Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Lebay Alias Lewah

Sudah lama juga rupanya, bahasa kadang tanpa disadari dipakai secara berlebihan. Beberapa contoh sederhana: “naik ke atas”, “turun ke bawah”, “berbisik pelan”, “berteriak keras-keras”. Padahal jelas, sudah cukup naik, turun, berbisik, atau berteriak saja.

Gambar: Lewah alias Lebay

Dahulu, kasus kebahasaan semacam itu, yaitu pemakaian bentuk lewah atau mubazir, mendapat stigma salah kaprah. Inilah, menurut pandangan dahulu, kesalahan subversif yang sudah sedemikian meluas dan teramat sering muncul sehingga tidak lagi terasa keliru. Dengan demikian, “gejala tidak sehat” ini perlu, bahkan mesti, diberantas atau setidaknya diluruskan -- seolah-olah dengan kasus lewah itu, bahasa kita jadi ripuk.

Perbincangan pendek ini bukan bermaksud mengulang soal usang tersebut sembari tidak ingin tergesa-gesa menganggap semua bentuk seperti itu salah, subversif, apalagi sampai tidak termaafkan.

Dua alasan mengapa kita tidak perlu ikut-ikutan memberi stigma salah secara sepihak. Pertama, sudah lama kita mengenal gaya bahasa yang umurnya saya kira setua bahasa, setua umat manusia. Gaya bahasa adalah siasat, muslihat dalam berbahasa demi mendapatkan efek tertentu. Ini amat lazim dalam ragam bahasa sastra, tetapi tidak khusus menjadi milik atau hak kalangan sastrawan. Keempat contoh kasus di atas bisa saja kita anggap sebagai gaya yang bermaksud mempertegas, mengeraskan kata kuncinya. Efek yang sampai kepada kita bukan saja kadar intensitas yang lebih besar, melainkan juga pemahaman yang lebih luas, lengkap, dan lebih jelas.

Kedua, benar belaka bahwa bentuk lewah dalam tanda kurung berikut dapat dibuang tanpa mengubah arti: naik (ke atas), turun (ke bawah), berbisik (pelan), berteriak (keras-keras). Dua kata kerja yang pertama, “naik” dan “turun”, sudah menunjukkan arah tertentu yang dapat dimengerti dengan jelas. Dalam hal itu, volume suara orang berbisik sudah pasti pelan, dan suara berteriak tentu keras. Saya bertanya, di mana persisnya letak kesalahan pemakaian bentuk-bentuk lewah dalam tanda kurung di atas? Lewah itu salah?

Dalam tata makna atau semantika, masing-masing dari keempat kata tadi, sudah saya katakan, menyertakan makna lain secara implisit dalam dirinya. Dan, kesertaan makna atau pengertian lain itu niscaya. Pada empat contoh di awal tulisan, naik sudah menyertakan pengertian ke atas, dan seterusnya. Ini agak mirip dengan kata “sering”, yang bermakna banyak kali atau berkali-kali, tetapi tidak jarang masih juga ditambah kata kali: sering kali. Atau, kata “duda”, yang menyertakan pengertian berjenis kelamin laki-laki (tetapi tidak pernah kita jumpai “duda lelaki”).

Bagi saya, lewah pada dua contoh terakhir di atas agak berbeda dari lewah pada empat contoh kasus sebelumnya. Dua bentuk lewah ini tidak punya alasan yang cukup untuk berada di sana. Dan, tidak kita rasakan ada efek tertentu dalam penerapan, yaitu pertanda bahwa bentuk pengucapan itu tergolong gaya bahasa. Lewah macam ini rasanya lebih tepat kita sebut lebay.

Diambil dari:
Judul buku : KOMPAS
Penulis : Eko Endarmoko, Penyusun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia
Terbit : Sabtu, 2 September 2017