Proses Kreatif Menulis Novel

Dirangkum oleh: Truly Almendo Pasaribu

Proses menulis novel sama seperti dengan proses memasak. Juru masak bermain-main dengan bahan pokok dan bumbu makanan yang terbaik untuk menjadikannya santapan lezat. Sedangkan dalam menulis novel, seorang penulis belajar membaurkan "bahan" dan "bumbu", agar tulisan enak dibaca. Jika koki belajar memadukan daging sapi, wortel, saus, kentang, garam, sup, lada hitam, dll., penulis belajar mencampur bahan pilihannya seperti filsafat, mitologi, sejarah, dan cerita-cerita rakyat. Penulis novel perlu mempersiapkan bahan-bahan pokoknya untuk menghasilkan karya yang melekat di hati pembacanya. Berikut ini beberapa ramuan dasar yang perlu penulis novel perhatikan.

1. Proses Kreatif Mengembangkan Tema

Setiap karya tulis, termasuk novel, perlu memiliki tema atau ide pokok. Dalam sebuah karya, tema terungkap saat cerita mengalir dan pembaca dapat menyimpulkan tema yang diangkat di akhir cerita. Tema begitu penting dalam sebuah novel, karena tema berperan sebagai benang penyatu antar setiap paragraf dan babnya. Setiap bagian dari tulisan perlu berhubungan dengan tema utama yang telah ditentukan.

Dalam sebuah novel, terkadang kita menemukan tema yang bercabang-cabang menjadi beberapa subtema. Contohnya dalam novel pendek karangan John Steinbeck, "The Pearl", yang mengangkat tema tentang pentingnya kepuasan hidup. Selain tema tentang pentingnya kepuasan hidup, dia juga mengangkat berbagai subtema seperti rasisme dan kemiskinan. Subtema-subtema ini memperkaya pemahaman pembaca mengenai tema utamanya. Penulis dapat mengembangkan tema dengan cara apa saja atau melalui teknik yang beragam. Penulis dapat menggunakan pemikiran, ucapan, serta tindakan karakter. Penulis juga bisa memanfaatkan setting dengan menggunakan simbol-simbol kebudayaan dan nilai-nilai hidup. Dalam hal ini, penulis hanya dibatasi oleh daya imajinasinya.

2. Kreatif Menciptakan Alur Cerita

Seorang arsitek tentu memunyai gambaran tentang gedung yang akan dibangunnya, demikian juga dengan penulis. Setelah mengetahui tema novel, pancinglah imajinasi Anda untuk menyusun plot atau alur cerita. Menurut Mochtar Lubis, cerita biasanya memunyai 5 bagian dasar:

  1. Situasi
  2. Keadaan pemicu konflik
  3. Keadaan mulai memuncak
  4. Klimaks
  5. Pemecahan dari persoalan

Alur sebuah cerita tentunya tergantung pada fantasi penulis. Tidak selamanya penulis harus mulai dengan langkah awal, yaitu melukiskan situasi. Penulis boleh memulai dengan menggambarkan keadaan tegang yang sedang memuncak. Cara ini dinamakan flashback (kilas balik), yaitu tokoh dalam cerita tersebut mengenang apa yang telah terjadi sebelum keadaan memuncak.

Alur yang kreatif membuat novel menarik, karena pembaca harus memutar otak kembali untuk mengaitkan antara konflik yang satu dengan konflik yang lain, antara penyebab konflik dengan penyelesaiannya, dan sebagainya. Akan tetapi, alur juga bisa membuat pembaca bingung, jika pengarang tidak pintar-pintar meramunya menjadi sesuatu yang menarik -- bisa dicerna.

3. Kreatif Menggambarkan Tokoh-Tokoh Novel

Penokohan merupakan salah satu faktor terpenting dalam sebuah cerita fiksi. Setiap karya fiksi otomatis terdapat tokoh di dalamnya. Terdapat dua jenis tokoh dalam setiap karya fiksi, yaitu tokoh utama (sentral) dan tokoh penunjang (periferal). Pembaca tentu ingin mengenal bagaimana watak dan rupa tokoh-tokoh dalam novel. Untuk melukiskan rupa, watak, dan pribadi pelakon, pengarang dapat menggunakan berbagai macam cara:

a. Penulis menggambarkan tokoh secara langsung.

Pengarang dapat menjelaskan tokoh secara langsung dengan menyebutkan ciri-ciri, sifat-sifat, status atau atribut-atribut tokoh dalam novel. Penulis dapat membuat daftar atribut yang singkat tentang tokoh novel. Kemudian dalam setiap adegan, penulis tinggal menambah atau mengurangi atribut tokoh sesuai dengan pengembangan tokoh. Penulis juga bisa memberikan keterangan langsung tentang perlengkapan yang dikenakan tokoh novel, contohnya pakaian yang dikenakannya.

b. Penulis menggambarkan tokoh dengan tidak langsung.

Penggambaran tokoh bisa dijelaskan secara tidak langsung oleh penulis. Penulis bisa melukiskan jalan pikiran pelakon dengan kreatif agar pembaca mengetahui watak pelakon itu. Penulis juga berkuasa untuk menentukan reaksi dan tindakan pelakon terhadap suatu kejadian. Apakah pelakon itu pendiam dan pengamat, atau orang yang spontan dan tangkas? Penulis memunyai ruang untuk membeberkan karakter tokoh dengan menggambarkan keadaan di sekitar tokoh itu. Misalnya dengan melukiskan keadaan dalam kamar, pembaca akan mendapat kesan apakah pelakon itu orang jorok, bersih, rajin, malas, dan sebagainya. Dialog juga sangat ampuh menyingkapkan watak tokoh sedikit demi sedikit, agar pembaca semakin penasaran.

4. Kreatif Menjadi Arsitek Setting Cerita

Saat menatap kertas kosong, penulis belajar betapa susahnya menjadi pencipta dunia. Penulis perlu melepaskan batas-batas fantasi mereka dan mengendalikan cuaca, kemacetan, tokoh, dan detail terkecil sekalipun. Penulis dapat menciptakan dunia yang sempurna atau dunia yang tidak terlalu sempurna. Setting yang Anda pakai bisa berupa tempat nyata, seperti kampung halaman Anda atau imajinasi Anda. Singkat kata, novel adalah dunia penulis yang dibatasi oleh imajinasi dan kemampuan meneliti mereka.

Entah nyata atau fiktif, yang penting setting yang penulis ciptakan haruslah logis. Jika setting Anda penuh dengan ketidakkonsistenan atau ketidakmungkinan, pembaca Anda tidak bisa "terlibat" ke dalam waktu dan tempat seperti itu. Ini tentunya bisa mengurangi nilai novel Anda. Anda perlu menciptakan setting yang memperkuat cerita Anda, karena Setting adalah tulang punggung novel Anda. Saat Anda memiliki setting sempurna dalam pikiran Anda, Anda perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan membagikan informasi itu kepada para pembaca Anda dengan detail agar mereka bisa memvisualisasikannya.

Anda kini telah memunyai keempat bahan dasar untuk memasak sebuah cerita. Selebihnya, gabungkan dan kembangkanlah bahan-bahan mentah itu, agar isinya tidak hanya enak tetapi juga bergizi bagi pembaca. Tambahkanlah bumbu-bumbu penyedap seperti lelucon, anekdot, ketegangan (suspense), dan sebagainya. Menulis novel adalah proses kreatif yang membutuhkan kerja keras dan mendebarkan.

Dirangkum dari:

Kurniawan, Eka. "Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak". Dalam

http://ekakurniawan.com/

Brown, Thomas. "Writing the Novel û Setting". Dalam http://www.suite101.com/

Adieb, Achmad. "Analisis Penokohan dan Alur pada Novel-novel Indonesia". Dalam http://achmadadieb.wordpress.com/

Lubis, Mochtar. "Teknik Mengarang". Jakarta: Kurnia Esa