Profesor Sepuh yang Produktif Berkarya

Diringkas oleh: Santi T.

Prof. Tondowidjojo, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Romo Tondo, melayani di Paroki Kristus Raja, Surabaya. Walaupun usianya hampir 77 tahun, Romo Tondo masih giat beraktivitas, baik menulis, membina yayasan, maupun mengajar di berbagai universitas. Selain sebagai romo, beliau adalah seorang profesor ahli komunikasi Etnologia, dan pernah punya pengalaman sebagai wartawan lepas. Meskipun usianya telah sepuh, gagasan dan ide-ide Romo Tondo cenderung tajam. Selain itu, tubuhnya juga masih terlihat segar bugar karena ia sudah terbiasa dengan kedisiplinan dalam menjalani rutinitas. Ia sering menegaskan bahwa disiplin diri dan disiplin waktu harus diterapkan dalam hidup. Kedisiplinan dan pola hidup yang sehat menunjang aktivitasnya dalam menulis, mengajar, berkesenian, dan memberi pelatihan komunikasi dan jurnalistik yang sudah ia jalani sejak tahun 1965 sampai sekarang.

Buku terbarunya yang berjudul "Dunia Wayang Purwa dan Pendidikan" berisi pentingnya dunia pendidikan, terutama untuk membentuk karakter siswa. Beliau mengatakan bahwa dunia pendidikan sekarang ini sangat kurang dalam pendidikan "Character Building". Sekolah banyak mencetak orang pintar, tetapi bila hanya pintar tanpa ditunjang karakter yang mumpuni, maka hasilnya percuma. Ironisnya, banyak guru tidak mampu mengajar dengan baik. Selain mentransfer ilmu, guru harus bisa membentuk karakter anak didiknya. Romo Tondo memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan sehingga ia membuat sanggar Bina Tama, yang terletak di kompleks Residen Sudirman, Surabaya. Sanggar ini menolong anak-anak dari kalangan tidak mampu supaya mereka bisa bersekolah -- dari SD hingga perguruan tinggi. Selain itu, sanggar ini juga mendapat bantuan dana dari para dermawan yang peduli terhadap pendidikan. Setiap tahunnya, yayasan ini menerima 10 anak kurang mampu dan telah menghasilkan banyak anak didiknya berhasil meraih masa depannya.

Sanggar Bina Tama menerapkan pendidikan karakter dan budi pekerti kepada anak didiknya. Selain itu, dukungan orangtua juga diperlukan dalam membentuk karakter anak didik. Putra dari pasangan KRMT Tondowidjojo dan R.A. Sutiretno Sosrobusono itu berkata, "Pendidikan di Indonesia terlalu difokuskan ke arah iptek sehingga pendidikan pengembangan karakter dan budi pekerti menjadi kurang maksimal. Orangtua sebagai garda terdepan haruslah peduli terhadap pengembangan karakter anak." Pendidikan karakter dan budi pekerti sangat perlu. Sebab bila tidak, anak akan menjadi tidak baik dan bangsa Indonesia akan kehilangan generasi penjaga karakter bangsa.

Sebagai upaya mengembangkan karakter anak didik, setiap tahunnya ia mengadakan festival budaya nasional yang diikuti kalangan pelajar. Menurutnya, penanaman kecintaan terhadap budaya nasional dapat menunjang pengembangan karakter anak. Budaya nasional harus benar-benar dijaga dan ditanamkan dalam jiwa setiap anak didik supaya karakter bangsa ini tidak lenyap oleh arus globalisasi. Adanya pengaruh global membuat anak lebih tertarik pada arus baru budaya asing. Akibatnya, budaya bangsa dan peran dunia pendidikan akan pengembangan karakter dan kecintaan budaya bangsa akan makin terpinggirkan. Padahal lewat budaya, kita bisa membina nasionalisme. Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan sejalan dengan dukungan gereja dalam dokumen "Gravissimun Educationist", konsili Vatikan II, yang menyebutkan bahwa gereja mengingatkan dan menekankan orangtua untuk memberi pendidikan "Character Building" pada anak. Aktivitas dan kegiatan Romo Tondo dalam menulis, berkesenian, dan pendidikan membuatnya selalu bersemangat dalam menjalani hidup. "Puji Tuhan, saya masih sangat sehat dan masih bisa beraktivitas dan berkarya, sebagai wujud sumbangsih saya bagi umat, masyarakat, bangsa dan negara," katanya.

Romo Tondo juga menjadi wartawan lepas yang tergabung dalam UCIP (Union Catholique International de la Press), forum wartawan internasional yang bertempat di Geneva, Swiss, dengan status ambassador. Banyak tulisannya dimuat di berbagai media massa. Sebagai peraih Man of the year dari PBB di Amerika Serikat, ia mengungkapkan, "Wartawan juga tidak boleh melanggar kode etik kewartawanan dan harus lebih memerhatikan etika jurnalistik. Wartawan yang baik adalah wartawan yang selalu giat mempelajari masyarakat dan manusia." Ungkapan itu muncul karena keaktifannya dalam kegiatan internasional dan keahliannya di bidang ilmu komunikasi. Romo Tondo juga berkeliling ke luar negeri untuk mengikuti konferensi, memberikan pengajaran, dan memperkenalkan budaya Indonesia. Selain usahanya memperkenalkan budaya Indonesia, Romo Tondo juga memperkenalkan musik Indonesia di luar negeri. Ia menekuni pendidikan jurusan direksi dan komposisi di Centro della Cultura, Venezia, Italia, pada tahun 1960, dan ia telah menciptakan 4 hymne. Romo Tondo aktif bermain musik hingga sekarang, bahkan ia pernah mengadakan demo permainan musik dan memimpin konser di dalam dan luar negeri. Masih ada lagi keahliannya, yaitu melukis. Ia pernah melukis wayang pada tahun 1957 dan lukisannya itu telah diperkenalkannya ke luar negeri. Romo Tondo gemar melukis wayang. "Aktivitas yang padat harus diimbangi dengan pola hidup sehat agar kita tetap semangat," kata imam Katolik yang total 90 bukunya dikoleksi oleh berbagai perpustakaan di Amerika Serikat dan Belanda itu.

Diringkas dari:

Nama situs : Guruh Giat Gurat
Alamat URL : http://guruhdimasnugroho.blogspot.co.id/2012/12/professor-john-tondowidjojo-professor.html
Judul asli artikel : Professor Sepuh yang Produktif Berkarya
Penulis artikel : Guruh Dimas Nugraha
Tanggal akses : 29 Oktober 2015