Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

e-Penulis 099/Desember/2011

Renungan yang Alkitabiah

Menulis renungan, menurut beberapa penulis Kristen, memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan kategori tulisan lainnya. Mengapa? Untuk menulis sebuah renungan dibutuhkan keahlian tertentu. Bukan hanya segi penyajian yang menarik, namun isi tulisan harus berbobot dan mengandung makna yang membangun. Bukan itu saja, untuk menghasilkan sebuah renungan yang baik, maka renungan itu harus setia dengan teks Alkitab dan tidak menyimpang dari arti sebenarnya. Jadi, renungan bukanlah tulisan yang sekadar berisi nasihat, penguatan, ataupun bersifat informatif. Renungan merupakan tulisan yang menyampaikan pesan firman Tuhan dan bagaimana pembacanya membuka hati untuk melaksanakan firman Tuhan tersebut dalam hidupnya. selengkapnya... about Renungan yang Alkitabiah

Proses Kreatif Menulis Renungan Harian

Dalam pengantar untuk buku "Menjadi Penulis", Andar Ismail menegaskan pentingnya isi tulisan. Ia mengatakan, "Menulis bukanlah sekadar merangkaikan kata, melainkan menuliskan hikmat yang mencerahkan dan menumbuhkan pembaca. Sepandai-pandainya kita menuangkan, yang lebih menentukan adalah apa yang dituangkan. Apa gunanya menuang sebuah botol, bila isinya adalah air keruh? Atau apa yang mau dituang dari sebuah botol, bila botol itu masih kosong."

Pengakuan pemazmur menunjukkan proses serupa. Mazmur-mazmurnya tertuang dari perkara-perkara yang memenuhi hatinya. Frasa "kata-kata indah" (Mazmur 45:2), menurut konkordansi Strong, mengacu pada perkara-perkara yang baik, mulia, luhur, dan benar. Ketika hal Itu meluap-luap memenuhi hatinya, ia pun tergerak untuk menggubah sajak. Ia menulis tentang sosok yang sungguh-sungguh luhur dan mulia: Nubuatan tentang Raja yang akan datang, Tuhan Yesus Kristus, dan jemaat-Nya yang berkemenangan. selengkapnya... about Proses Kreatif Menulis Renungan Harian

Lisan dan Tulisan

"Bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis," kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa, edisi Jumat, 11 Juni 2010.

Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa berevolusi dari lisan ke tulisan. Budaya bergerak dari "orality" ke "literacy". Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini, radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan. Tetapi, bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan. selengkapnya... about Lisan dan Tulisan


Subscribe to e-Penulis 099/Desember/2011