Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Melihat Karya Pram

Kritik Sastra Indonesia Selama Ini Lebih Banyak Gosip

JAKARTA, KOMPAS - Kerap timbul permasalahan saat berbicara tentang Pramoedya Ananta Toer mengingat sosoknya merupakan ikon heroik. Namun, agar semangat Pramoedya tetap hidup dan tidak terlalu berjurang, terutama dengan kaum muda, sangat penting melihat Pramoedya lehih pada sisi karya sastranya saja.[block:views=similarterms-block_1]

Hal itu mengemuka dalam diskusi sastra bertajuk Peta Pram, Peta Indonesia: Di mana? yang diselenggarakan Bentara Budaya Jakarta, Bale Sastra Kecapi, dan Harian Kompas, Selasa (6/6).

Pramoedya dengan karya-karyanya menimbulkan polemik hangat. Termasuk tentang orientasi politik Pramoedya yang dianggap berhaluan kiri sehingga karya-karyanya sempat dilarang. Dia sendiri sempat belasan tahun menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Namun, tak sedikit yang nmenganggapnya sehagai sosok emansipatoris dan pembebas.

Sastrawan Goenawan Mohamad mengungkapkan, berbicara tentang Pramoedya kita akan terbentur problem lantaran sosoknya merupakan sebuah ikon yang mempunyai ambiguitasnya tersendiri. Dalam artian, semua dapat menafsirkan. Saat ini, Pramoedya sang pemilik otoritas atas teksnya telah meninggal dunia.

"Lalu apa yang akan kita kenang dari Pramoedya? Apakah ikon heroiknya atau karya sastranya? Permasalahan ini sangat kompleks karena Pramoedya cenderung hadir dalam karyanya sebagai subyek," ujarnya sambil mengingatkan, sangat penting menilai seseorang dari karyanya.

Problem kritik sastra Indonesia selama ini ialah selalu fokus pada orangnya bukan pada karyanya. Sebagai contoh, penyusunan angkatan pujangga berdasarkan penulisnya tidak karyanya. Para pengkritik terkadang juga tidak meriset karya sastra sehingga kritik tak lebih dari gosip atau omongan orang.

Pada kesempatan yang sama, pemikir Taufik Rahzen mengatakan, sulit bagi orang muda untuk melihat pertikaian di masa revolusi. "Bagi anak muda perjumpaan dengan Pramoedya dari sudut sastra," katanya.

Akan tetapi, ketika terjadi kemampetan ide dan kejenuhan, banyak yang kemudian terilhami oleh Pramoedya. Bukan dari sudut karyanya, melainkan dari apa yang dilakukan seorang Pramoedya. Sosoknya menjadi antitesis dari keseragaman yang muncul. Kontroversi dengan dunia politik membuat dia menjadi sangat eksotis.

"Yang perlu ialah menarik Pramoedya dalam realitas saat ini dan melepaskan diri dari kontroversi politik. Mencoba untuk melihat apa yang dapat diharapkan dari karya-karya Pram untuk masa depan," ujar Taufik.

Sastrawan Sitor Situmorang berpendapat, Pramoedya dan karyanya tetap relevan di masa kini. "Saya tetap bersikukuh melihat Pram dari karyanya. Pengaruh latar belakang dan minat pengarang memang tetap terlihat dalam karyanya, tetapi penilaian karyanya jangan disempitkan."

Goenawan Mohamad mengungkapkan, Pramoedya cenderung hadir dalam karyanya sebagai subyek dan membentuk dunia di luarnya. Lingkupan perasaan sang subyek menenggelamkan semua deskripsi indrawi. Realitas dibentuk dan didominasi oleh subyek secara penuh. Hal in menurut dia, terkait dengan pandangan Pramoedya sebagai seorang humanis. Pandangan itu meletakkan manusia sebagai pusat, dan memerdekakan manusia ke arah emansipasi dan pembebasan (INE)

Sumber : Kompas, Rabu 7 Juni 2006, Hal 13

Komentar