Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Menghindari Bias dalam Tulisan

Dirangkum Oleh: Kristina Dwi Lestari

Bahasa dipahami sebagai satu-satunya sarana interaksi antarmanusia. Sebagai simbol penyampaian pesan atau pikiran, baik secara lisan maupun tertulis, bahasa sering dipakai untuk merepresentasikan realitas sebuah gambaran murni dari sesuatu secara apa adanya kepada pembaca.

[block:views=similarterms-block_1]

Akan tetapi pada perkembangannya, kita sering menjumpai bahasa yang tidak lagi menjadi cerminan murni dari suatu realitas. Terkadang perasaan, kepentingan, atau motif-motif tertentu dari penggunanya juga terlibat. Oleh karena itu, penerimaan dan penyampaian bahasa amat memerlukan kepekaan agar kita dapat menilai makna yang tersembunyi di belakangnya, yang bisa saja bersifat bias, menipu, dan bahkan menyesatkan.

Fenomena Bias dalam Tulisan

Bias atau distorsi dalam sebuah tulisan merupakan sesuatu yang hendaknya harus kita hindari manakala kita menulis. Terkadang tulisan yang bias, memuat unsur subjektivitas dari penulisnya. Tak jarang pula terdapat beberapa kepentingan tersembunyi atau kurangnya pemahaman tentang realitas yang disampaikannya. Berkaitan masalah tersebut, Mochtar Pabottingi mengemukakan empat sisi distortif (penyimpangan) penggunaan bahasa sebagai alat politik yang membantu kita untuk mengetahui apa maksud dari adanya bias di dalam sebuah tulisan.

  1. Distorsi bahasa sebagai topeng.

    Disebut topeng karena bahasa di sini telah dimanipulasi untuk menggambarkan sesuatu yang lain dari representasi aslinya, dengan tujuan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya. Dalam konteks ini, bahasa yang disampaikan oleh pelaku mungkin tak lagi jujur dan tidak sesuai rujukan realitasnya sehingga dapat mengecoh atau menipu orang yang menerimanya. Misalnya, ungkapan pemerintah seperti "tarif dasar listrik perlu disesuaikan", padahal sebenarnya yang dimaksud adalah "tarif dasar listrik perlu dinaikkan".

  2. Distorsi bahasa sebagai proyek lupa.

    Artinya, menurut konteks ini, bahasa digunakan untuk membuat orang lain beralih perhatian dari fokus tertentu. Di sini ihwal "lupa" tidak lagi dilihat sebagai kodrat manusia, tapi sebagai sesuatu yang dapat dimanipulasi secara sadar. Dengan memahami arti "lupa" sendiri sebagai tidak ingat sesuatu atau ingat yang lain, dapat ditangkap pengertian bahwa ternyata "lupa" bukanlah suatu hal yang bersifat alami pada manusia, namun juga sebagai suatu keadaan yang dapat direkayasa. Dengan mengalihkan perhatian orang dari suatu fokus tertentu ke fokus yang lain, berarti kita berusaha menciptakan kondisi lupa padanya.

  3. Distorsi bahasa sebagai representasi.

    Di sini, fungsi bahasa digunakan untuk menggambarkan sesuatu tidak sebagaimana mestinya, dengan mewakilkannya melalui penggunaan "labeling" atau simbol-simbol tertentu.

  4. Distorsi bahasa sebagai ideologi.

    Dalam distorsi ini, masyarakat cenderung dipaksa untuk mengakui kebenaran bahasa yang digunakan pelaku bersangkutan.

Beberapa langkah dalam menghindari bias dalam tulisan

Berikut beberapa langkah yang mungkin akan membantu kita dalam menghindari pembiasan dalam tulisan.

  1. Kesimpulan yang sesuai dengan fakta.

    Hendaknya tulisan Anda memuat kesimpulan yang didasarkan pada akumulasi fakta. Karena semua fakta dapat membuat karya Anda dapat dipercaya. Fakta-fakta tersebut harus didokumentasikan sehingga dapat diverifikasi oleh pembacanya.

  2. Opini yang berdasarkan fakta.

    Dalam penulisan sebuah karya tulis, opini (pemikiran pribadi berdasar emosi, kepercayaan, atau mitos) hendaknya jarang digunakan. Semua kesimpulan atau opini harus dapat dikenali dengan jelas; jangan pernah menyamarkan fakta.

  3. Gunakan bahasa yang lazim.

    Untuk bisa menyampaikan ide Anda dengan jelas, Anda tentu ingin menggunakan kata-kata yang meyakinkan pembaca dalam tulisan Anda. Pada saat Anda menulis suatu topik yang benar-benar Anda pahami, Anda bisa dengan mudah tergelincir dalam penggunaan bahasa yang bias atau emosional.

    Bahasa yang tidak lazim biasanya tidak meyakinkan pembaca yang sungguh-sungguh membaca untuk menyetujui pendapat Anda. Tentunya Anda ingin menggunakan kata-kata yang bisa membuat pandangan Anda tentang suatu topik menjadi lebih meyakinkan. Sekali Anda mulai menggunakan bahasa yang tidak lazim, yang bersifat memengaruhi, pembaca Anda akan lebih merasa dipermainkan daripada diyakinkan.

  4. Perhatikan pemilihan kata dan kalimat.

    Pemilihan kata atau diksi yang baik dapat diketahui apabila sebuah tulisan mampu dipahami oleh pembaca sesuai dengan tingkat keahlian para pembacanya. Secara garis besar, Wilson Nadaek menjabarkan beberapa fungsi kata, di antaranya kata-kata kiranya dapat memengaruhi orang, kata-kata melambangkan ide-ide, pemilihan kata yang tepat membuat pembaca tidak perlu menebak-nebak apa yang dimaksud, membuat pembaca percaya, bahkan sampai ikut mengambil bagian dan menyimpulkan sesuai apa yang dikehendaki oleh penulisnya. Selanjutnya, penyampaian tulisan kiranya disusun dalam kalimat yang efektif, yang mampu membuat isi atau maksud yang ingin disampaikannya tergambar lengkap dalam pikiran pembaca sama seperti apa yang disampaikan.

Sebagaimana sebuah pesan yang hendak kita sampaikan kepada pembaca, kiranya demikianlah kita menuliskannya dalam bahasa yang jujur dan netral. Bentuk tulisan yang bias tetap dapat dibenahi asalkan kita dapat berdiskusi dengan orang lain sehingga kualitas tulisan akan semakin baik. Selanjutnya kita coba untuk menjabarkannya ke dalam kalimat pendukung sehingga tulisan bias dapat berkembang dan tuntas diselesaikan.

Dirangkum dari:
Anonim. Avoid Biased Language, dalam http://www.etsu.edu/scitech/langskil/grammar.htm

Culla, Adi Suryadi. "Memahami Perangkap Bahasa Politik," dalam http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=26866

Nadaek, Wilson. 1989. "Peranan Bahasa Yang Komunikatif Dalam Literatur," dalam Bunga Rampai Visi Pelayanan Literatur. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Troyka, Lynn Quitman. 1993. Simon and Schuster Handbook For Writers. New Jersey: Prentice-Hall. Hlm. 412.