Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Ragam Tutur dan Kesantunan

Seorang mahasiswa di Semarang yang tidak mau disebut namanya, menanyakan bedanya rasa hormat dan rasa santun. Tingkat tutur atau "speech level" dalam masyarakat tutur Jawa, digunakan untuk menyampaikan rasa hormat ataukah rasa santun? Hadirnya bahasa ragam tutur yang sepertinya sekarang lebih banyak berkembang dan lebih banyak diminati daripada bahasa baku, harus dipahami sebagai fenomena bahasa yang bagaimana? Bagaimana gambaran perkembangan bahasa di masa mendatang, jika dikaitkan dengan fenomena bahasa itu? Mohon penjelasan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa salah satu makna dari kata "hormat" adalah takzim, sopan. Demikian pula kata "sopan", salah satu maknanya adalah hormat, takzim. Kata santun, memiliki makna sopan dan halus budi bahasa atau tingkah lakunya. Sementara kata "takzim", memiliki makna amat hormat dan sopan. Dengan mencermati makna-makna tersebut, dapat disimpulkan bahwa di dalam sumber tersebut, tidak terlalu dibedakan pengertian hormat dan santun.

Dalam masyarakat dan kebudayaan Jawa, memang tidak terlalu dipersoalkan perbedaan antara rasa hormat dan rasa santun. Orang akan dikatakan sopan atau santun, jika berperilaku hormat dan berbudi bahasa baik pada orang lain. Demikian pula orang akan dikatakan hormat pada orang lain, apabila orang itu santun dalam berbudi bahasa dan berperilaku.

Contohnya, orang akan menggunakan bentuk-bentuk sapaan hormat (honorifics) Bapak, Ibu, Mas, Kangmas, Mbakyu, Eyang untuk menyebut pribadi seseorang dengan hormat dan santun. Menyebut pribadi seseorang dengan namanya langsung, terlebih-lebih kepada orang yang belum terlalu dekat hubungan personalnya, atau kepada orang yang harus dihormati karena superioritas dan senioritasnya, akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.

Di dalam khasanah linguistik, terdapat beberapa pakar yang tidak setuju dengan penyamaan rasa hormat dan santun itu. Mereka menyebut sopan santun dalam contoh tadi sebagai kesantunan sosiolinguistik (sociolinguistic politeness). Sementara itu, masih ada jenis sopan santun dalam kerangka pragmatik (pragmatic politeness) yang penentuannya didasarkan pada maksim-maksim kesantunan. Dengan begitu, rasa hormat itu tidak serta-merta bisa disamakan dengan rasa santun.

Lalu, tingkat tutur atau "speech level" itu digunakan untuk menyampaikan rasa hormat ataukah rasa santun? Jawabnya, tentu saja tergantung dari kerangka teori dan sudut pandangnya. Kalau digunakan dua macam kerangka yang disebutkan pertama, tingkat tutur digunakan untuk menyampaikan rasa hormat. Tetapi, hal itu sekaligus digunakan untuk menyampaikan rasa santun. Lain halnya jika digunakan kerangka teori yang disebutkan terakhir, tingkat tutur digunakan untuk menyampaikan rasa hormat, bukan rasa santun.

Tingkat "ngoko" dipakai oleh orang yang merasa bahwa mitra tuturnya adalah orang yang tidak perlu dihormati. Tingkatan ini digunakan oleh orang yang memiliki superioritas atau senioritas kepada orang yang lebih rendah. Misalnya, kepada pembantu rumah tangga, anak sendiri, adik, kawan akrab.

Tingkat "krama" digunakan oleh seseorang yang menghormati mitra tuturnya. Penghormatan ini dilakukan karena mitra tutur memiliki superioritas dan senioritas yang lebih tinggi dari dirinya. Misal kepada orang tua, mertua, pimpinan, orang yang masih belum jelas hubungan persahabatannya. Jadi jelas bahwa tingkatan-tingkatan dalam bertutur itu digunakan untuk menghormati orang lain secara lebih proporsional.

Pengamatan Saudara barangkali memang benar. Pemakaian ragam tutur saat ini cenderung menggeser pemakaian bahasa formal atau baku. Ragam tutur yang bercorak informal menjadi kian luas pemakaiannya karena rendah kadar keketatannya. Ragam tutur memiliki banyak model yang lebih santai dari bahasa ragam baku. Banyak kata yang dilafalkan tidak penuh, tetapi hanya sebagian saja, susunan kalimatnya tidak ketat dan terpancang pada kaidah yang berlaku, dll.

Kendatipun begitu, kelonggaran pemakaian ragam tutur tersebut menuntut kepekaan yang lebih tinggi dari penuturnya. Maksudnya, kepekaan terhadap konteks situasi pemakaiannya. Semakin penutur merasa peka terhadap kesadaran konteks situasinya, semakin tinggi kesadaran terhadap aturan-aturan kesantunan berbahasanya. Orang secara intuitif dipaksa peka menggunakan ragam tuturnya sesuai perhitungan situasi tuturnya.

Dengan perkataan lain, kesantunan berbahasa tersebut sesungguhnya justru ditopang oleh pemakaian ragam tutur yang cermat dan bijaksana. Berkaitan dengan itu, kita tidak perlu terlalu risau dengan masa depan bahasa Indonesia, kendatipun ragam tutur digunakan dengan semakin longgar di dalam masyarakat bahasa kita.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bulir-Bulir Masalah
Judul asli artikel : Ihwal Ragam Tutur dan Kesantunan
Penulis : Dr. R.Kunjana Rahardi, M.Hum
Penerbit : Penerbit Dioma, Malang, 2007
Halaman : 111 -- 114