Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Translasi Berdimensi Budaya

Oleh: Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.

Pernahkah Anda merasa sangat geli dan kemudian tertawa sendiri di dalam hati ketika mendengar seseorang menerjemahkan bentuk kebahasaan tertentu dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia?

Demikian sebaliknya, terjemahan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kemudian, translasi frasa, translasi kata, translasi ungkapan, dan translasi idiom dalam bahasa-bahasa daerah yang ada di bumi Nusantara.

Misalnya bila ada bentuk bahasa Inggris, "It"s raining cats and dogs", yang diterjemahkan secara statis menjadi "hujan anjing dan kucing". Padahal, seharusnya kita cukup mentranslasikan bentuk asing menjadi "Hujan amat deras" atau "Hujan deras sekali".

Demikian pula, untuk menyebut hujan rintik-rintik saat matahari belum terbenam, bahasa Jawa menggunakan istilah udan tekek, bahasa Bali memakai ujan raja, dan bahasa Manggarai menggunakan usang rewe. Namun, bahasa Indonesia cukup mengatakan "hujan rintik-rintik".

Beberapa contoh di atas sebenarnya jelas menunjukkan bahwa translasi bentuk kebahasaan tidak selamanya dapat dilakukan kata per kata, serba harafiah, senantiasa setia wujudnya, dan serba semantis.

Translasi bentuk-bentuk kebahasaan umumnya tidak bisa tidak harus menautkan pertimbangan konteks sosial budayanya, konteks situasi dan lingkungannya, serta tujuan dan maksud komunikasinya.

Tanpa mempertimbangan semuanya, niscaya terjemahan hanyalah hasil pencarian ekuivalensi yang sifatnya statis (static equivalence), bukan ekuivalensi bersifat dinamis (dynamic equivalence).

Kata "enak" dalam metafora sinestetia bahasa Indonesia seperti pada "badanku sedang tidak enak." tentu lucu bila serta-merta dialihbahasakan menjadi "my body is not delicious".

Bentuk idiomatis "sambil menyelam minum air" akan menjadi lucu pula bila diterjemahkan "while diving, drinking water". Dalam budaya bangsa Inggris, bentuk idiomatik demikian pasti akan menjadi "killing two birds with one stone".

Akhir-akhir ini, banyak pemakaian bentuk yang menurut penulis cenderung tidak tepat dan lucu, kendatipun mungkin pihak-pihak berotoritas telah melegitimasinya.

Ambillah contoh bentuk translasi "hadiah lawang" atau "hadiah pintu" sebagai penerjemahan bentuk dalam bahasa Inggris "door prize". Menurut penulis, bentuk asing akan lebih tepat dan masuk akal bila diterjemahkan "hadiah kedatangan" atau "hadiah kehadiran".

Kemudian, bentuk "rumah terbuka" sebagai translasi "open house". Dalam konteks Idul Fitri, bolehlah kita menyebutnya "silaturahmi terbuka". Namun, dalam konteks pameran di kampus-kampus perguruan tinggi, kiranya menjadi lebih tepat bila bentuk diterjemahkan "kampus terbuka".

Jadi, persis sama dengan yang disampaikan di atas, "it"s raining cats and dogs" tidak bisa serta-merta diterjemahkan secara statis menjadi "hujan kucing dan anjing". Kita harus menerjemahkan bentuk secara dinamis dan berdimensi budaya menjadi "hujan deras sekali" atau "hujan amat deras".

Penerjemahan bentuk-bentuk kebahasaan dalam bahasa apa pun, entah yang berupa ungkapan, idiom, peribahasa, seloka, maupun frasa-frasa lain yang bermuatan sosial budaya, niscaya tidak bisa dilakukan hanya secara biner dan dengan ekuivalensi yang statis semata.

Diambil dari:

Judul buku : Bahasa Kaya Bahasa Berwibawa:
    Bahasa Indonesia dalam Konteks Ekstrabahasa
Penerbit : Penerbit ANDI, Yogyakarta 2006
Halaman : 125 -- 127