Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Susahnya Menjadi Penulis Pemula

Penulis : Firrar Utdirartatmo
Pernah sebuah lelucon menyatakan, suatu artikel dimuat di koran karena penulisnya benar-benar bermutu, alias (maaf) bermuka tua. Maksudnya, ia memang sudah dikenal karena sering menulis di banyak media, sehingga karyanya gampang dimuat. Mungkinkah salah satu syarat agar karya bisa dimuat di media adalah sudah berpengalaman menulis di media? Lalu bagaimana dengan para penulis muda yang belum pernah dimuat? Susah juga kan?

Pengalaman pribadi penulis sendiri, pernah sejumlah tulisan yang dikirimkan ke sejumlah harian dikembalikan oleh redaksi. Setelah berulang-ulang ditolak, lalu penulis tertarik membaca buku Kiat Menulis di Media karya Aqua Dwipayana (Penerbit Global Mahardika Netama). Buku tersebut kecil tetapi cukup komplit, selain memuat panduan teknis juga bermacam jurus non-teknis. Karena merasa belum cukup mampu melaksanakan tips-tips yang ada dalam buku tersebut (dan belum memiliki reputasi) untuk menulis di media seperti harian umum, lalu penulis mencoba mencari segmen yang lebih sempit, yaitu majalah dan tabloid yang khusus membahas topik yang dikuasai. Untungnya beberapa kali sempat dimuat.

Tetapi masih belum puas juga, karena masih lebih banyak yang ditolak ketimbang yang dimuat. Selain itu, ada hal-hal yang terasa kurang tuntas dibahas. Lalu penulis memutuskan beralih untuk menulis buku. Panduan favoritnya adalah karya Bambang Trim, yaitu Menggagas Buku (Penerbit Bunaya). Ternyata penulis lebih kerasan di dunia perbukuan ini.
Setelah dipikir-pikir, kalau diibaratkan, penulis yang sudah punya nama seperti pemain yang dihadiahi tendangan pinalti, sementara penulis pemula adalah pemain yang melakukan tendangan bebas dari tengah lapangan. Siapa pun tahu, tendangan pinalti punya kesempatan lebih besar untuk bisa mencetak gol.

Jalur Cepat untuk Menulis
Bila mengamati tulisan yang tampil di banyak harian, sepertinya gelar juga ikut berperan besar dalam pemuatan suatu tulisan. Kalau Anda doktor atau profesor, tentu lebih mudah menembus pintu media. Cukup dengan membaca gelarnya saja, bisa jadi redaktur sudah memiliki kepercayaan. Kalau perlu dengan embel-embel pakar suatu bidang tertentu, karena orang sering mengasumsikan kalau seorang doktor itu pasti identik dengan pakar. Menulis bagi para dosen/peneliti juga memberikan tambahan credit point untuk kenaikan jabatan fungsional. Padahal yang paling memerlukan credit point (selain honor tentu saja) adalah pada dosen muda, yang kebanyakan belum mencapai tingkat pendidikan S3, apalagi profesor. Kalau sudah jadi profesor buat apa susah-susah menulis, toh sudah mentok. Jadi, gelar juga bisa meningkatkan keterampilan yang layak jual. Bahkan kadang di bidang yang tidak relevan dengan apa yang dilakukan. Publik dan media juga bakal lebih cepat memercayai apa yang dinyatakan oleh orang bergelar PhD. Keuntungannya, buku-buku yang ditulis, ataupun sekadar memasang namanya, akan lebih laku. Artikel bisa cepat dimuat di koran tanpa redaksi terlalu mengkritisi isinya, mungkin cukup hanya membaca gelarnya.

Bagi yang tidak memiliki bekal dari jalur akademis yang memadai, masih tersedia pintu lainnya. Walaupun baru pertama kali menulis, asalkan beliau politisi, birokrat, selebritis atau mantan orang terkenal, tulisannya berpeluang lebih besar untuk dimuat. Kalaupun redaksi kesulitan mencari relevansi penulis dengan isi tulisan, cukuplah diberikan embel-embel pemerhati suatu masalah. Pemerhati kan tidak pernah salah, seperti halnya komentator sepakbola tak pernah disalahkan meski analisisnya ternyata bertentangan dengan hasil pertandingan.

Bila melihat pengalaman sejumlah enterpreneur sukses, sering kali berawal dari lamaran kerja yang ditolak di mana-mana. Ketimbang mencari pekerjaan, mereka membikin perusahaan (dan pekerjaan) sendiri, dan ternyata jauh lebih sukses ketimbang rekannya yang menjadi pekerja di perusahaan. Begitu juga halnya, kalau seorang penulis naskahnya ditolak, mungkin justru menimbulkan pikiran untuk menerbitkan buku sendiri atau membikin majalah sendiri. Mungkin seperti halnya grup musik ada yang memilih jalur label ada yang memilih jalur indie. Mungkin akan banyak nantinya penulis beraliran indie.

Karangan Bermutu? Seperti Apa Sih?
Sebenarnya kriteria tulisan bermutu itu tidak ada bakuannya. Analoginya, sinetron yang banyak beredar di sejumlah televisi swasta seperti sekarang ini justru makin tidak bermutu makin laku. Buktinya, ada yang sekuelnya diproduksi sampai bertahun-tahun dengan pemain yang gonta-ganti tak karuan, serta jalan cerita yang di luar nalar. Kalau tidak, justru idenya menjiplak sinetron dari luar negeri yang (maaf) sama tidak bermutunya. Kesimpulannya, mutu karangan tidak ada korelasinya dengan selera pasar, atau selera redaktur.

Memang benar, seperti yang diungkapkan Andreas Harefa, karangan bermutu itu relatif. Kriteria artikel yang layak muat di tiap harian berbeda, begitu juga antara harian, mingguan, bulanan, antara majalah dan tabloid. Jadi, kalau suatu karangan ditolak, itu tidak berarti kalau penulisnya tidak bermutu.

Bila diadaptasikan dari sebuah kalimat bijak, tidak masalah berapa kali Anda ditolak, yang penting berapa kali Anda mencoba menulis lagi. Mungkin penolakan yang diterima saat mengirim suatu artikel, menandakan Tuhan hendak menunjukkan jalan lain yang lebih besar untuk Anda. Siapa tahu Anda lebih berbakat menjadi penulis buku, novel atau bahkan penulis skenario sinetron, yang penghasilannya jauh lebih menarik pada masa ini. Jadi, kalau dianalogikan, kita bisa saja membuat produk yang sama, tetapi hasil karya kita lebih cocok dibuat dalam suatu kemasan tertentu. Seperti halnya kalau orang bikin lemper, lebih cocok dibungkus pakai daun pisang ketimbang pakai kantong plastik.
Daftar Bacaan

  1. Andreas Harefa, Agar Menulis, Mengarang Bisa Gampang, 2002, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
  2. Bambang Trim, Menggagas Buku, 2002, Jakarta, Penerbit Bunaya.
  3. Aqua Dwipayana, Kiat Menulis di Media, 2003, Jakarta, Penerbit Global Mahardika Netama
  4. Sonny Set dan Sita Sidharta, Menjadi Penulis Skenario Profesional, 2003, Jakarta, Penerbit Grasindo
  5. Purdi E. Chandra, Menjadi Enterpreneur Sukses, 2003, Jakarta, Penerbit Grasindo.

Penulis : Firrar Utdirartatmo, alumnus S1 Teknik Informatika ITB