Skip to main content

Pengajar yang Tak Menggurui

Shalom!

Sejak baru belajar membaca sampai lulus kuliah, mungkin sudah ribuan judul karya fiksi yang mewarnai imajinasi kita. Dari cerita-cerita rakyat sampai novel-novel populer, kita mempelajari berbagai nilai moral sambil tetap menikmati alur cerita yang menawan. Namun demikian, pasti kita juga pernah menemukan karya fiksi yang dikemas dalam cara bercerita yang kaku dan seolah-olah menggurui. Alih-alih menghibur kita, kisah itu justru lebih mirip catatan khotbah, padahal seharusnya karya fiksi adalah pengajar yang tak menggurui; pengajar yang menyampaikan nilai-nilai moral melalui kisah yang menakjubkan, bukan kalimat-kalimat yang kaku.

Jadi, bagaimana cara menyampaikan pesan moral yang seharusnya? Anda bisa menyimaknya dalam tip yang kami sajikan pada edisi ini. Jangan lewatkan pula kolom Tokoh Penulis, yang kali ini mengangkat kisah hidup Philip Yancey. Kiranya sajian kami dapat bermanfaat bagi Sahabat e-Penulis sekalian. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Penulis,
Yosua Setyo Yudo
yudo(at)in-christ.net >

Mengajar dengan Pesan Moral

Shalom,

Pesan moral, ketika kita masih kanak-kanak, ia menunggu kita di akhir setiap cerita dongeng yang kita baca atau dengarkan. Saat kita beranjak dewasa, ia lebih suka menyembunyikan diri di antara jalinan dialog dan berkelebat di sela-sela tokoh-tokoh cerita, lalu diam-diam mengajar kita tentang keagungan sifat-sifat manusia sekaligus menunjukkan kebobrokannya. Tak bisa dimungkiri, pesan moral adalah "roh" dalam karya fiksi semacam novel, novela, dan cerpen maupun dalam karya nonfiksi naratif semacam biografi atau catatan harian seorang tokoh. Sang penulis sedang mengajar kita ketika kita menikmati karyanya. Tetapi tunggu dulu, apakah pesan moral harus disiapkan terlebih dahulu oleh penulis sebelum menciptakan karyanya? Apakah pesan moral itu harus dinyatakan secara verbal dalam sebuah karya? Ataukah kesimpulan mengenai pesan yang terkandung dalam sebuah karya diserahkan sepenuhnya kepada pembaca? Simaklah artikel yang kami sajikan dalam edisi ini untuk mengetahui jawabannya.

Menulis yang Bertanggung Jawab

Seorang penulis Kristen dituntut untuk bisa menghasilkan karya-karya terbaik untuk kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu, penting bagi penulis Kristen untuk bekerja lebih keras demi menghasilkan karya-karya terbaik tersebut. Dalam edisi kali ini, kami menyajikan tip-tip menulis dari C.S. Lewis, yang sangat berguna bagi para penulis Kristen untuk dapat menghasilkan karya-karya tulis terbaik. Kami juga menyajikan perjalanan hidup seorang penulis ternama, Francine Sandra Rivers, dan bagaimana karya-karyanya menjadi sebuah karya yang tidak hanya membangun, tapi juga sangat diminati masyarakat luas. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan informasi tentang komunitas pembaca dan pewarta Kristen, yang dapat menjadi wadah bagi Anda untuk semakin mengembangkan bakat Anda sebagai seorang penulis. Semoga sajian kami dapat menginspirasi Anda dalam menghasilkan karya tulis yang dapat memberkati sesama. Tuhan memberkati.

Hati Penulis Kristen

Shalom,

Dewasa ini, seni menulis merupakan sesuatu yang sangat disukai oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya tulisan-tulisan mulai dari novel, cerpen, artikel, dan masih banyak lagi. Kita juga mengenal nama-nama penulis, seperti Mary Higgis, J.K. Rowling, Stephen King, yang karya-karyanya banyak disukai oleh khalayak luas. Dalam artikel kali ini, kami menyajikan bagaimana para penulis Kristen menyajikan tulisan-tulisan yang menarik dan bermanfaat, serta dapat mempertahankan prinsip-prinsip kekristenan dalam hasil karya mereka. Kita juga akan belajar bagaimana menggunakan dan melafalkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kiranya tulisan ini bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca. Tuhan memberkati.

Redaksi Tamu e-Penulis,
Doni Kukuh Mandiri

Melayani Remaja dengan Literatur Kristiani

Shalom,

Setelah membaca edisi yang lalu, kami harap Sahabat dapat semakin mengenal kriteria bacaan remaja yang baik. Di edisi yang lalu, kami sudah membahas bahwa anak-anak remaja umumnya menyukai sesuatu yang menantang, ingin sekali mempelajari sesuatu yang baru, dan ingin dapat diakui ketika mereka mengerjakan sebuah proyek tertentu. Hal-hal inilah yang harus dapat dilihat oleh para penulis Kristen untuk dapat melayani para remaja dengan karya tulis.

Di edisi e-Penulis kali ini, kami menyajikan sebuah tip yang kami harap dapat membantu Sahabat e-Penulis dalam menghasilkan karya fiksi yang tidak hanya menarik bagi remaja, tetapi juga dapat menolong mereka mempelajari nilai-nilai kekristenan. Di kolom Tokoh Penulis, kami menghadirkan sosok Sir Walter Scott, seorang pujangga Inggris yang terkenal dengan puisi dan prosa-prosanya, yang banyak menyentuh petualangan-petualangan. Kiranya apa yang kami sajikan di edisi ini dapat semakin memperlengkapi Sahabat e-Penulis sekalian. Tetap semangat dalam berkarya! Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Menulis Literatur Kristen untuk Remaja (I)

Shalom!

Masa remaja adalah saat yang kritis dalam kehidupan semua orang. Pada masa itulah seseorang mulai berubah secara fisik dan mental. Secara fisik, seorang remaja laki-laki akan semakin terbentuk massa ototnya, suaranya akan berubah menjadi semakin berat, dan yang perempuan akan mulai mengalami siklus menstruasi dan lain sebagainya. Di balik itu semua, pikiran mereka juga berkembang. Seorang remaja mulai dapat memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak dan menjadi individu-individu yang idealis; mereka mulai mempertanyakan peraturan-peraturan di rumah, mempertanyakan otoritas, dan mempertanyakan apa yang selama ini diajarkan kepada mereka. Selain itu, mereka juga ingin tahu lebih banyak mengenai hal-hal yang menarik perhatian mereka, mereka mungkin juga akan mencoba hal-hal yang baru (entah hal yang baik seperti ikut dalam kegiatan bakti sosial atau melayani di gereja, maupun yang buruk seperti merokok dan mencoba minuman keras). Dalam tahap ini, remaja juga mulai mengenal kekuatan kolektivitas, maka tak heran jika anak-anak remaja suka sekali berkumpul dengan teman-temannya.

Menolong Anak Bertumbuh Melalui Tulisan

Shalom,

Salah satu jenis tulisan untuk anak Kristen adalah renungan Alkitab sehari-hari. Melalui renungan-renungan tersebut, penulis dapat menyampaikan kebenaran Alkitab yang dapat dicerna dengan mudah oleh anak. Dengan itu diharapkan anak dapat bertumbuh secara rohani dan mengaplikasikan firman Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun, tidak semua penulis tahu bagaimana cara untuk mulai menulis renungan Alkitab sehari-hari untuk anak. Untuk memulainya, kami mengajak Sahabat Penulis menyimak kolom Tip Menulis dalam e-Penulis 112 ini. Dapatkan wawasan baru yang dapat memberikan ide kepada Anda tentang bagaimana menulis renungan Alkitab untuk anak.

Jangan lewatkan pula informasi mengenai tokoh Simonetta Carr dan situs Christianchildrensauthor.com, yang dapat memberikan inspirasi ketika melayani Tuhan dalam bidang menulis. Selamat menyimak.

Redaksi Tamu e-Penulis,
Davida Welni Dana

Menulis Literatur Kristen untuk Anak (I)

Shalom!

Pernahkah Sahabat Penulis dengan sengaja mencari tahu, berapa banyak buku atau bahan literatur Kristen lainnya yang benar-benar membawa anak-anak ke dalam pengenalan akan Kristus Yesus dan pengajaran-Nya? Saat ini, dunia tengah membentuk generasi muda kita. Sejak masih anak-anak, berbagai macam media mengajarkan hal-hal yang sering kali bertentangan dengan pengajaran kekristenan. Yang menjadi pertanyaan, sebagai penulis-penulis Kristen, apakah tanggapan kita? Apa yang bisa kita lakukan? Sadarkah betapa besar tanggung jawab yang kita emban untuk generasi muda kita?

Jangan Lupa Aturan Pertama

Shalom!

"Untuk menjadi penulis yang baik, seseorang harus menjadi pembaca yang baik terlebih dahulu." Mungkin "peraturan pertama" ini sudah berulang kali dibahas atau menjadi salah satu poin dalam tip-tip untuk menjadi seorang penulis yang baik. Akan tetapi, ketika semakin diulang-ulang, kalimat ini semakin menyatakan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kalimat itu juga merangkum apa yang seseorang butuhkan untuk menjadi penulis yang baik: perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan keterampilan untuk merangkai kata-kata itu sedemikian rupa, agar pembacanya mengerti apa yang sedang disajikannya. Dengan banyak membaca, seseorang juga akan menjadi semakin sistematis -- sebuah kemampuan yang dapat membawa pembaca tulisannya memahami gambaran besar dari apa yang ditulisnya itu.

Genre, Bukan Kerangkeng Penulis

Shalom, Sahabat Penulis!

Ada seorang penulis muda yang berkata bahwa seorang penulis sebenarnya tidak memilih genre tulisannya, namun sebaliknya genre itulah yang "memilih" penulisnya. Jika direnungkan lebih dalam, mungkin kata-kata penulis muda itu ada benarnya, karena ketika seorang penulis menghasilkan sebuah karya, ia tidak memilih genre tulisannya, tetapi ia hanya menulis apa yang ada dalam hatinya. Genre adalah "rak buku" yang dibuat untuk mengategorikan karya-karya sastra berdasarkan strukturnya dan mempermudah masyarakat untuk mengenali serta mengapresiasi karya-karya sastra yang beredar. Namun demikian, batasan sebuah genre sebenarnya tidak membelenggu seorang penulis karena seorang penulis adalah pribadi yang bebas menulis apa yang ingin ditulisnya, lihatlah C.S. Lewis yang berhasil memukau pembacanya lewat serial fiksi Narnia yang ditulisnya, di lain kesempatan ia memberkati banyak orang lewat buku-buku teologinya yang dalam seperti Mere Christianity, ia pun menambah pengetahuan pembacanya lewat karya-karyanya yang bersifat akademis, atau melambungkan penikmat karyanya lewat kata-kata indah yang terangkai dalam puisi-puisi ciptaannya. Memang benar, genre seakan mengotak-ngotakkan karya sastra tetapi tidak menjadi kerangkeng yang dapat membatasi seorang penulis untuk mencipta.