Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Realitas yang Luar biasa Menginspirasi Tulisan yang Hebat

Baru-baru ini, saya berbicara kepada sekelompok penulis. Waktu yang diberikan singkat, jadi saya hanya memberikan satu poin. Namun, satu poin ini, saya percaya, bersifat fundamental dan universal untuk semua tulisan otentik. Maksud saya dengan otentik, adalah tulisan yang tulus berniat untuk membawa pikiran dan hati penulis, dan yang bertujuan untuk mengomunikasi beberapa realitas yang lebih dari sekadar ekspresi diri – bahkan jika itu adalah fiksi atau catatan ceria untuk anak-anak Anda.

Ada asumsi besar di balik definisi dan keunggulan keotentikan itu. Salah satunya adalah bahwa ada hal semacam realitas objektif di luar ekspresi diri saya. Anda mungkin sangat sehat secara mental dan emosional sehingga ini tampak jelas bagi Anda. Akan tetapi, dunia modern tidak begitu sehat. Itu telah terbukti menjadi tanah yang subur untuk gagasan bahwa kita menciptakan realitas kita sendiri.

Apa yang Mengganggu Dunia Kita

Gambar: Alkitab dan menulis

Misalnya, dalam keputusan Mahkamah Agung tahun 1992 untuk Planned Parenthood vs. Casey, Hakim Anthony Kennedy menulis, "Inti dari kebebasan adalah hak untuk mendefinisikan konsep eksistensi, makna, alam semesta, dan misteri kehidupan manusia." Dengan kata lain, untuk bisa bebas, kita harus dibebaskan dari batasan realitas. Cara terbaik untuk mengusahakan pembebasan itu adalah dengan mendefinisikan kembali realitas sebagai apapun yang saya katakan. Hasil hari ini dari pandangan realitas mungkin paling baik diungkapkan dengan gagasan bahwa seorang anak tidak hanya dapat menentukan jenis kelaminnya sendiri, tetapi juga, seperti yang disarankan surat-surat baru-baru ini ke London Times, memilih menjadi panda, anjing, atau putri duyung – hal-hal yang mungkin pernah kita tertawakan, tetapi yang sekarang harus ditangisi.

Artinya, ribuan orang menulis tanpa rasa kewajiban bahwa tulisan mereka tidak hanya membawa pikiran dan perasaan mereka yang sebenarnya, tetapi juga mengomunikasikan realitas yang lebih dari sekadar ekspresi diri mereka. Saya menganggap tulisan seperti itu tidak otentik. Ini mungkin ekspresi nyata dari apa yang ada pada diri penulis, tetapi itu tidak nyata sebagai komunikasi realitas yang lebih besar dari preferensi belaka.

Jalan Sejati Keotentikan

Asumsi saya yang lain adalah bahwa alasan mengapa ada hal semacam realitas di luar ekspresi diri saya adalah karena Allah ada. Jika Allah ada, maka realitas terpenting di alam semesta ada di luar diri saya. Jika Dia menciptakan dunia, dan bekerja di dalamnya, maka pekerjaan dan jalan-Nya sangat penting secara objektif. Siapa Dia, apa yang telah Dia lakukan, dan apa yang Dia katakan lebih penting daripada apa yang saya pikirkan atau rasakan.

Asumsi lain adalah bahwa Allah telah berbicara. Alkitab adalah wahyu sejati tentang diri-Nya dan jalan-Nya, serta pikiran-Nya. Oleh karena itu, cara yang paling dapat diandalkan untuk menulis secara otentik adalah dengan tenggelam dalam realitas yang dikomunikasikan oleh Alkitab. Memang mungkin untuk melihat realitas dalam kitab Allah tentang alam, tetapi lebih dapat diandalkan untuk membaca kitab itu dengan petunjuk Kitab yang dirancang untuk menerangi alam dengan kebenaran yang diilhami.

Itulah beberapa asumsi yang melatarbelakangi poin yang saya buat pada acara pertemuan para penulis.

Bagaimana Membaca, Bagaimana Menulis

Jadi apa intinya? Saya akan menjelaskannya dengan membawa Anda ke dalam alur pemikiran saya yang muncul selama tiga tahun terakhir. Apa yang menjadi fokus saya terutama adalah bagaimana menarik keluar, dari tulisan-tulisan Alkitab, realitas yang coba dikomunikasikan oleh para penulis. Dan Anda dapat segera melihat bahwa yang harus kita lakukan hanyalah membalik proses berpikir ini untuk menemukan bagaimana memasukkan realitas ke dalam tulisan – bukan hanya mendapatkan maknanya.

Salah satu penekanan utama dari pemikiran dan tulisan saya selama tiga tahun terakhir adalah bahwa tujuan akhir dari membaca Alkitab bukanlah untuk menemukan struktur tata bahasa dan sintaksis. Ini bukan untuk menemukan definisi kata, atau kategori teologis, atau tema antar-kanonik dari teologi biblika. Semua itu adalah sarana, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah melalui tata bahasa, dan melalui sintaksis, dan melalui kata-kata, kategori, dan tema, untuk melihat dan menikmati, dan kemudian menunjukkan realitas yang para penulis coba komunikasikan.

Tujuan Utama Membaca

Untuk melihat dengan sungguh-sungguh dan menikmati dengan tepat dan untuk menunjukkan kepada dunia realitas yang coba dikomunikasikan oleh para penulis – itulah tujuan akhir dari membaca firman Tuhan. Jika kita melihat realitas dan tidak menikmatinya sesuai dengan nilainya – merasakan kengeriannya jika mengerikan, merasakan keindahannya jika indah – maka kita belum mencapai tujuan penulisan Alkitab.

Tujuannya adalah untuk melihat, menikmati, dan menunjukkan:

realitas Allah,

realitas Kristus,

realitas Roh Kudus,

dan inkarnasi,

dan apa yang terjadi di kayu salib dalam penebusan,

dan pekerjaan Roh Kudus dalam jiwa manusia,

dan realitas dosa, dan neraka, dan surga,

dan realitas iman dan harapan dan kasih,

dan kekuatan yang dibutuhkan untuk membangkitkan seseorang dari kematian rohani dan menciptakan hal-hal ini.

Tujuan akhir dari membaca Alkitab adalah untuk melihat dan menikmati serta menunjukkan realitas yang coba dikomunikasikan oleh para penulis.

Satu Poin untuk Penulis

Artinya, jika Anda membalik prosesnya, tujuan dari menulis adalah untuk mengomunikasikan realitas sehingga dapat dilihat dan dinikmati dan ditunjukkan oleh mereka yang membaca apa yang Anda tulis. Ini menyiratkan banyak hal, tetapi inilah yang saya berikan kepada para penulis: Lihatlah dengan sungguh-sungguh dan nikmatilah dengan tepat realitas yang ingin Anda tunjukkan melalui tulisan. Ini adalah satu poin saya.

Salomo Menyatakan poin itu

Untuk menegaskan hal ini, saya membiarkan Salomo dan John Owen berbicara untuk saya. Pertama, salah satu Amsal, dari Salomo:

Kiranya kasih dan kesetiaan tidak pernah meninggalkanmu;
Ikatlah mereka pada lehermu;
dan tuliskanlah semuanya itu pada loh hatimu.
(Amsal 3:3)

Dengan kata lain, sebelum Anda menulis tentang kasih yang teguh dan kesetiaan di atas kertas, atau di layar, tuliskanlah itu di dalam hati Anda. Dengan menuliskannya di hati Anda, Anda membuat realitas menjadi jelas bagi diri Anda sendiri. Dengan menuliskannya di hati Anda, Anda membuat realitas terasa di dalam diri Anda. Tulisan yang hebat adalah tentang realitas yang luar biasa – terlihat dengan jelas dan sangat terasa. Jangan menulisnya di layar Anda sampai Anda menulisnya di hati Anda.

John Owen Menyatakan poin itu

Tulisan yang hebat adalah tentang realitas yang luar biasa – terlihat dengan jelas, dan sangat terasa.

  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Sekarang, saya ingin agar John Owen yang menyimpulkan. Dia berbicara tentang hubungan antara realitas yang kita pegang dalam pikiran dan hati kita, di satu sisi, dan upaya untuk mengomunikasikannya kepada orang lain, di sisi lain. Inilah yang dia katakan, dengan poin utama yang berulang dicetak miring:

[Yang terpenting adalah] usaha yang tekun untuk memiliki kekuatan kebenaran yang diakui dan dipertahankan dalam hati kita, agar kita tidak memperebutkan gagasan, tetapi bahwa kita memiliki asosiasi praktis dalam jiwa kita sendiri. Ketika hati benar-benar dimasukkan ke dalam cetakan doktrin yang dipegang oleh pikiran – ketika bukti dan kebutuhan kebenaran tetap ada di dalam kita – ketika bukan arti kata-kata hanya ada di kepala kita, tetapi pemahaman tentang hal itu tetap ada di dalam diri hati kita – ketika kita memiliki persekutuan dengan Tuhan dalam doktrin yang kita perjuangkan – maka kita akan ditempatkan oleh kasih karunia Tuhan melawan semua serangan manusia. (John Owen, Works, XII, 52)

--Pemahaman tentang hal itu-- Saya suka ungkapan itu. Biarkan hal itu meresap. Sejumlah besar waktu dan usaha saya selama lima puluh tahun terakhir telah dihabiskan untuk mencoba mendapatkan "pemahaman tentang hal itu" sebelum saya mengatakan sesuatu di depan umum.

Realitas yang Luar biasa Memicu Tulisan yang Hebat

Ini, menurut saya, yang membuat John Owen menjadi penulis besar – meskipun secara gaya, bagi banyak orang dia tidak dapat diakses, yang merupakan masalah lain untuk hari lain. Akan tetapi, enam belas volume karyanya tidak akan dicetak 400 tahun setelah kelahirannya jika tidak ada kehebatan di sini. Dan, saya pikir kehebatannya terletak pada ini: Tulisan yang hebat adalah tentang realitas yang luar biasa – terlihat dengan jelas, dan sangat terasa.

Satu kutipan terakhir dari Owen – dia mengatakan ini tentang berkhotbah, tetapi ini berlaku untuk menulis. Saya akan mengganti kata -- menulis -- dan -- artikel -- di mana dia mengatakan -- berkhotbah -- dan -- khotbah.-

Seorang pria [menulis] bahwa [artikel] hanya bermanfaat bagi orang lain yang [menulis] sendiri dalam jiwanya. Dan, dia yang tidak makan dan mencerna dengan baik makanan yang dia sediakan bagi orang lain akan jarang sekali membuatnya jadi gurih bagi mereka; ya, dia tidak tahu bahwa makanan yang dia sediakan mungkin racun, kecuali dia benar-benar mencicipinya sendiri. Jika firman tidak tinggal dengan kekuatan di dalam kita, itu tidak akan tersampaikan dengan kekuatan dari kita. (Works, XVI, 76, penekanan ditambahkan)

Jadi, dengan Salomo dan John Owen, saya menutup dengan satu poin saya untuk para penulis: Lihatlah dengan sungguh-sungguh dan nikmatilah dengan tepat realitas yang ingin Anda tunjukkan melalui tulisan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/articles/great-reality-inspires-great-writing
Judul asli artikel : Great Reality Inspires Great Writing
Penulis artikel : John Piper

Komentar