Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Fakta-fakta Menarik dan Unik Mengenai CS Lewis

Penulis : Robert Trexler dan Jennifer Trafton

Meriahnya sambutan terhadap film "Chronicles of Narnia; the Lion, the Witch and the Wardrobe" telah semakin membuat nama C.S. Lewis (1898-1963) sebagai penulis kisah tersebut semakin banyak dibicarakan. Di kalangan penulis Kristen, C.S. Lewis barangkali bisa dibilang sebagai penulis Kristen paling terkenal di zaman modern ini, namun barangkali tak banyak orang yang mengetahui beberapa sisi unik dari hidup seorang C.S. Lewis. Berikut beberapa di antaranya.

Jago menulis berbagai genre
Clive Staples (juga biasa dipanggil Jack) Lewis barangkali adalah pengarang yang paling tenar, karyanya paling banyak dibaca dan paling sering disebut di dunia literatur Kristen modern ini. Sepanjang tahun 1931-1962 ia telah menuliskan 34 buku, belum termasuk yang diterbitkan setelah kematiannya. Bakat menulisnya juga bisa disimak dalam berbagai genre tulisan seperti puisi (Dymer), novel mitos (The Pilgrim"s Regress), teologi populer (Mere Christianity), filsafat (The Abolition of Man), fiksi luar angkasa (The Ransom Trilogy), dongeng anak-anak (The Chronicles of Narnia), legenda yang diceritakan kembali (Till We Have Faces), kritik sastra (The Discarded Image), surat (Letters to Malcolm) dan otobiografi (Surprised by Joy). Walau menulis dalam bermacam genre, pesan dan pokok pikiran Lewis selalu konsisten ada di setiap tulisannnya.

Komunitas
Sepanjang pertengahan tahun 1930-an sampai akhir 1940-an, setiap hari Selasa dan Kamis, Lewis selalu mengadakan pertemuan dengan sesama rekan penulisnya untuk minum bir dan mengobrol sambil mengkritisi tulisan masing-masing. Pertemuan yang dinamai "The Inklinks" itu melibatkan penulis-penulis seperti J.R.R. Tolkien, Charles Williams, dan saudara Lewis sendiri, Warnie. Dalam diarinya Warnie pernah menulis "Kami bukan orang-orang yang selalu saling memuji satu sama lain. Membacakan karya di depan kelompok The Inklinks membutuhkan keberanian tersendiri." Karya-karya yang turut ditempa oleh kritik dari para sahabat di Inklinks antara lain adalah The Screwtape Letters, Narnia, dan The Hobbit. "Namun selama keberadaan Lewis," seperti yang dikatakan Tolkien pada Clyde Kilby pada tahun 1965, "Saya rasa saya belum sempat menyelesaikan atau memperlihatkan The Lord of the Rings kepadanya."

Pikiran untuk hal-hal yang lebih tinggi
Owen Barfield, salah satu teman dekat Lewis, dimana ia mempersembahkan buku "The Allegory of Love" kepadanya adalah juga pengacaranya. Suatu saat Lewis menyuruh Barfield untuk mendirikan sebuah badan amal ("The Agape Fund") yang didanai oleh hasil penjualan bukunya. Diperkirakan 90 persen dari pendapatan Lewis disalurkan kepada badan amal itu. Kemurahan hatinya ini bertentangan dengan pendapat George Sayer yang mengatakan bahwa Lewis mewarisi sifat ayahnya yang "takut bangkrut", dan bahwa ayah dan anak itu "paling enggan menginvestasikan uangnya." Tukang kebun Lewis yaitu Fred Paxford (yang menjadi inspirasi karakter Puddlegum dalam buku The Silver Chair), mendapati bahwa dalam wasiatnya, Lewis hanya mewariskan uang senilai 100 pounds. "Hmm, memang sepertinya jumlah itu tak akan mampu membawa saya kemana-mana ya?" komentar Paxford. "Tuan Jack", lanjutnya "Dia memang tak pernah banyak memikirkan tentang uang. Pikirannya selalu untuk hal-hal yang lebih tinggi lagi."

Jarang bicara blak-blakan
Lewis menulis buku "Surprised by Joy" (1955) untuk menerangkan sebagian dari pengaruh masa kecilnya terhadap tulisan dan pertobatannya. Dokter pribadi sekaligus rekannya dalam komunitas Inklink, Robert E. Havard mengatakan bahwa buku itu seharusnya diberi judul "Yang tak terucapkan dari Jack" karena sebelumnya Lewis sangat jarang menceritakan tentang kisah hidupnya.

Panggil saya si "Pantat babi kecil"
Lewis sering memberi nama julukan. Dia dan saudaranya Warnie selalu memanggil satu sama lain "Smallpigiebotham atau SPB" (si pantat babi kecil) dan "Archpigiebotham atau APB" (si pantat babi lancip) karena mengingat pengasuh mereka yang sering memukul "pantat babi" mereka waktu kecil. Bahkan setelah kematian Lewis, Warnie masih memanggil dia dengan sebutan "SPB-ku terkasih." Mereka juga menjuluki Albert, ayah mereka dengan sebutan "Pudaitabird" karena aksen Irlandianya ketika menyebut kentang (potato). Tolkien disebut "Tollers," Ny. Moore disebut "Minto," dan dokter Lewis, Robert E. Havard biasa ia panggil "Humprey" namun kadang juga "The Useless Quack atau U.Q (pembual tak berguna)." Lewis juga menjuluki rekannya A.C. Harwood "The Lord of the Walks (Dewa Pejalan)" karena gaya berjalannya.

Novelis yang berkembang
Sebagai anak yang tumbuh di Belfast, Irlandia, ketika hari hujan Lewis dan Warnie menghabiskan banyak waktunya di dalam rumah untuk mengarang-ngarang cerita. "Jacks" atau "Jack", sebagaimana ia menyebut dirinya sendiri sejak usia 3 tahun, menggambar untuk membuat ilustrasi cerita tentang hewan-hewan yang bisa bicara, yang idenya banyak diambil dari cerita-cerita karya Beatrix Potter, Kenneth Graham dan kisah-kisah kepahlawanan para ksatria. Cerita- ceritanya kelak menjadi bagian dari imajinasi yang lebih luas dari saudaranya tentang dunia "Boxen." Dialog-dialog antar karakter cerita mereka biasanya memuat pembicaraan orang dewasa yang sering mereka dengar -- biasanya tentang politik. Lewis pernah menulis mengenai perbandingan kisah-kisah masa kanak-kanaknya tersebut dengan cerita Narnia: "Kisah "Animal Land" tidak ada hubungannya dengan Narnia selain kesamaan adanya hewan yang bertingkah seperti manusia. Kisah Animal Land, dengan segala kelebihan kekurangannya, tidak banyak memberikan rasa ketakjuban." Walau demikian, dia juga berkomentar bahwa "Dengan menciptakan dan mengarang Animal Land, saya sedang melatih diri untuk menjadi novelis."

Menggambar Narnia
Lewis sebenarnya ingin menggambar sendiri ilustrasi dalam buku Narnia, namun ia kemudian memutuskan bahwa sepertinya ia tak punya cukup kemampuan dan waktu untuk melakukannya. Karenanya, ia memilih seorang seniman muda, Pauline Baynes, yang juga telah menggambar ilustrasi untuk kisah "Farmer Giles of Ham" karangan J.R.R. Tolkien pada tahun 1948. Lewis tak pernah benar-benar puas dengan cara Baynes menggambar anak-anak dan binatang, walaupun ia tetap memuji bagian yang memang layak dipuji. "Dia tak bisa menggambar singa," katanya pada George Sayer, "namun dia sangatlah baik, cantik dan sensitif sehingga saya tak tega mengatakan hal ini kepadanya." Ketika "The Last Battle" memenangkan penghargaan Carnegie untuk kategori buku anak-anak terbaik di tahun 1956, Baynes menulis surat pada Lewis untuk menyelamatinya. Dan Lewis menjawab, "Bukankah ini penghargaan untuk kita berdua?"

Lewis dan gedung bioskop
Pada tahun 1933, Lewis menulis surat untuk temannya Arthur Greeves: "Kau akan terkejut kalau mendengar bahwa aku mau pergi ke bioskop lagi! Jangan takut, ini tak akan menjadi satu kebiasaan." Di luar keberatannya dengan bioskop, ia memang kadang-kadang masih pergi ke sana. Film King Kong menimbulkan beragam reaksi: "Saya rasa sebagian dari film itu (terutama ketika para penduduk asli memberi sambutan setelah ia merusak jembatan) sangatlah menakjubkan," komentarnya pada kawannya yang menulis cerita itu, "namun bagian ketika di New York itu tidak saya sukai."

Apologetis dan evangelis
Pada tahun 1955, C.S. Lewis diundang untuk bertemu Billy Graham, yang memimpin sebuah misi yang disponsori oleh Cambridge Inter- Collegiate Christian Union. Graham mengenang pertemuan itu dengan mengatakan: "Saya merasa bahwa dia bukan hanya sosok yang pintar dan ceria namun juga lembut dan penuh syukur; dia terlihat sangat tertarik dengan pertemuan (misi) kami. "Anda tahu," katanya saat kami akan berpisah, "Anda mungkin banyak dikritik, namun saya belum pernah melihat ada di antara kritikus itu yang benar-benar mengenal Anda secara pribadi"."

Penggemar bertemu penggemar
Ketika Lewis mengirimkan naskah "The Allegory of Love" ke penerbit Oxford"s Clarendon Press, naskah itu diberikan kepada Charles Williams untuk dianalisa. Waktu itu Lewis dan Williams masih belum mengenal satu sama lain, namun Lewis baru saja membaca novel Williams "The Place of the Lion." Williams sedang menuliskan surat pada Lewis ketika ia menerima surat dari Lewis yang memuji novelnya. Surat Williams pada Lewis sendiri mengatakan bahwa Allegory of Love "praktis adalah satu-satunya karya sejak masa Dante yang mampu menunjukkan pemahaman yang menyeluruh tentang makna tak biasa dari cinta dan agama."

Melintasi perbedaan
Banyak orang yang membaca buku pertama Lewis setelah bertobat "The Pilgrim"s Regress", mengira bahwa ia adalah seorang Katolik, apalagi kenyataannya edisi kedua buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit Katolik. Lewis juga menyatakan pada tahun 1940 bahwa "2 orang (Dom Bede Griffiths dan George Sayer) karena pengaruh saya juga bertobat menjadi Katolik!" Popularitas dan pengaruh yang ia miliki di antara orang Katolik juga tetap muncul hingga kini. Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan bahwa "The Four Loves" adalah salah satu buku favoritnya.

Penyair dari Oxford
Sampai usia 30-an, Lewis berkeinginan menjadi penyair. Berlawanan dengan munculnya arus penyair-penyair modernis seperti T.S. Elliot, Lewis memilih menulis puisi-puisinya dengan gaya campuran. Tulisannya dalam "Till We Have Faces" yang menceritakan ulang legenda Cupid dan Psyche dimulai dengan gaya penulisan puisi sebelum lama kelamaan berubah membawa kesan sebagai novel.

Bukan sebuah perumpamaan namun "sebuah misal"
Tolkien tidak begitu menyukai sebagian kisah Narnia karena ia merasa bahwa makna kekristenannya terlalu jelas, namun Lewis bersikeras bahwa ia tidak sedang menulis perumpamaan dalam arti kata yang kaku. Dalam suratnya, Lewis menjelaskan bahwa Aslan tidak dimaksudkan untuk "mewakili" karakter Yesus dalam arti sederhana: "Mari kita bayangkan seandainya ada dunia seperti Narnia, bahwa Anak Allah, yang menjadi manusia di dunia, kemudian menjadi singa di sana, bayangkan apa yang akan terjadi kemudian."

Bahan diterjemahkan oleh Ary dari sumber:
Situs : http://www.christianitytoday.com/ch/2005/004/2.02.html
Penulis : Robert Trexler dan Jennifer Trafton