Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Tentang Jurnal Harian

Dalam sebuah pelatihan membaca dan menulis, saya menggambarkan tingkat terendah menulis itu ada pada bentuk kegiatan menulis untuk mengisi buku/jurnal harian. Lantas, karena yang bertanya adalah seorang sarjana, saya menganggap penulisan karya ilmiah -- skripsi, contohnya -- sebagai bentuk kegiatan menulis yang sangat tinggi. Tentu, di tengah spektrum penulisan catatan harian di paling bawah dan penulisan karya ilmiah di paling atas, ada bentuk-bentuk kegiatan menulis yang sangat beragam dan banyak sekali coraknya.

Kali ini saya akan coba fokus pada tulisan bergaya catatan harian dan tulisan bergaya ilmiah. Namun, sebelum saya melanjutkan pembahasan soal ini -- yang saya harapkan nanti dapat melahirkan semacam kiat-kiat praktis menulis apa pun secara ringan-mengasyikkan -- saya ingin menegaskan di sini bawah kesungguhan yang diperlukan untuk membuat catatan harian yang bermanfaat dan bermakna setara dengan kesungguhan yang diperlukan untuk membuat karya ilmiah.

Menulis, bagi saya, hanya akan memberikan dampak positif bagi pelejitan potensi diri apabila ketika menulis -- sebagaimana pesan Stephen King -- kita tidak meremehkan apa yang ingin kita tulis, termasuk tidak menganggap enteng kegiatan menulis meskipun yang ditulis adalah hanya -- sekali lagi hanya -- hal sederhana sehari-hari. Karena catatan harian saya posisikan sebagai bentuk hasil kegiatan menulis yang kadarnya di paling bawah, saya berharap sekali -- pada saat ini -- orang yang mau menghasilkan karya tulis yang hebat, perlu merasakan lebih dahulu menulis dalam bentuk yang paling sederhana tersebut.

Penulisan catatan harian, selain dapat melibatkan diri terdalam secara total, juga dapat membantu seorang penulis untuk berlatih menulis secara "flow" (mengalir), sebagaimana istilah ini ditemukan oleh psikolog Mihaly Csziksentmihalyi. Jika merujuk ke psikolog lain, Daniel Goleman, maka menulis catatan harian itu bagaikan menulis dengan menggunakan kecerdasan emosi. Tulisan yang dihasilkan, dalam konteks seperti ini, tentu gayanya akan berkisah, akan menyentuh hati.

Jika sudah dapat menyentuh hati, apakah mungkin tulisan itu kemudian kaku, kering, dan monoton? Tentu tidak. Berlatih menulis catatan harian akan membuat gaya tulis seseorang berbentuk luwes, penuh warna, dan dapat menembus ruang-ruang batin terdalam seseorang yang membaca tulisan tersebut. Jadi, yang saya maksud dengan buku harian di sini adalah tempat berlatih bagi siapa saja yang ingin mampu menulis dengan memanfaatkan keluwesan pikiran dan ketegasan perasaan.

Merujuk ke catatan yang dibuat Natalie Goldberg bahwa "latihan menulis akan melunakkan hati dan pikiran", tentulah yang dimaksud hati di sini adalah hati yang cenderung keras -- keras kepala. Di hati setiap orang sesungguhnya tersimpan kelembutan dan kasih sayang. Hanya, terpaan keadaan yang keras -- angkara murka, kecewa, cemas, dan semacamnya -- dapat membuat hati itu keras. Nah, menulis -- saya tambahkan di sini menulis catatan harian -- niscaya dapat melunakkan hati.

Selain melunakkan hati, berlatih menulis catatan harian juga akan dapat meneguhkan dan menegaskan hati. Ini berarti, lewat menulis, hati yang katanya bersifat bolak-balik (ragu atau tidak dapat menetap di suatu titik) dapat terbantu untuk menegaskan bahwa ia berada di sini atau di sana. Menulis itu mengikat sehingga hati yang cenderung ke sana dan ke mari akan dikondisikan untuk menunjukkan jati dirinya.

Banyak sekali manfaat berlatih menulis dalam gaya catatan harian. Disebut catatan harian karena jenis tulisan ini memang harus ditulis setiap hari. Jika tidak setiap hari, namanya tentu bukan catatan harian. Jadi, usahakan untuk berlatih menulis setiap hari secara bebas, melibatkan diri secara total, dan -- jangan lupa -- setiap hari. Tulislah apa saja apabila agak enggan menulis. Tulislah satu kalimat saja apabila tidak mampu membuat lebih dari satu kalimat. Dan biarkan tulisan itu mengalir bebas tanpa koreksi.

Apabila Anda dapat berlatih menulis catatan harian, saya yakin, kelak, jika ingin menulis sesuatu dengan kadar yang lebih tinggi dari sekadar catatan harian, Anda akan dimudahkan mengalirkan bahan tulisan Anda. Tak sedikit para sarjana yang tidak nyaman ketika membuat karya ilmiah. Ada kemungkinan ketidaknyamanan itu dikarenakan belum pernah berlatih menulis bebas dalam bentuk catatan harian, dan ada kemungkinan kurangnya bahan bacaan yang dimasukkan ke dalam dirinya.

Kesulitan menulis tidak melulu bergantung pada apakah si penulis menguasai teknik menulis atau tidak. Benar, menulis itu sebuah keterampilan sehingga dibutuhkan teknik-teknik menulis. Penguasaan teknik menulis penting, namun ini tidak lantas secara otomatis dapat menjadikan seseorang lancar dan gampang menulis. Saya lebih cenderung mengunggulkan bahan bacaan dan kerapnya seseorang berlatih menulis secara bebas ketimbang mengunggulkan teknik menulis bagi seseorang yang ingin lancar dan gampang menulis.

Ketika seseorang bertanya kepada saya berkaitan dengan bagaimana menulis karya ilmiah secara "fun", saya bilang bahwa menulis karya ilmiah perlu dicicil. Artinya, sebagaimana membaca buku bisa dilakukan dengan cara "ngemil", menulis pun dapat dikumpulkan bahan tulisannya secara perlahan, sedikit demi sedikit. Dan pencicilan bahan tulisan itu juga termasuk bahan tulisan untuk menulis karya ilmiah. "Gunakan buku harian Anda untuk menabung secara pelan-pelan bahan skripsi Anda," demikian pesan saya jika ditanya soal menulis karya ilmiah secara "fun".

Saya kemudian menunjukkan buku karya Dr. Mulyadhi Kartanegara yang berjudul "Seni Mengukir Kata". Di buku ini, saya memberikan pengantar yang melukiskan bagaimana doktor filsafat ini, setiap kali ingin menulis karya ilmiahnya, tentu menumpahkan terlebih dahulu bahan tulisan untuk karya ilmiah itu di buku hariannya. Saya mengistilahkan teknik menulis yang digunakan sang doktor filsafat itu sebagai teknik menulis secara subjektif dahulu, baru kemudian menulis secara objektif.

Terbukti Pak Mulyadhi sangat produktif dalam menulis karya-karya ilmiah. Terbukti juga Pak Mulyadhi dapat menunjukkan kepada kalangan akademis bahwa menulis karya ilmiah yang berbobot itu dapat dijalankan secara ringan-mengasyikkan. Di dalam bukunya itu, kita akan menemukan bagaimana Pak Mulyadhi memberikan tip-tip praktis dalam menulis karya ilmiah sehingga hasil karya ilmiah itu dapat efektif dan juga kreatif. Efektif berarti bermanfaat dan kreatif berarti kaya warna, tidak monoton dan membosankan jika dibaca seseorang.

Jadi, siapkan catatan harian apabila Anda ingin menulis karya ilmiah seperti skripsi. Menulislah secara sedikit demi sedikit di catatan harian Anda tentang bahan-bahan yang relevan dengan skripsi Anda. Gunakan kata ganti orang pertama. Contohnya, "Saya ingin membuat skripsi dengan topik kemiskinan di desa. Apakah topik ini memberikan semangat tinggi kepada saya untuk segera membaca buku yang berkaitan dengannya? Apakah topik ini akan membuat saya dimudahkan dalam menuliskannya? Mengapa saya memilih topik ini, ya?"

Selamat memiliki catatan harian.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Mengikat Makna Sehari-Hari: Bagaimana Mengubah Beban Membaca dan Menulis Menjadi Kegiatan yang Ringan-Mengasyikkan
Penulis : Hernowo
Penerbit : MLC, Bandung 2005
Halaman : 149 -- 155