Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Menulis, Tradisinya Orang-Orang Hebat

Koran demi koran saya periksa. Untuk koran Senin hingga Sabtu, pengerjaannya lebih cepat. Biasanya tulisan tentang seni jarang sepanjang enam hari itu. Sementara untuk koran Minggu, cukup teliti. Halaman demi halaman diperiksa. Beberapa menit kemudian, tumpukan koran sudah berkurang. Hingga akhirnya lama saya tidak mengambil koran karena asyik membaca cerpen Mustafa Bisri di Media Indonesia. Nama Mustafa Bisri menyentak saya! Saya sering mendengar. Tapi ini lain. Entah karena apa pula. Cerpennya kali ini membuat saya termangu-mangu. Siapa Mustafa Bisri? Sering sekali saya membaca namanya di media massa. Apakah Mustafa Bisri yang ini sama dengan Mustafa Bisri yang menulis buku, atau memberi kata pengantar buku orang lain? Saya menduga ya.
Sekitar satu minggu sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke perpustakaan kampus. Wah, luar biasa. Ada perkembangan. Pada papan pengumuman ada kertas tertempel yang berisi informasi buku-buku baru. Di kampus macam STAIN yang tidak memiliki jurusan sastra saya kira hebat memiliki sekoleksi novel dan buku puisi.
Di perpustakaan itu, saya biasa menyempatkan masuk ke satu ruangan khusus hanya untuk terkagum-kagum. Sambil menggelang-gelang kepala, tangan bertolak pinggang. Seluruh dinding ruangan itu disandari rak tinggi-tinggi. Bagian tengahnya pun tidak dibiarkan bolong melompong. Rak-rak yang sama besar sama tinggi dijajarkan sehingga tercipta lorong-lorong. Saya hanya bisa menekan dada dalam lorong-lorong itu. Karena seluruh buku ditulis dengan bahasa Arab dan tiap-tiap judul hingga puluhan jilid dengan ketebalan sangat luar biasa jika dibandingkan dengan buku-buku terbitan Indonesia.
Saya serius merasa aneh kepada mereka penulis buku-buku itu. Masalahnya rata-rata usia mereka tidak mencapai seratus tahun. Sementara buku yang mereka tulis tidak hanya satu judul, melainkan puluhan. [block:views=similarterms-block_1]Untuk satu judul bisa mencapai 15 jilid dengan ketebalan masing-masing jilid setebal Sejarah Tuhan dan Perang Suci-nya Karen Amstrong.
Kemudian teringat suatu hari ketika saya masih mesantren. Kiai bercerita tentang Imam Sibawaih, seorang ulama yang penulis. Yang biasa dilakukan oleh Imam itu, sehari-harinya barangkali hanya menulis. Saya tidak pernah mendengar kiai menceritakan bagaimana Imam itu dapat makan. Hingga bagian cerita paling menarik saya ketahui. Bahwa hampir seluruh buku dia, tulisan orang lain dan buku yang ditulisnya dibakar istrinya hanya karena sejak pernikahan sang istri tidak pernah disentuh. Sang Imam lupa kalau dia memunyai sesuatu yang lain selain buku karena bergumul dengan buku sangat mengasyikan. Selain Imam Sibawaih, kiai juga menceritakan ada ulama (ilmuwan) yang mati karena tertindih oleh buku-buku yang jatuh dari raknya.
Cerita yang agak aneh bagi saya ini menjadi masuk akal ketika saya berada di ruangan khusus perpustakaan STAIN tersebut. Ketika seluruh dinding disandari rak yang hampir mencapai langit-langit. Di tengah- tengah ruangan masih juga ditaruh rak-rak yang sama besar sama tinggi. Maka menjadi rasional jika rak yang penuh oleh buku itu bisa mematikan jika menindih saya atau ilmuwan itu.
Mereka, para penulis itu memang luar biasa. Bisa dibayangkan seandainya saja mereka tidak menulis, kita tidak akan banyak tahu sejauh mana pemikiran masa lalu berjalan, sejauh mana pencapaian budi mendalam. Karena komunikasi lisan, untuk satu bagian tertentu memiliki kekurangan. Suara itu hilang bersama dengan berhentinya pembicara berbicara. Maka di sini Plato menjadi sangat berjasa telah mencatat kebijaksanaan gurunya, Sokrates. Seorang filsuf yang senang pergi ke pasar untuk berdialog, untuk kembali memertanyakan kemapanan. Andai saja Plato tidak ada, dari siapa kita tahu bahwa sesuatu itu telah dipikirkan oleh orang Yunani ini, atau oleh orang-orang sebelumnya.
Karena penulis pula, saya bisa sedikit tahu tentang filsafat. Akan tahu pemikiran Plato dari siapa ketika saya lahir di perkampungan yang penduduknya sehari-hari dihabiskan di kebun dan di sawah, kalau bukan dari para penulis. Maka di sini saya berterima kasih, misalnya kepada Lou Marinoff lewat Plato Not Prozac! yang telah menghubungkan saya dengan pemikir-pemikir masa lalu. Yang telah menganggukan kepala saya. Karena ketika awal saya kenal filsafat, filsafat hanya dikatakan pernah menjadi pusat segala ilmu. Tetapi kenapa bisa demikian dan apa fungsi filsafat secara praktis, masih samar-samar. Lou Marinoff, salah satunya, melalui Plato Not Prozac! menegaskan bahwa filsafat itu bukan makhluk akademis yang hanya ada di kampus. Filsafat itu ada dalam keseharian. Saya juga mana tahu kalau Sokrates pernah bilang, Hidup yang tidak pernah dipertanyakan tidak pantas untuk dijalani, jika bukan penulis yang mengabadikannya.
Bisa dibayangkan juga, apa yang terjadi saat ini jika dulu Al-Quran tidak dicatat. Peperangan demi peperangan telah menghabisi para ulama penghafal Al-Quran. Andai saja saat itu yang hafal ada 100 ulama, kemudian 100 ulama itu meninggal, habislah Al-Quran yang ada di kepala mereka. Karena Zaid bin Tsabit, Abu Bakar dan sahabat-sahabat penulis lain mencatat Al-Quran, sekarang orang-orang Islam bisa membaca pesan- pesan Tuhan itu. Meski memang secara teologis, keabadian Al-Quran itu sudah dijanjikan-Nya.
Penulis, menurut Muhidin M. Dahlan pada MATABACA Vol. 2/No.11/Juli 2004, juga seorang juru bicara bagi masyarakatnya, bagi bangsanya. Sosoknya mungkin seperti nabi. Dengan tugasnya itu mereka bahkan tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri sebagaimana halnya para nabi.
Pramoedya Ananta Toer, telah menjadi juru bicara bagi masyarakat, bagi bangsanya karena menulis Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca; Pram telah menjadi nabi karena menceritakan suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan, dan menyuramkan, dalam Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Bagaimana laki-laki kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini tidak merasa pilu ketika dia mendengar langsung penuturan perawan-perawan yang dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo itu, telah menjadi wanita tua yang sengsara. Mereka, perawan-perawan remaja yang telah menjadi wanita tua itu tidak disekolahkan sebagaimana janji Jepang, melainkan menjadi pelayan seks di pedalaman-pedalaman. Bukan hanya Pram yang pilu, hati saya pun tercabik-cabik padahal hanya katanya kata Pram.
Untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dan bangsa memang tidak mudah. Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji lahir di Maroko, Afrika Utara, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah, untuk bisa menulis Tuhfah Al-Nuzzar fi Gharab Al-Amsar wa Ajaib Al- Asfar harus mengadakan perjalanan sepanjang 75.000 mil dengan berjalan kaki melintasi berbagai negara, termasuk ke Aceh, Indonesia.
Sementara Iman Syafi, untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dia harus belajar kepada sejumlah guru yang jumlahnya hampir sama dengan jumlah muridnya. Harus menghafal Al-Muwathanya Imam Malik, dan memang Imam Syafi luar biasa. Kitab setebal itu mampu dihapalnya hanya dalam sembilan malam.
Dia bilang, Setiap kali pulang mengaji, aku selalu mengumpulkan pecahan-pecahan genting, kulit-kulit binatang kering, pelapah-pelapah kurma, dan tulang-tulang unta. Kutulis hadist-hadist nabi pada semua benda itu, kemudian ibuku mengumpulkannya pada suatu wadah. Setelah itu, aku pergi ke Mekkah dan bermukim di dusun kabilah Hudzayl.
Pernah diceritakan oleh Humaydi bahwa dirinya pernah mengadakan perjalanan bersama ahli fiqh dan penyair itu ke Mesir. Pada tengah malam di penginapan, lampu menyala. Humaydi kaget ternyata sang Imam masih terjaga dengan secarik kertas dan tinta. Ketika ditanya, Imam kelahiran Palestina ini menjawab, Aku sedang memikirkan makna suatu hadist, maka kusuruh anak kecil menyalakan lampu sehingga aku bisa menulis hadist itu.
Plato, Ibnu Batutah, Pram, Imam Syafi; mereka adalah orang-orang hebat. Mereka masih akan hidup sekalipun jasad terkubur dalam tanah. Akumulasi pengetahuan yang mereka tuliskan akan terus menyerukan bahwa pemiliknya masih hidup. Sebagaimana filsuf Francis Bacon pernah berucap, Aku hadapkan ruhku ke haribaan Tuhan. Meski jasadku dikubur dalam tanah, namun aku akan bangkit bersama namaku pada generasi- generasi mendatang serta pada seluruh umat manusia.

Penulis: Ibnu Adam Aviciena