Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Corrie Ten Boom

Diringkas oleh: Yudo

Keluarga Ten Boom adalah keluarga Kristen yang taat dan mendedikasikan hidup mereka untuk melayani sesama. Rumah mereka selalu terbuka bagi siapa pun yang memerlukan bantuan. Sudah berpuluh-puluh tahun keluarga ini aktif dalam melakukan kegiatan sosial di Haarlem, dan iman mereka menjadi inspirasi bagi komunitas di tempat tinggal mereka dan masyarakat luas.

Selama Perang Dunia II, rumah keluarga Ten Boom menjadi tempat pengungsian, tempat bersembunyi bagi para pelarian yang diburu oleh tentara Nazi. Dengan melindungi orang-orang inilah Casper beserta kedua anak perempuannya, Betsie dan Corrie, mempertaruhkan nyawa mereka. Perlawanan tanpa kekerasan semacam inilah yang menjadi gaya hidup keluarga Ten Boom dalam mengamalkan iman Kristen mereka. Iman itu jugalah yang mendorong mereka untuk menyembunyikan orang-orang Yahudi, para pelajar yang menentang Nazi, dan juga para pejuang pergerakan pembebasan Belanda.

Selama tahun 1943-1944, setidaknya ada 6-7 orang yang secara ilegal tinggal di rumah mereka; yaitu 4 orang Yahudi dan 2-3 orang anggota pergerakan pembebasan Belanda. Beberapa pengungsi lainnya biasanya tinggal juga bersama mereka sampai keluarga ini dapat menemukan tempat yang aman bagi para pengungsi ini. Corrie menjadi ketua dalam pergerakan bawah tanah di Haarlem. Corrie dan "Kelompok Beje" bertugas untuk menemui keluarga-keluarga Belanda yang cukup berani untuk menerima para pengungsi di rumah mereka, dan sebagian besar waktu yang dimilikinya adalah untuk merawat para pengungsi ini setelah mereka mendapat tempat untuk bersembunyi. Dengan cara-cara inilah keluarga Ten Boom dan sahabat--sahabat mereka menyelamatkan nyawa 800 orang Yahudi, dan melindungi nyawa para anggota pejuang pergerakan bawah tanah Belanda.

Pada 28 Februari 1944, keluarga ini dikhianati sehingga Gestapo (polisi rahasia Nazi) menggerebek rumah mereka. Gestapo bahkan membuat perangkap dan menunggu sampai seluruh penghuni rumah itu pulang sebelum menyerbu. Sore itu, sekitar 30 orang yang tinggal di rumah keluarga Ten Boom ditahan oleh Gestapo. Selain Casper, Corrie, dan Betsie, Willem, kakak laki-laki Corrie beserta istri dan anaknya yang sedang berkunjung ke rumah mereka pada hari itu juga ditahan oleh Gestapo dan dijebloskan ke penjara.

Meskipun Gesptapo menggeledah seluruh isi rumah mereka dengan teliti, mereka tidak dapat menemukan apa yang paling mereka cari. Mereka mencari orang-orang Yahudi dan para pejuang pembebasan Belanda yang diduga bersembunyi di sana, namun tidak dapat menemukan mereka sebab orang-orang itu bersembunyi di balik tembok palsu yang berada di kamar Corrie. Karena itulah, meski rumah keluarga Ten Boom dijaga ketat oleh tentara, tetapi pasukan pemberontak dapat membebaskan para pengungsi itu dalam kurang dari 47 jam kemudian.

Akan tetapi, karena pemerintah Nazi menemukan tempat persembunyian dan kartu ransum di rumah mereka, keluarga Ten Boom tetap dipenjara. Casper, yang saat itu berumur 84 tahun, meninggal setelah 10 hari ditahan di Penjara Scheveningen. Sementara itu, Corrie dan Betsie menghabiskan 10 bulan di 3 penjara yang berbeda. Penjara mereka yang terakhir adalah kamp konsentrasi di Ravensbruck yang terkenal karena kekejamannya itu. Di penjara yang terletak dekat dengan kota Berlin itu, Corrie dan Betsie mengalami kehidupan yang hampir tak tertahankan. Akan tetapi, kedua bersaudara ini tetap menjalani hidup mereka dengan membagikan kasih Kristus kepada orang-orang yang ditahan bersama mereka. Banyak tahanan wanita yang percaya kepada Kristus oleh karena kesaksian kedua bersaudara ini.

Pada umur 59 tahun, Betsie meninggal di penjara Ravensbruck. Namun, Corrie tetap bertahan sampai ia dibebaskan. Empat anggota keluarga Ten Boom meninggal demi mempertahankan komitmen keluarga mereka, dan Corrie menyadari bahwa hidupnya hanyalah karunia dari Tuhan. Karena itu, Corrie bertekad untuk membagikan apa yang ia pelajari di kamp konsentrasi itu bersama Betsie, yaitu bahwa "Tidak ada jurang yang terlalu dalam bagi kasih Tuhan" dan "Tuhanlah yang akan memberi kita kekuatan untuk mengampuni orang-orang yang memusuhi kita." Pada umur 53 tahun, Corrie memulai sebuah pelayanan yang melayani orang-orang di seluruh dunia. Dalam 33 tahun berikutnya, Corrie bahkan mengunjungi lebih dari 60 negara! Dalam setiap pelayanannya, Corrie selalu bersaksi tentang kasih Tuhan dan memberi semangat kepada orang-orang yang ditemuinya bahwa "Yesuslah Sang Pemenang."

Atas keberaniannya, Corrie mendapat banyak penghargaan. Ia mendapat gelar Ksatria dari Ratu Belanda. Selain itu, ia juga mendapat kehormatan untuk menanam sebuah pohon di area Garden of Righteousness di Holocaust Museum di Yerusalem. Pada awal 1970, Corrie menulis sebuah buku berjudul "The Hiding Place" dan langsung menjadi buku yang laris. Setelah itu, ia juga menulis beberapa buku inspiratif lainnya dan beberapa video untuk bahan pelayanan.

Pada 15 April 1983, perempuan yang saleh ini pun berpulang kepada Bapa. Ia meninggal tepat pada perayaan ulang tahunnya yang ke 91. Menurut adat Yahudi, hanya orang-orang yang diberkatilah yang diizinkan Tuhan untuk meninggal pada peringatan hari kelahirannya.

Kisah Corrie tertuang dalam buku yang ditulisnya, "The Hiding Place" dan "Tramp for the Lord". (t/Yudo)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Nama situs : New Release Tuesday.Com
Alamat URL : http://www.newreleasetuesday.com/
Judul asli artikel : Corrie Ten Boom
Penulis : --
Tanggal akses : 16 Mei 2013