Keterjajahan Bahasa

Ketika saya mengikuti bakti sosial di salah satu kecamatan di Gunung Kidul, seorang staf kelurahan tidak dapat lagi mengatakan ruang atau tempat, bisanya mengucapkan "spis" (mungkin sering mendengar orang mengucapkan kata Bahasa Inggris "space"). Lantaran globalisasi dan internasionalisasi, menyatakan Sekolah Dasar saja sampai lupa, bisanya "elementary school". Apakah ini pertanda kemajuan atau keterjajahan bahasa kita? Mengatakan bon-bin (kebon binatang) saja sudah susah, bisanya cuma 'zoo'.

Ternyata, dari pengamatan saya, beberapa akademisi pun mulai kesulitan mengucapkan "lokakarya, rapat/pertemuan, berbagi/menyampaikan, omong-omong, menerbitkan, janji, acara/peristiwa", dan masih banyak lagi. Mereka lebih fasih dan nyaman mengucapkan/menggunakan "workshop, meeting, share/sharing, by the way, publish, appointment, event".

Dalam suatu rapat, ada peserta yang berkata, "Saya ingin share informasi tentang masalah ini .... Akhirnya, saya berterima kasih kepada Pak Anu atas 'sharingnya'." Saya tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam benak pembicara dan apakah kata "share" dan "sharing" dapat diganti dengan kata Bahasa Indonesia yang benar-benar membawa makna yang dimaksud. Kalau ditengok di kamus Oxford, makna yang paling pas dalam konteks tersebut adalah "to tell other people about your ideas, experiences, and feelings" yang padan katanya adalah menyampaikan, menjelaskan, atau memberi tahu. Mungkin perkataan peserta rapat itu dapat dinyatakan dalam bahasa yang menawan seperti: "Saya ingin menyampaikan informasi tentang masalah ini .... Akhirnya, saya berterima kasih kepada Pak Anu atas penyampaian gagasannya." Mungkin orang menggunakan kata sar ser agar lebih gagah atau memang tidak tahu makna kata itu atau tidak tahu Bahasa Indonesianya, padahal bisa pinjam kamus atau langsung lihat di iPadnya, lalu merasakan maknanya.

Memang banyak kata yang kita belum menemukan padan katanya karena sifatnya sebagai nama atau merek (proper name) atau istilah yang sangat teknis, khususnya dalam bidang teknologi informasi seperti iTune, AppStore, iPod, Cydia, Wi-Fi, Podcast, CDMA, GSM, BlackBerry, Apple, dan sebagainya. Namun, untuk nama jenis seperti "download, save, cut, left-justified, copy, file", dan semacamnya, kita harus berusaha untuk mencari padan kata yang pas dan menawarkannya. Istilah 'unduh' nyatanya sudah berterima (acceptable) sebagai ganti 'download'. Sebaliknya, nama yang khas Indonesia yang tidak ada di negara lain tetap dipertahankan seperti apa adanya misalnya "rotan, orang hutan, salak, dhuwet, rambutan, gudeg, lodeh, joglo", dan sebagainya. 'Salak', misalnya, tidak perlu disebut "snake fruit". Kita didik orang asing untuk menyebutkan nama-nama khas Indonesia agar melekat dalam benak mereka sehingga nama-nama itu menginternasional. Kita harus berani menjajah orang asing dalam hal bahasa.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : suwardjono.staff.ugm.ac.id
Alamat URL : http://www.suwardjono.staff.ugm.ac.id/a>
Penulis : Suwardjono
Tanggal akses : 30 Juli 2013