Buku Sebagai Media Komunikasi
Media komunikasi terus berkembang. Apabila pada masa prasejarah orang-orang menuliskan apa yang ada dalam pikiran mereka pada lempengan batu, papirus, atau perkamen, pada masa modern saat ini orang-orang bisa menuliskannya di kertas/buku, bahkan media digital. Sebagai salah satu bentuk media komunikasi, buku menjadi media yang efektif untuk memberikan informasi. Sebagai contoh, buku pedoman. Buku ini berisi informasi dan petunjuk bagi pembaca untuk mengetahui sesuatu secara lengkap. Anda ingin memahami lebih jauh tentang buku pedoman? Silakan menyimaknya dalam kolom Artikel yang telah kami sajikan.
Menjadi Pelaku Bahasa Indonesia yang Baik
Jika pertanyaan "Siapakah yang bertanggung jawab melestarikan bahasa Indonesia?" diajukan ke masyarakat Indonesia, bisa diyakini bahwa sembilan puluh persen akan mengetahui jawabannya dengan benar. Ya, para penutur asli bahasa Indonesialah yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kelestarian bahasa Indonesia. Namun, kenyataannya, tanggung jawab itu belum sepenuhnya dipikul oleh segenap bangsa, seperti yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda. Bahkan, orang-orang yang bergelut dengan bahasa Indonesia sendiri pun masih banyak yang abai terhadap penggunaan bahasa Indonesia mereka dan terhadap kelestarian bahasa Indonesia. Sepertinya, bangsa Indonesia memang belum siap menghadapi hujan serangan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dalam kehidupan berbahasa mereka.
Pengembangan Bahasa Indonesia Melalui Media Pers
Pernahkah Anda berpikir apa peranan pers dalam pengembangan bahasa Indonesia? Sebagai media penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, dan radio (menurut KBBI), pers memiliki peran penting dalam pengembangan bahasa Indonesia. Sajian e-Penulis kali ini akan menyoroti lebih detail tentang hal ini. Mau tak mau, berita yang disebarkan melalui pers akan memberi pengaruh bagi setiap pembaca tentang pemakaian bahasa Indonesia dan perkembangannya.
Bahasa yang Beradaptasi
Laiknya organisme hidup, bahasa tidak hentinya berkembang dengan melahirkan istilah-istilah baru. Tumbuh dalam ekosistem teknologi yang semakin maju dan tumbuh pesat, bahasa dipaksa beradaptasi dengan memunculkan kosakata baru untuk memperkenalkan produk-produk teknologi. Kita mengenal kata "gawai" beberapa tahun lalu sebagai "pekerjaan" atau "perkakas", tetapi sekarang kita juga memakainya sebagai padanan dari "gadget". Ini hanya satu contoh kecil saja, masih ada bidang-bidang lain yang membutuhkan adaptasi bahasa oleh bahasa Indonesia. Meski mencampurkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, lebih banyak diterapkan oleh penutur bahasa Indonesia sekarang, bukan berarti menciptakan kosakata baru bahasa Indonesia menjadi tidak penting. Sebaliknya, kondisi ini seharusnya menantang para penutur bahasa Indonesia untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia.
Perkembangan Bahasa Melalui Pembentukan Istilah Baru
Semakin maju peradaban sebuah bangsa akan memengaruhi perkembangan bahasa yang dimilikinya untuk dapat menaikkan levelnya sebagai salah satu sarana komunikasi dunia. Sebagai contoh, perkembangan teknologi informasi di Indonesia ternyata cukup signifikan dalam membentuk sejumlah kosakata baru yang terkait dengan bidang tersebut, yang dalam 10 atau 15 tahun sebelumnya tidak kita kenal.
Mengambil Bagian Dalam Menggapai Cita-Cita Bangsa
"Mencerdaskan kehidupan bangsa" menjadi cita-cita luhur dari para pendiri bangsa ini, yang melintasi dimensi ruang, suku, agama, waktu, bahkan dinamika politik yang silih berganti. Namun, pada kenyataannya, masih banyak anak bangsa di negeri ini belum dapat mengecap manisnya arti kemerdekaan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengentasan kebodohan. Sebagai manusia yang telah mendapat pembebasan dari belenggu dosa 2000 tahun yang lalu, kita pun diberi mandat budaya dari Allah.
Kunci untuk Membuka Jendela Dunia
Kita pasti pernah mendengar ungkapan, "Buku adalah jendela dunia". Untuk membuka jendela tersebut, kita harus mempunyai kemampuan untuk membaca. Namun, sayangnya, di zaman yang sudah modern ini, masih ada beberapa orang yang belum bisa membaca (buta huruf). Mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca sehingga wawasan mereka menjadi sempit dan tidak bisa mengetahui banyak hal. Di Indonesia, sejak zaman Bung Karno, sudah ada usaha untuk memberantas masalah buta huruf ini. Namun, seiring berjalannya waktu, usaha ini mengalami kemunduran.
Mengenal Elemen Jurnalisme
Pada edisi sebelumnya, telah dibahas mengenai jurnalisme warga serta ciri-ciri bahasa jurnalistik. Kini, kita telah mengetahui bentuk jurnalisme yang saat ini berkembang sebagai respons terhadap perkembangan teknologi. Apakah ada dari Sahabat Penulis yang telah mulai mengaplikasikan jurnalisme warga di media sosial yang dimiliki?
ERA BARU JURNALISME
Selamat Tahun Baru, dan selamat berjumpa kembali dengan e-Penulis. Bagaimana liburan Sahabat Penulis? Semoga menyenangkan dan membuat Sahabat kembali bersemangat menyongsong dan menjalani tahun 2015 ini. Pada edisi awal tahun ini, e-Penulis mengambil topik Jurnalisme Sipil.