Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Kaya

Oleh SAMSUDIN BERLIAN

Kasihan, kan? Sejak pidato raya Presiden pertengahan Agustus lalu, orang bicara miskin melulu. Pastilah orang kaya sedih diabaikan begitu. Jadi mari bicara kaya, biar seimbang.
[block:views=similarterms-block_1]
Apa, sih, kaya itu? Kata kamus, kaya berarti punya banyak harta, ada banyak uang. Intisarinya adalah punya. Itu sebabnya orang kaya disebut pula orang berpunya, orang berada. Kalau ingin tahu anda orang kaya keberapa di dunia berdasarkan penghasilan, kunjungilah http://www.globalrichlist.com/.

Kabarnya kaya itu enak. Makin banyak harta, makin banyak pula segala yang bisa dibeli dengan uang. Hampir seluruh penduduk dunia mengejar kekayaan. Keuntungannya bukan hanya bisa menimang-nimang emas berlian di tangan di kamar tersembunyi di balik tembok tebal pagar tinggi jeruji besi, melainkan juga bisa memperoleh kenyamanan, pengaruh, popularitas, gelar, pacar cantik menarik tampan menawan, pangkat, bahkan nyawa orang lain sekali pun. Rangkaya pun merujuk bukan hanya pada orang berharta, tapi pada status sosial. Kaya dan kuasa berjalan bergandeng tangan bagai teman mesra sekali.

Dalam bahasa Inggris tak banyak beda. Rich dan kerabatnya (wealthy, well-off affluent, prosperous, loaded, moneyed, well-to-do) semua merujuk pada kepunyaan melimpah. Bahkan, makna sampingan rich, berlemak, untuk makanan, barangkali berkaitan dengan fakta bahwa dulu hanya orang kaya yang bisa menyantap makanan lemak (yaitu, enak) kapan saja dia mau, sedangkan orang miskin sehari-hari harus berpuas diri dengan makanan kurus kurang gizi.

Sejak baheula, kekayaan menimbulkan reaksi skizofrenis. Kalau menempel pada diri sendiri, ia bagus. Kalau lengket pada orang lain, buruk. Ini bukan sekadar akibat rasa loba dan dengki, tapi berdasarkan fakta bahwa mulai dari kemunculan budaya pertanian 10.000 tahun lalu sampai revolusi industri 200 tahun berselang, dasar segala kekayaan adalah tanah. Karena jumlah tanah tetap, jumlah kekayaan pun selalu punya batas tetap, yang tak terlalu tinggi. Akibatnya, apabila ada orang punya kekayaan lebih, otomatis akan ada orang yang berkekurangan. Dengan kata lain, kekayaan menciptakan kemiskinan; kekayaan besar menciptakan kemiskinan besar.

Itu sebabnya semua kebijaksanaan, filsafat, dan agama besar yang lahir dalam dunia pertanian menyatakan bahwa kekayaan berlebih-lebihan meski diperoleh dengan sah, halal, jujur adalah sebentuk ketidakadilan. Sejarah bahkan membuktikan bahwa manusia tak segan-segan membalikkan keadaan yang dianggapnya tak adil itu dengan perang: usaha merebut tanah orang lain dengan Lekerasan. Negeri yang menguasai tanah paling luas lalu menjadi paling kaya.

Tapi, tunggu dulu. Indonesia tak perlu buru-buru serbu kanan atas bawah agar jadi lebih kaya. Sekarang sudah tersedia jalan lebih canggih dan beradab: pembangunan.

Memasuki zaman industri, kekayaan cerai dari tanah. Konsekuensinya yang paling penting: batas kekayaan universal meningkat ke taraf yang demikian tinggi sehingga orang bisa menjadi kaya tanpa harus memiskinkan atau merebut tanah orang lain! Ungkapan yang tepat bukan lagi mengumpulkan kekayaan, yang berarti memisahkan orang lain dari kekayaannya, melainkan menciptakan kekayaan baru: menjadi kaya sambil membuat orang lain lebih kaya juga. Itulah intipati pembangunan. Itu yang sudah teriadi di negeri-negeri kaya yang sudah terbangun; banyak di antaranya hanya punya tanah secuil, tapi rakyatnya kaya makmur.

Pun kaya sudah tak persis identik dengan punya. Menurut Program Pembangunan PBB, pembangunan adalah prones memperluas pilihan dan meningkatkan kesejahteraan menyeluruh. Fokus bukan pada apa yang orang punya di luar dirinya, tetapi pada kebebasan dan kemampuannya dari dalam, yang berwujud dalam ketersediaan pilihan yang lebih banyak dalam hidup. Itu sebabnya orang yang memilih melepaskan seinua kekayaannya tidaklah miskin. Hanya orang yang tak punya pilihan selain terpaksa miskin itulah yang betul-betul miskin.

Ada negeri seperti Vietnam yang penduduknya tak punya uang banyak, tapi makanannya enak-enak dan murah. Atau seperti Sri Lanka yang cari uang susah, tapi rakyat berpendidikan semua. Penduduk kedua negeri ini pun berumur panjang-panjang. Ada pula negeri lain yang punya banyak uang tapi pilihan penduduknya akan pendidikan, makanan, layanan kesehatan, gaya kehidupan sangat terbatas dan separuh rakyat dewasanya tak diperbolehkan jalan-jalan dengan bebas. Siapa yang sebetulnya lebih kaya?

SAMSUDIN BERLIAN
Pengamat Bahasa

Sumber : Kompas, Jumat 08 September 2006, Hal 15

Komentar