Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

William Shellabear: Penerjemah Alkitab

Pada tahun 1890 para misionaris di Singapura sangat memerlukan terjemahan baru Alkitab ke dalam bahasa Melayu. William Shellabear tampil dengan bakat istimewa sekaligus komitmen jangka panjang untuk mengerjakannya. Hasil akhirnya adalah sebuah Alkitab lengkap terakhir berbahasa Melayu yang dikerjakan oleh penerjemah tunggal.

Shellabear dididik sebagai seorang insinyur dan serdadu. Ia tiba di Singapura pada tahun 1885 untuk memimpin sebuah resimen tentara Melayu. Pada tahun 1890, atas dorongan Uskup James Thoburn, Shellabear meletakkan jabatannya dan kembali ke Inggris untuk mempelajari keterampilan cetak untuk percetakan Gereja Methodis. Pada tahun 1891, ia kembali ke Singapura dan segera mulai menerbitkan dan menerjemahkan literatur Kristen ke dalam bahasa Melayu. Karena memiliki dana serta peralatan cetak yang paling modern di kawasan itu, Shellabear pun menjadi anggota misi yang paling senior dan paling berkuasa secara politik.

Pada tahun 1891, Shellabear berhasil mencetak Injil Matius dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Latin. Percetakan tersebut juga mencetak Alkitab dalam pelbagai bahasa, termasuk bahasa Jawa, Bugis, Tionghoa, serta berbagai dialek Tionghoa dalam aksara Latin.

Pada bulan Oktober 1893, setelah kunjungan singkat ke Inggris untuk menengok istrinya yang sakit, Shellabear membawa pulang sebuah mesin cetak baru ke Singapura. Sekitar bulan Februari 1894, percetakan tersebut telah berhasil mencetak dan menjilid puluhan ribu Alkitab, almanak menurut penanggalan Masehi dan Hijriah, sejumlah besar buku teks sekolah, traktat, buku nyanyian pujian, dan buku-buku lainnya.

Sekitar tahun 1900, Shellabear merasa kecewa dengan posisinya sebagai ketua penatua misi dan kepala percetakan misi. Ia mendambakan lebih banyak waktu untuk menyendiri dengan pelbagai manuskrip dan kamus, dan meneruskan penerjemahan Injil. Untunglah sekitar tahun 1902 menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Shellabear, posisinya digantikan oleh William Cherry. Shellabear bisa melanjutkan visinya menerjemahkan Alkitab dengan pilihan kosakata yang sesederhana mungkin.

Pada awal tahun 1904, Shellabear bersama istri kedua dan keluarganya pindah ke Malaka. Di Malaka inilah Shellabear bertemu dengan Sulaiman bin Muhammad Nur, seorang ahli syair Melayu dan sufi yang menjadi guru dan asistennya. Di bawah bimbingan Sulaiman, Shellabear dapat memperhalus kecakapannya atas peribahasa-peribahasa, lapisan-lapisan simbolisme dan alegori Melayu yang kaya. Ia mulai melihat hubungan erat antara kebudayaan, agama, dan bahasa yang harus menjadi sasaran setiap terjemahan Alkitab.

Selain Alkitab, Shellabear, bersama dengan Tan Cheng Poh, juga menerjemahkan Perjalanan sang Peziarah karya John Bunyan ke dalam bahasa Melayu Baba, yaitu bahasa Melayu khas dari komunitas Tionghoa di Selat Malaka yang menurut Shellabear merupakan sebuah bahasa yang benar-benar unik. Pada tahun 1909 Shellabear dan teman-teman Tionghoanya merampungkan sebuah adaptasi Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu Baba; hal ini menandai akhir dari berbagai upaya penerjemahan Perjanjian Baru di Malaya dalam kurun waktu hampir selama 20 tahun

Sekitar tahun 1909 bagian terbesar terjemahan Alkitab sudah rampung. Karena keluarganya menetap di Amerika Serikat, Shellabear hidup sendirian. Akhirnya pada tahun 1912, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diterbitkan dalam huruf Jawi; sedangkan Perjanjian Baru dalam aksara Latin.

Sejak tahun 1923 ia menjadi promotor dan katalisator dalam sebuah upaya menghasilkan satu Alkitab "bersama" untuk digunakan di kalangan para penutur bahasa Melayu baik di Indonsia maupun di Malaya. Lembaga-lembaga Alkitab yang sering kali bersaing untuk memproduksi Alkitab Melayu akhirnya bersatu berkat desakan Shellabear dan membentuk di Hindia Timur Belanda guna mengerjakan suatu terjemahan bersama berdasarkan karya Shellabear dan Cornelius Klinkert yang sudah ada pada waktu itu. Pengerjaan proyek-proyek ini berlangsung mulai dari tahun 1924 hingga akhir tahun 1933. Proyek-proyek tersebut akhirnya diterbitkan per bagian dalam aksara Jawi.

Dalam banyak hal buku-buku Alkitab dalam bentuk syair ini mencerminkan jenis penerjemahan yang diperjuangkan Shellabear. Buku-buku tersebut melampaui kepedulian mengenai ketepatan dan idiom linguistik agar Yesus bisa sepenuhnya menjadi bagian dari dunia Melayu. Shellabear meninggal dunia pada tahun 1947 dalam usia 84 tahun. Karya-karyanya yang lain dicetak ulang di Malaya sampai tahun 1957. Alkitab dalam aksara Jawi dicetak ulang oleh Lembaga Alkitab hingga tahun 1971 di Singapura. Perkembangan Lembaga Alkitab Malaysia dan keputusan pada tahun 1980-an untuk menciptakan versi bahasa Melayu modern untuk seluruh Alkitab membuahkan hasil pada tahun 1996 berupa penerbitan sebuah Alkitab lengkap dalam bahasa Melayu modern. Penjualan Alkitab tersebut yang jauh lebih banyak dari seluruh jumlah cetakan dari edisi-edisi sebelumnya menunjukkan bahwa visi Shellabear setengah abad setelah kematiannya ternyata terus dijaga oleh Tuhan.

Diringkas oleh: Truly Almendo Pasaribu

Diringkas dari:

Judul buku : Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia
Penyunting : Henri Chambert-Loir
Judul artikel : William Shellabear dan Alkitab Terjemahannya
Penulis : Robert A. Hunt
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Halaman : 1057 -- 1064