Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Allah Menjadikan Anda Penulis

Undangan bagi Setiap Orang Kristen

Injil Kristen seringkali menjadikan kita semua penulis dalam beberapa cara, format, atau bentuk. Dari pesan teks, email, dan catatan tertulis, hingga buletin gereja, surat dukungan misionaris, blog, artikel, dan bahkan buku, orang Kristen sehari-hari membuat banyak tulisan – dan kemungkinan besar Anda juga.

Gambar: menulis

Kekristenan adalah iman yang berpusat pada firman. Allah kita menciptakan dunia melalui firman (Ibrani 11:3; sepuluh kali kitab Kejadian 1 memberitahu kita -- Tuhan berfirman-), dan seperti saat Dia berfirman, -Biarlah terang bercahaya,- demikianlah Dia berfirman dan iman kita menjadi ada (2 Korintus 4:6). Anak Allah sendiri disebut Firman-Nya (Yohanes 1:1). Dan iman kita ditopang oleh -- firman Kristus,- pesan Injil (Roma 10:13) dan pelayanan firman yang terus ada dalam kehidupan gereja.

Kekristenan bukanlah iman yang diam, tetapi iman yang bersuara keras, penuh kata-kata.

Menulis dan Salah

Menulis, formal atau pun informal, bukanlah hak istimewa dari beberapa tokoh Kristen yang berbakat, tetapi undangan bagi setiap orang percaya. Sama seperti kita tidak bisa tidak mengungkapkan kepada orang lain dengan kata-kata yang diucapkan kemuliaan tentang siapa Allah dan apa yang Dia perbuat, begitu juga kita sendiri memanfaatkan akun teknologi yang luar biasa yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan kata-kata tertulis. Secara umum, lebih banyak orang Kristen adalah penulis daripada yang mereka kira, bahkan jika itu hanya dalam korespondensi pribadi.

Apakah Anda berpikir tentang diri Anda sendiri sebagai seorang penulis atau tidak (dan secara keseluruhan, mungkin lebih baik jika lebih sedikit orang yang melakukannya!), saya ingin menyampaikan kepada Anda undangan Allah untuk menemukan cara bagaimana Anda menyatakan keagungan-Nya (1 Petrus 2:9) dengan kata-kata tertulis.

1. Orang Kristen menulis karena Allah telah menulis.

Allah telah berbicara, maka kita berbicara. Allah telah menulis, maka kita menulis – bukan untuk mengaburkan firman Tuhan tetapi untuk menerangi, menjelaskan, merayakan, dan memberikannya kepada orang lain. Paulus menulis kepada muridnya Timotius,

"Kamu sudah mengenal Kitab Suci yang sanggup memberimu hikmat kepada keselamatan melalui iman dalam Yesus Kristus. Semua Kitab Suci dinapasi oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, untuk mendidik dalam kebenaran. Dengan demikian, manusia milik Allah akan cakap dan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:15-17)

Kata-kata ini merupakan dorongan dan tantangan bagi tulisan Kristen. Dorongannya adalah bahwa -- Alkitab. . . bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, untuk mendidik dalam kebenaran.- Tuhan berbicara kepada umat-Nya agar mereka dapat mendengar, tetapi bukan agar kita menjadi pendengar saja. Allah bermaksud agar kita berbuat sesuatu dengan firman-Nya. Mereka bermanfaat untuk tindakan kita – untuk kata-kata kita sendiri.

Allah sedang berbicara dalam firman-Nya yang tertulis, dan jika kita mendengarkan, maka kita juga akan memiliki sesuatu untuk dikatakan, dan untuk ditulis. Tantangannya adalah untuk tetap ada pada yang digariskan dalam Firman. Jika perkataan pengajaran, teguran, koreksi, dan didikan kita terputus dari firman Tuhan, maka kita menjadi bagian dari masalah dan bukan solusi. Yang muncul sebagai pertanyaan umum bagi orang Kristen saat kita menulis, Apakah saya setia pada firman Tuhan dalam perkataan saya? Kita ingin menjadi bagian dari kelompok yang bahagia, hati nurani yang bersih bersama Rasul Paulus yang berkata,

"Sebab, kami tidak seperti banyak orang lain, yang menjual firman Allah. Sebaliknya, dalam Kristus kami berbicara di hadapan Allah dengan ketulusan, sebagaimana utusan-utusan Allah." (2 Korintus 2:17)

"Namun, kami menolak hal-hal tersembunyi yang memalukan, tidak berjalan dalam kelicikan, atau memalsukan firman Allah, melainkan dengan pernyataan kebenaran, kami menunjukkan diri kami sendiri kepada hati nurani setiap orang di hadapan Allah." (2 Korintus 4:2)

Baik pendeta atau orang awam, mengajar atau mengirim pesan teks, kita ingin melakukan yang terbaik untuk mempersembahkan diri kita "dengan layak di hadapan Alah sebagai pekerja yang tidak perlu malu, dan yang telah mengajarkan perkataan kebenaran dengan tepat." (2 Timotius 2:15).

2. Tulisan Kristen tidak selalu dipublikasikan.

Sebuah kenyataan penting yang harus kita ingat dengan jelas, terutama di masa ketika tidak pernah semudah ini untuk mempublikasikan kata-kata kita kepada dunia, adalah bahwa menulis tidak sama dengan mempublikasikan. Menulis di jurnal atau menulis catatan pribadi kepada pasangan atau anggota keluarga adalah satu hal, dan menulis untuk dilihat semua orang secara daring atau di tempat lain adalah hal lain.

Publikasi Kristen, baik dalam bentuk cetak atau di Web, adalah pelayanan publik. Mungkin Anda belum pernah berpikir seperti itu, karena tindakan menulis biasanya muncul sendiri, di luar sorotan, tetapi ketika kita mempublikasikan apa yang telah kita tulis, kita melakukan pelayanan Kristen publik. Itu adalah panggilan untuk dijalani dengan sukacita yang tulus.

3. Publikasi Kristen melayani orang lain, bukan diri sendiri.

Publikasi Kristen pada dasarnya berbeda dari jurnal pribadi. Seringkali tulisan jurnal yang baik, jika tidak hanya, sebagian besar adalah untuk diri Anda sendiri. Akan tetapi, jenis tulisan lain, dan terutama publikasi, bukan untuk ekspresi diri belaka, tetapi untuk melayani.

Tulisan Kristen, dalam pengertian ini, memiliki semangat 2 Korintus 4:5: "Sebab, kami tidak memberitakan tentang diri kami sendiri, melainkan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan diri kami sebagai pelayan-pelayanmu karena Yesus." Tuhan menghembuskan firman-Nya untuk kita dalam Kitab Suci agar kita dapat -- diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik- (2 Timotius 3:17).

Menulis yang bersifat Kristen – baik secara pribadi kepada teman dan keluarga, atau secara publik daring atau dalam bentuk cetak – memiliki tujuan. Firman Tuhan dalam Kitab Suci memperlengkapi kita untuk perbuatan baik dalam pelayanan kasih kepada sesama. Tulisan Kristen bukan hanya publisitas eksistensial, tetapi adalah tindakan kasih. Ini bukan jurnal pribadi yang dipublikasikan untuk memenangkan simpati dan kekaguman untuk diri kita sendiri, tetapi pengorbanan kasih – semacam mati untuk diri sendiri – menulis bukan hanya dengan cara menulis yang kita inginkan sendiri, tetapi menulis sedemikian rupa sehingga orang lain dibantu demi Yesus.

4. Tulisan yang membosankan berbohong tentang Allah.

Tulisan Kristen bukan hanya publisitas eksistensial, tetapi adalah tindakan kasih.

  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Ajakan untuk menulis bukanlah hal yang mudah. Menulis itu sendiri tidak sesederhana kedengarannya, dan tulisan Kristen (untuk memberi manfaat kepada orang lain, bukan hanya untuk mengekspresikan diri) bahkan lebih sulit. Sama seperti kita tidak boleh berbohong tentang Allah dan dunia-Nya secara teologis, hal yang sama juga berlaku secara emosional. Tulisan yang membosankan tentang Allah berdampingan dengan penghujatan. Ketika kita sendiri tidak benar-benar terpengaruh, dan karena itu kita tidak memengaruhi orang lain dengan tulisan membosankan tentang kebenaran terindah di alam semesta, kita berbohong tentang Allah. Jadi, ketika kita menulis sebagai orang Kristen, kita berusaha – dan kita terus-menerus berusaha! – untuk membuatnya menarik dan provokatif secara tepat untuk memperbarui kecenderungan/mengembalikan daya tarik.

Dan, saat kemampuan kita ada pada keadaan yang paling sulit, kita memiliki penghiburan dan jaminan yang luar biasa ini: kita tidak dibiarkan sendiri untuk membuat dari nol. Kita tidak harus berbicara dulu; memang kita tidak bisa. Allah telah berbicara lebih dulu. Orang Kristen yang mengidentifikasi dirinya sebagai "penulis" mungkin berbicara tentang menjadi "kreatif", tetapi kita tahu bahwa pada akhirnya bukan itu masalahnya. Lebih tepatnya, kita adalah "subkreatif", meminjam konsep dari Tolkien. Kita berupaya untuk menemukan pendekatan baru untuk merumuskan kebenaran kuno. Kita mengeluarkan energi untuk cara-cara baru untuk menceritakan kisah yang abadi.

5. Firman Tuhan tidak hanya membimbing kita, tetapi juga memberi makan jiwa kita.

Merupakan kabar baik bagi para penulis Kristen bahwa ketika kita kosong, kita memiliki tempat untuk keluar dari diri kita sendiri untuk diisi ulang: firman Tuhan sendiri.

Karakter Kitab Suci dalam tulisan kita bukan hanya untuk umum, untuk pembaca kita, tetapi pribadi, untuk jiwa kita sendiri. Firman Tuhan tidak hanya memberikan pelayanan tulisan pribadi atau yang dipublikasikan dengan bekerja melalui kita, tetapi mereka membuat -- milik Allah. . . diperlengkapi- (2 Timotius 3:17) dengan bekerja di dalam kita.

Firman Tuhan pertama-tama melayani kita. Sebelum firman Tuhan bekerja melalui kita sebagai penulis, mereka bekerja di dalam kita sebagai orang Kristen. Kemudian Roh Kudus memiliki cara-Nya untuk mendorong kita menaruh pena ke atas kertas, dan jari-jari ke atas keyboard, dalam berbagai cara, format, dan bentuk kita. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/interviews/has-god-called-me-to-write
Judul asli artikel : Has God Called Me to Write
Penulis artikel : John Piper

Komentar