Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Bartolomé De Las Casas

Bartolomé de las Casas adalah seorang biarawan Dominika, penulis, dan seorang pendukung kebijakan untuk memperlakukan penduduk asli Amerika dengan manusiawi. Ia adalah salah satu figur religius terpenting pada abad ke-16 di Kerajaan Spanyol. Sementara Spanyol berusaha untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat penduduk Dunia Baru, Las Casa menghabiskan tahun-tahun hidupnya untuk membongkar penyiksaan yang dialami oleh penduduk pribumi di bawah sistem encomienda (hak yang diberikan kepada koloni Spanyol di Amerika untuk menuntut upeti dan kerja paksa dari penduduk pribumi/Indian -Red.). Las Casas juga mendedikasikan waktunya untuk meyakinkan penguasa Spanyol bahwa misinya dalam menyebarkan iman Kristen di antara penduduk pribumi tidak harus merampas kebebasan, kedaulatan, dan hak milik mereka.

Pada tahun-tahun pertamanya, Las Casas tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menjadi seorang pejuang yang gigih bagi hak asasi masyarakat pribumi. Ia lahir di Seville, di masa keemasan zaman eksplorasi Spanyol. Ayahnya, Pedro de Las Casas, pernah berlayar bersama Christopher Colombus dalam ekspedisinya yang kedua ke Dunia Baru. Meskipun ayahnya kembali ke Spanyol hanya dengan sedikit emas, ia membawa harta karun berupa kisah-kisah tentang tempat-tempat dan masyarakat yang ditemuinya di sana. Ketika berumur 18 tahun, Las Casas berlayar ke Kepulauan Karibia bersama 2.500 orang pria dan wanita yang berencana menetap di sana. Di Hispaniola (sekarang Haiti dan Republik Dominika), Las Casas disukai oleh gubernur daerah itu sehingga tak lama kemudian, sang gubernur memberi pemuda ini sebidang tanah dan 100 pekerja pribumi.

Beberapa tahun kemudian, Las Casas kembali ke Spanyol dan melakukan perjalanan ke Italia. Di sanalah, pada tahun 1507, ia ditahbiskan mejadi pendeta. Lima tahun kemudian, saat ia menjabat sebagai pendeta bagi sebuah kelompok ekspedisi Spanyol, ia tiba di Kuba. Setelah menyaksikan sendiri pembantaian terhadap penduduk pribumi oleh pasukan Spanyol pada tahun 1514, ia meninggalkan segala harta kekayaannya dan mulai berkhotbah melawan penindasan yang kejam, yang dialami oleh masyarakat pribumi di koloni-koloni Spanyol. Ia pun mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengangkat penderitaan mereka dan membawa mereka masuk ke dalam kekristenan dengan cara yang penuh kasih, tulisnya tentang hal itu, "Segala sesuatu yang dilakukan terhadap orang-orang Indian di Hindia bagian ini adalah tidak adil dan sewenang-wenang."

Selama beberapa tahun, Las Casas berusaha menciptakan sebuah koloni komunitas petani yang terdiri dari orang-orang Spanyol dan penduduk pribumi Amerika (sekarang, koloni itu adalah negara Venezuela). Akan tetapi, usahanya itu tidak berhasil karena selalu dirusak oleh para pengacau yang menimbulkan kekerasan terhadap orang-orang pribumi. Setelah itu, Las Casas kembali lagi ke Spanyol dan memusatkan semua tulisannya pada usahanya dalam memperjuangkan hak-hak penduduk pribumi. Argumen-argumennya turut memengaruhi Hukum Baru yang dibuat pada tahun 1542. Hukum itu melarang perbudakan terhadap penduduk asli dan melindungi mereka dari kekerasan di tempat kerja. Selain itu, hukum ini juga menjanjikan penghapusan sistem encomienda. Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana mengikutsertakan penduduk pribumi dalam hukum kolonial dan sistem hukum Spanyol terus-menerus menjadi topik yang kontroversial. Hal itu timbul karena adanya kekuasan yang besar, yang berkonspirasi melawan ide-ide yang dimunculkan oleh Las Casas.

Pada tahun 1550, atas permintaan Raja Charles V, Las Casas turut berpartisipasi dalam debat yang mengangkat topik tentang perlakuan terhadap masyarakat pribumi. Lawan debat Las Casas saat itu adalah Juan Ginés de Sepúlveda, seorang ahli pikir terkemuka Spanyol yang menjadi anggota Dewan Kota Valladolid. Tujuan debat itu adalah untuk membahas kapasitas intelektual dan religius penduduk pribumi, topik yang berkaitan erat dengan persoalan yang lebih besar tentang hak orang-orang Spanyol untuk memerangi mereka, menguasai mereka, dan mengambil segala sesuatu yang menjadi hak milik mereka. Sepúlveda berpendapat bahwa orang-orang Indian adalah "budak alami" (paham Aristoteles yang menyatakan bahwa ada bangsa-bangsa tertentu yang secara alami atau oleh karena memiliki kapasitas rasional yang lebih rendah, yang dilahirkan untuk dikuasai oleh bangsa lain) sehingga wajar jika mereka dijadikan budak atau pelayan. Argumen Sepúlveda itu disukai oleh para penduduk koloni dan para tuan tanah yang diuntungkan oleh sistem tersebut. Sebaliknya, para anggota kerajaan dan Gereja Katolik cenderung memihak Las Casas, salah satu penyebabnya adalah karena mereka ingin mengurangi kekuasaan yang dimiliki oleh para tuan tanah itu.

Debat yang berlangsung selama lima hari itu, akhirnya dinyatakan seri oleh para juri dan tidak menghasilkan jalan keluar yang nyata terhadap perlakuan penduduk pribumi. Namun, ide-ide Las Casas tetap memengaruhi Hukum Baru yang dibuat pada tahun 1542 itu dan betul-betul membantu dalam penghapusan sistem encomienda.

Setelah debat itu, Las Casas kembali menulis dan menghabiskan sisa hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak penduduk pribumi Amerika. Dan, secara sengaja, ia juga ikut membantu mengobarkan propaganda melawan Spanyol yang dikenal sebagai "Legenda Hitam" dengan catatan sejarah yang ditulisnya yang berjudul "Short Account of the Destruction of the Indies" (1552). Catatan yang mengungkap keserakahan dan brutalisme Spanyol di Dunia Baru itu sering dipakai oleh musuh-musuh Kerajaan Spanyol untuk membuktikan kekejaman pemerintahan Spanyol. Para sejarawan dari Inggris, Perancis, Belanda, dan negara-negara lain tidak hanya memakai catatan itu untuk menjatuhkan Spanyol, tetapi juga untuk memajukan kepentingan negara-negara mereka di Dunia Baru.

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : PBS.org
Alamat URL : http://www.pbs.org/
Judul asli artikel : Bartolomé de las Casas
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 18 Juni 2013