tetapi tidak pernah menjadi harapan. Jika Tuhan memberi kita sebuah platform di mana kata-kata kita mencapai dua puluh, atau ratusan, atau ribuan, atau jutaan, tujuan penulisan tetaplah sama. Baik melalui novel yang memperlihatkan kebaikan Allah, buku-buku yang menguraikan karakter-Nya, artikel-artikel yang menunjukkan kebenaran-Nya, atau puisi-puisi yang menyatakan kehadiran-Nya, tujuannya adalah selalu bagi kemuliaan-Nya.

Para penulis, kita harus meminta Tuhan untuk menyelidiki kita dan membantu kita melihat mengapa kita sangat menginginkan penerbitan (Mazmur 139:23-24). Mengejar keinginan untuk melihat artikel kita dicetak hanya akan membuat kita frustrasi, egois, dan kelelahan. Akan tetapi, jika kita berusaha untuk menyembah Kristus dan berkomunikasi dengan Dia dalam tulisan kita, kita akan dibebaskan untuk melakukan apa yang benar-benar kita inginkan: menemukan tujuan dan nilai sejati dalam pekerjaan kita. Dan, kabar baiknya adalah bahwa tujuannya bukan atas nama kita, tetapi atas nama-Nya. Nilai kita bukanlah bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita, tetapi bagaimana mereka bereaksi terhadap Yesus. Tujuannya bukan membuat diri kita terkenal, tetapi meninggikan nama Kristus.

Jadi, apakah kita ingin diterbitkan? Atau kita ingin menulis?

Dalam segala hal, kita ingin beribadah. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/dont-write-just-to-get-published/
Judul asli artikel : Don't Write Just to Get Published
Penulis artikel : Ann Swindell

Komentar