Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

"Rp" Itu Bukan Singkatan

Bahasa Indonesia sesungguhnya adalah bahasa yang mudah dipelajari dan mudah dipakai. Buktinya hingga saat ini digunakan oleh lebih dari 100 juta orang -- paling tidak di Nusantara ini -- belum lagi orang asing yang makin banyak berbahasa Indonesia dengan lancar. Sayangnya, banyak yang kurang peduli terhadap aturan mainnya, terutama dalam penggunaan tanda baca. Contohnya, beberapa iklan di bawah ini yang tayang di sebuah harian nasional.

Iklan 1: "Rp. 1000,-/ ekor -- Festival Bebek Panggang"

"Rp" sebagai penanda mata uang rupiah sesungguhnya telah menjadi lambang bukan lagi singkatan seperti layaknya dsb., dll., dan tsb. yang memang wajib diikuti oleh tanda titik, dengan begitu, "Rp" tidak lagi menggunakan titik di belakangnya. Hal ini sama seperti lambang dolar ($) atau yen (¥) penggunaannya adalah tanpa diikuti oleh tanda titik (.). Sedangkan untuk "koma strip" (,-) seharusnya diganti dengan "koma nol nol" (,00), misalnya Rp 1.000,00 yang menandakan tidak ada tambahan sesen pun. Atau bolehlah dalam bahasa iklan menjadi Rp 1000/ekor, lebih ringkas, bukan?

Bahasa Indonesia sesungguhnya adalah bahasa yang mudah dipelajari dan mudah dipakai. Buktinya hingga saat ini digunakan oleh lebih dari 100 juta orang -- paling tidak di Nusantara ini -- belum lagi orang asing yang makin banyak berbahasa Indonesia dengan lancar. Sayangnya, banyak yang kurang peduli terhadap aturan mainnya, terutama dalam penggunaan tanda baca. Contohnya, beberapa iklan di bawah ini yang tayang di sebuah harian nasional.

Iklan 1: "Rp. 1000,-/ ekor -- Festival Bebek Panggang"

"Rp" sebagai penanda mata uang rupiah sesungguhnya telah menjadi lambang bukan lagi singkatan seperti layaknya dsb., dll., dan tsb. yang memang wajib diikuti oleh tanda titik, dengan begitu, "Rp" tidak lagi menggunakan titik di belakangnya. Hal ini sama seperti lambang dolar ($) atau yen (Â¥) penggunaannya adalah tanpa diikuti oleh tanda titik (.). Sedangkan untuk "koma strip" (,-) seharusnya diganti dengan "koma nol nol" (,00), misalnya Rp 1.000,00 yang menandakan tidak ada tambahan sesen pun. Atau bolehlah dalam bahasa iklan menjadi Rp 1000/ekor, lebih ringkas, bukan?

Iklan 2: "Tempat duduk terbatas hanya 7,000 -- Macau mulai USD 49"

Di dalam bahasa Indonesia penulisan koma di belakang angka adalah guna mengakhiri keberadaan angka besar/angka utama. Misalnya seperti contoh pertama yang sudah ditulis di atas. Jadi tidak salah jika kita membaca iklan tersebut menjadi "hanya untuk tujuh tempat duduk" bukan "tujuh ribu tempat duduk". Selama iklan tersebut memakai bahasa Indonesia, bukankah aturan menuliskan bilangan angka juga seharusnya mengikutinya? Apakah karena harga tiketnya memakai dolar sehingga menyebut jumlah tempat duduk mengikuti aturan "US English"?

Iklan 3: "Diperpanjang s/d 15 Desember 2008 -- Pengundian Akhir Dilakukan Akhir Desember 2008"

Untuk contoh yang terakhir ini, tidak berhubungan dengan angka, tapi masih seputar tanda baca. Yang sudah benar dalam iklan ini adalah dalam menuliskan "diperpanjang" dan "dilakukan" tidak menjadi "di perpanjang" dan "di lakukan". Hanya saja, penulisan singkatan "sampai dengan" seperti kembali ke zaman dahulu kala. Ini juga kasus yang banyak sekali terjadi di dalam penulisan iklan kita. Jarang sekali ditemukan penulisan singkat "sampai dengan" seperti yang seharusnya: "s.d." bukan lagi "s/d". Entah mengapa hal ini selalu terjadi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Bahasa, Please!
Penulis : Benwal
Alamat URL : http://benwal.blogdetik.com/2008/12/27/

Lihat pula Ejaan yang Disempurnakan bagian III/I/1/d

Alamat URL: http://id.wikisource.org/wiki/EYD#I._Singkatan_dan_Akronim