Variasi Tinggi-Rendah Bahasa

Sdr. Mantoro Putro, menanyakan parameter yang menentukan bahasa variasi rendah dan variasi tinggi. Pertama, perlu dijelaskan bahwa pertanyaan ini bertalian sangat erat dengan pemakaian bahasa dalam situasi diglosik. Masyarakat diglosik adalah masyarakat yang di dalamnya terdapat perbedaan fungsi dan peran bahasa sesuai konteks sosialnya. Lazimnya, dalam masyarakat diglosik terdapat pembedaan peran dan fungsi bahasa variasi tinggi dan rendah dari satu bahasa yang sama. Misalnya, dalam bahasa Jawa ada bahasa Jawa Krama dan Ngoko. Dalam bahasa kita, ada bahasa Indonesia baku dan tidak baku. Perbedaan fungsi dan peran bahasa seperti inilah yang merupakan ukuran terpenting di dalam masyarakat diglosik.

Bahasa variasi tinggi hanya digunakan dalam situasi formal, sedangkan bahasa variasi rendah digunakan dalam situasi santai. Variasi bahasa tinggi-rendah hanya tepat digunakan apabila sesuai dengan peran dan fungsinya. Pemakaian yang tidak sesuai justru menyebabkan penutur dianggap orang yang tidak fasih berbahasa. Tidak jarang bahkan orang itu barangkali dianggap orang yang tidak mengerti tata cara berbahasa. Orang Jawa mengatakannya "ora bisa basa", artinya tidak dapat memakai bahasa sesuai konteks situasinya.

Selain parameter peran dan fungsi, variasi bahasa itu juga ditentukan oleh cara pemerolehannya. Bahasa variasi tinggi hanya diperoleh lewat pembelajaran formal. Sementara bahasa variasi rendah cukup diperoleh dari lingkungan dan percakapan keseharian. Orang yang fasih menjadi pembawa acara lazimnya adalah orang yang benar-benar terpelajar. Artinya, proses pembelajaran bahasa secara formal, baik lewat bangku kuliah maupun lewat buku-buku referensi standar telah dia lakukan.

Parameter prestise juga menjadi salah satu penentu hadirnya kedua variasi bahasa itu. Lazimnya, bahasa dalam variasi tinggi lebih berprestise daripada bahasa dalam variasi rendah. Di dalam masyarakat, mereka yang dapat berbahasa dalam variasi tinggi cenderung lebih dihormati, dipercaya, dan diberi kesempatan yang lebih utama. Misalnya dalam upacara pernikahan, mereka biasanya diminta menjadi pembawa acara, pemberi sambutan, pemberi nasihat, dll.

Bahasa variasi tinggi lazimnya dibakukan. Standardisasi tersebut menentukan perkembangan lebih lanjut dari bahasa itu. Dengan standardisasi, pembelajaran cenderung mudah dilakukan. Kejelasan kaidah dan ketentuan pelafalan, struktur, leksikon, dll., akan mendukung kemudahan mempelajari bahasa. Bahasa dalam variasi rendah tidak dibakukan. Bahasa dalam variasi itu hanya dimungkinkan berkembang dalam lingkungannya, dan dipakai pada situasi pemakaian yang tertentu sifatnya. Sejumlah parameter penentu yang lain kiranya masih dapat ditemukan. Beberapa hal yang disebutkan di atas hanyalah parameter yang sifatnya sangat menonjol dan mendasar.

Diringkas dari:

Judul buku : Bulir-bulir Masalah Kebahasaindonesiaan Mutakhir
Penulis : R. Kujana Rahardi
Penerbit : Dioma, 2007
Halaman : 151 -- 154