Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Yang Perlu Dipikirkan dalam Membentuk Sebuah Komunitas

Penulis : Cahya Sutomo*)
Sebenarnya yang sulit bukan masalah bagaimana cara membentuknya, namun yang lebih penting adalah bagaimana cara memelihara komunitas itu agar tetap hidup dan juga berkembang. Namun karena perencanaan yang matang adalah salah satu syarat agar komunitas yang ingin Anda bentuk tetap langgeng dan bahkan berkembang. Maka, kita perlu memikirkan dan melakukan beberapa hal di bawah ini terlebih dulu.[block:views=similarterms-block_1]

  • Mengumpulkan anggota yang antusias dan benar-benar bisa diandalkan.
    Namanya juga komunitas, peran anggota jelas faktor terpenting. Setelah memiliki beberapa anggota yang juga merupakan pendirinya. Apa pertimbangan yang biasa dipakai untuk melakukan rekrutmen anggota awal, alias anggota generasi pertama namun tidak terlibat dalam hal menyusun konsep dan rencana tentang visi, misi atau bagaimana komunitas itu akan bergerak? Yang biasa dilakukan adalah memakai prinsip pertemanan. Mengundang teman atau kenalan para pendiri komunitas tersebut. Memang, di satu sisi, pada awalnya, para teman atau kenalan itu biasanya akan mau mengikuti kegiatan komunitas tersebut. Namun, seringkali hal tersebut terjadi semata karena rasa sungkan. Jika kondisinya seperti itu, paling tidak ada dua skenario risiko yang mungkin bisa terjadi. Pertama, setelah mulai terlihat ada anggota-anggota generasi kedua, ketiga, dst. maka para kenalan tersebut seringkali mulai tidak aktif berpartisipasi lagi. Satu orang masuk, satu anggota keluar. Kedua, adalah kemungkinan bahwa komunitas tersebut kemudian menjadi semacam ajang temu teman yang mirip arisan saja. Para kenalan yang sebenarnya tidak begitu tertarik pada visi dan misi komunitas tersebut bisa jadi memandang komunitas itu sebagai sebuah wadah untuk temu kangen saja. Topik yang dibahas pun sering melenceng atau tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan komunitas. Yakinlah kalau teman-teman atau nama-nama lain yang Anda ajak untuk bergabung benar-benar memiliki minat yang sama dengan bidang yang ditekuni komunitas tersebut. Pastikan juga ia dapat meluangkan waktu dan tenaganya untuk komunitas.
  • Menentukan media yang sesuai dengan kondisi dan tujuan
    Berbicara soal komunitas kini tentu saja sudah tidak lagi terbatas pada komunitas tatap muka saja. Keberadaan internet telah memunculkan paradigma baru, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bahkan tak jarang sebuah komunitas menggunakan kedua metode itu. Metode tatap muka tentu mensyaratkan adanya tempat dimana pertemuan bisa diadakan, lingkup tempat tinggal anggota yang terbatas, perencanaan kegiatan yang lebih memerlukan banyak persiapan (termasuk kegiatan yang mungkin tidak berkaitan secara langsung, misalnya : ramah tamah, makan-makan, dsb). Namun kelebihannya adalah biasanya keputusan yang diambil akan lebih cepat, interaksi lebih efektif dan kedekatan antar anggota lebih erat. Sedangkan membuat komunitas dengan memanfaatkan internet seperti membuat milis, forum diskusi, ruang chat, situs atau blog pastinya lebih murah, lingkup anggota lebih luas, diskusi biasanya lebih langsung ke sasaran. Tapi beberapa kelemahannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan atau tindakan seringkali lebih lama (karena frekuensi mengakses internet tiap orang berbeda-beda, dan kemungkinan pembicaraan di luar topik juga lebih besar), pembicaraan juga bisa jadi terjebak menjadi wacana belaka, serta kedekatan antar anggota bisa jadi kurang mengingat pengenalan hanya terbatas pada identitas di dunia maya yang bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan, dsb. Perlu juga melihat kondisi umum dari para anggota, dari segi mobilitas, latar belakang pendidikan, usia, dll. Pertimbangkan juga apakah tujuan komunitas tersebut memang ingin bersifat global ataupun diawali dari lokal dulu.
  • Merencanakan program dan menyiapkan sumber dayanya
    Jangan membuat sesuatu hanya berdasarkan semangat belaka. Jangan memiliki pikiran bahwa ide-ide akan muncul seiring dengan perkembangan yang ada dan jangan bergantung pada orang lain. Rencanakan dan diskusikan terlebih dulu dengan rekan-rekan pendiri yang lain. Merencanakan program perlu untuk menghindari komunitas yang akan dibentuk menjadi sebuah wadah berkumpul untuk melakukan apa saja. Lebih baik lagi jika program yang disusun bukan hanya garis besarnya saja. Biasakan memiliki rencana cadangan dan yakinkan Anda memiliki cara untuk membuat program atau kegiatan tersebut mendapat sambutan baik dari banyak orang. Siapkan juga sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung kelangsungan program tersebut. Meski demikian, tetaplah fleksibel dan demokratis, jika nantinya dari para anggota ada berbagai usulan yang lebih disambut baik, jangan paksakan program yang telah Anda susun sebelumnya itu. Simpan saja program Anda itu untuk lain waktu.

Demikian beberapa poin yang harus dipikirkan sebelum membuat sebuah komunitas apapun. Tentu dalam kenyataannya mungkin akan ada pengembangan dan kebutuhan lain yang perlu dipikirkan, karena sekali lagi semuanya tergantung pada jenis komunitas apa yang ingin Anda buat. Akhir kata, selamat berkomunitas!
*) : Penulis adalah anggota dan pengamat beberapa milis penulisan, forum penulisan dan sempat bergabung di sebuah komunitas sastra mahasiswa

Comments

1

Terus terang, artikel di atas cukup penting untuk dibaca oleh mereka yang mau memulai komunitas maupun yang sedang kembang-kempis. Sayangnya, dari segi bahasa artikel di atas masih perlu diperbaiki di sana-sini. Contohnya saja rangkaian kalimat berikut.

"Setelah memiliki beberapa anggota yang juga merupakan pendirinya. Apa pertimbangan yang biasa dipakai untuk melakukan rekrutmen anggota awal, alias anggota generasi pertama namun tidak terlibat dalam hal menyusun konsep dan rencana tentang visi, misi atau bagaimana komunitas itu akan bergerak?"

Komentar