Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Membangun Kesadaran Menulis pada Era Digital

Kejayaan era digital ditandai dengan kekuatan media daring profesional dan media sosial yang memiliki kapasitas data besar, mobilitas, dan jangkauan informasi secara luas. Kekuatan teknologi informasi ini dimanfaatkan oleh para penulis untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang mencerahkan masyarakat digital.

Hal ini beralasan karena menulis pada era digital merupakan kegiatan intelektual yang bertujuan untuk mendidik masyarakat luas. Salah satu tugas penulis dalam konteks ini adalah melahirkan gagasan-gagasan edukatif yang dalam penyebarannya di media digital bisa menembus batas-batas ruang dan waktu sehingga memberikan kesadaran transformatif bagi semua kalangan.

Gambar: Writing in Era Digital

Secara etimologis, kata "transformatif" berarti perubahan sikap atau karakter seseorang secara signifikan. Kesadaran transformatif adalah istilah lain untuk kesadaran total melalui perubahan kinerja, sistem kerja, dan tatanan kehidupan yang terkait langsung dengan sikap mental, kondisi, dan struktur sosial kemasyarakatan.

Kesadaran transformatif dalam dunia menulis memiliki empat aspek utama, yakni wilayah personel, institusional, kolektif, dan global. Semua aspek ini terus mendorong penulis pada era digital untuk berkarya, dan dengan bantuan media profesional ikut menyebarluaskan gagasan-gagasan secara masif, terbuka, dan daring.

Secara personel, menulis adalah upaya sadar dan terencana untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan keadilan di tengah dunia yang selalu haus akan sajian informasi aktual, edukatif, dan yang menginspirasi. Oleh karena itu, gagasan-gagasan yang dipublikasikan tidak hanya mewakili integritas personel penulis, tetapi juga mencerahkan masyarakat digital dalam meningkatkan kesadaran membangun hidup yang lebih berkualitas.

Pada tataran ini, seorang penulis dituntut untuk menjadi corong pembaruan dan diskusi terbuka, tetapi kritis sebagai efek logis dari karya-karya yang dipublikasikan. Semakin berkualitas karya yang dihasilkan, semakin luas pula jangkauan keterbacaannya. Seorang penulis bisa memiliki ribuan, bahkan jutaan pembaca yang menyebar di berbagai penjuru dunia digital.

Belum lagi kalau berbicara tentang aspek sitasi karya. Bisa dibayangkan bahwa semakin tinggi indeks sitasi karya, semakin besar pula kontribusi penulis terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, informasi digital, dan peradaban dunia.

Tanpa disadari, menulis sebagai produk kegiatan personel dan intelektual telah menjelma menjadi elemen penting revolusi mental bangsa. Seorang penulis memberikan ruang bagi "pendidikan berbasis digital" yang bisa membentuk karakter, pola pikir, tingkah laku, dan gaya hidup para pembaca digital.

Dalam arti luas, pendidikan karakter senantiasa sejalan dengan seruan revolusi mental karena sasaran yang ingin dicapai sama -- menyuarakan transformasi bagi para pembaca daring alias masyarakat digital. Kalau itu yang terjadi, suara penulis adalah suara transformatif yang menggemakan perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama aspek politik, ekonomi, pendidikan, toleransi, multikulturalisme, dan sosiokultural bangsa.

Suara penulis pada era digital adalah suara pendidikan karakter yang menekankan tiga komponen karakter, yakni pengetahuan moral, perasaan moral, dan aksi moral (Lickona, 2014). Pesan moral dari setiap tulisan merupakan bagian integral dari pendidikan berbasis digital yang mendorong terbentuknya komunitas atau kelompok pembaca dan memperkuat soliditas gerakan-gerakan moral yang membawa perubahan konstruktif bagi bangsa dan negara.

Menulis sebagai Aksi Moral, Pedagogi Kritis, dan Media Pendidikan

Aksi para tokoh lintas agama yang menyampaikan pesan antiterorisme baru-baru ini adalah contoh nyata perasaan dan aksi moral yang membias dalam bentuk pengetahuan moral bahwa kejahatan terorisme tidak dibenarkan, melawan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran-ajaran agama sehingga harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Pada saat yang bersamaan, secara langsung maupun tidak langsung, aksi ini menampilkan wajah pendidikan karakter untuk generasi muda bangsa yang diartikulasi kembali melalui publikasi media profesional, baik cetak maupun elektronik.

Sejalan dengan gaung pendidikan karakter, menulis dalam konteks institusi tidak hanya mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang diwakili oleh penulis, tetapi juga menunjukkan taring kekuasaan dan identitas kelembagaan.

Menulis bukan lagi media refleksi atau ekspresi diri semata, melainkan dalam banyak disiplin ilmu seperti filsafat, sosiologi, psikologi, humaniora, pendidikan, ilmu sosial, dan ilmu alam, suara penulis telah mewakili otoritas institusi. Bahkan, menulis telah menjadi kesadaran dan gerakan kelembagaan melalui dukungan pendanaan, insentif atau bonus, studium generale, pelatihan, dan penelitian karena menjadi promosi lembaga yang efektif dan mengedepankan pedagogi kritis a’la Paulo Freire -- gerakan sosial pendidikan yang mengembangkan pemikiran-pemikiran kritis dalam ranah kajian tradisi-tradisi kultural.

Alasan ini rupanya memperkuat landasan pemikiran bahwa budaya-budaya lokal harus diangkat dalam berbagai karya tulis. Ulasan-ulasan yang ditampilkan tidak hanya menohok penderitaan dan kemiskinan masyarakat pemilik budaya-budaya lokal, tetapi lebih berfokus pada keunikan-keunikan yang digali dari kebijakan-kebijakan lokal, dan sudah saatnya ditonjolkan ke dunia global.

Peran pendidikan sangatlah vital dalam memberikan ruang bagi pelestarian budaya-budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai kebajikan. Penguatan terhadap nilai-nilai ini dapat mempertebal identitas kebangsaan bahwa jati diri bangsa yang unggul sangat erat kaitannya dengan roh kebudayaan dalam bentuk sikap, keyakinan, pemikiran, dan gaya hidup masyarakat.

Representasi literasi budaya juga bisa ditemukan dalam praktik-praktik sosio-kultural kehidupan bangsa yang tidak jauh dari budaya-budaya lokal. Ruang gerak dan aktivitas kemasyarakatan berakar pada nilai-nilai keutamaan, yakni toleransi, saling menghargai, gotong royong, dan multikulturalisme.

Jelas bahwa gerakan kolektif bangsa harus dibangun dari tradisi menulis yang kuat sebagai bentuk aktualisasi diri, pola pikir bertumbuh, dan eksplorasi nilai-nilai. Gerakan kolektif menjadi tumpuan perjuangan para penulis tanpa batas atau para penulis yang memperjuangkan nilai-nilai universal, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan gender melalui tulisan-tulisan yang berusia ratusan tahun, tetapi masih relevan di setiap zaman dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

Cowan (2014) mencatat bahwa prinsip-prinsip dalam teks-teks yang sudah ditulis dan diterima secara luas selama tiga puluh tahun merupakan roh pendidikan dan skema pengembangan profesional yang melibatkan para penulis kelas dunia. Hasil karya mereka menjadi rujukan para pengambil kebijakan strategis dan menembus ruang publik komunitas pembaca yang gemar mendiskusikan isu-isu pada era digital seperti inovasi teknologi informasi, cybercrime, nanoteknologi, transformasi digital, dan lain sebagainya.

Di ranah global, menulis menitikberatkan pada pengaruh keluasan konektivitas atau jaringan media yang karena kedalaman ulasan dan jangkauannya berhasil menginspirasi dunia dan mengubah cara pandang generasi di berbagai belahan dunia.

Pesan Kebaikan dalam Setiap Karya

Terlepas dari konektivitas dan kekuatan jaringan media digital, sihir Harry Potter pada tahun 2000-an mengusung pesan bahwa kebaikan berhasil mengalahkan kejahatan. J.K. Rowling mengembuskan harapan dan optimisme ke dalam setiap karyanya bahwa manusia tidak boleh tunduk pada kejahatan dalam bentuk dan motif apa pun. Sebaliknya, kebaikan adalah bumbu kehidupan, motor penggerak keharmonisan, kebahagiaan, persatuan dan kesatuan demi tercapainya mimpi-mimpi.

Gambar: Power of Writing

Demikian pula, karya-karya Pramoedya Ananta Toer telah mewakili jagat kesusastraan Indonesia di kancah global. Meskipun tidak sampai memenangkan anugerah Nobel kategori kesusastraan, karya-karya beliau yang telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di dunia selalu bernapaskan pertentangan terhadap "penjajahan", pengikisan sekat-sekat golongan dan perbudakan serta meletakkan landasan identitas keindonesiaan sejak zaman revolusi dengan cara menumbuhkan benih-benih nasionalisme dan kebangsaan.

Kekuatan sebuah karya terletak pada kehebatan penulis dalam mengemas pesan yang hendak disampaikan. Dalam tatanan karya global, tujuan menulis adalah mengedepankan inspirasi dan sikap kritis di tengah tumpukan fenomena dan fakta sosial. Dalam setiap penulisan karya, ideologi kebangsaan ikut diseret jauh ke dalam perspektif sejarah, pendidikan, kemanusiaan, keadilan, dan kehidupan yang berbeda dari biasanya.

Dengan demikian, menulis adalah proses pendewasaan pola pikir dan kecermatan menganalisis situasi. Dalam konteks karya-karya J.K. Rowling dan Pramoedya Ananta Toer, gagasan-gagasan cemerlang mereka lahir di tengah upaya ekstra keras, belajar mandiri, krisis kehidupan, dan masa-masa sulit yang dihiasi dengan kebingungan, kesedihan, dan penderitaan.

Dari perspektif ini, jelas bahwa tidak ada karya-karya besar yang lahir di tengah kondisi nyaman tanpa kesulitan-kesulitan sosial kehidupan. Tidak ada karya-karya besar yang lahir tanpa budaya membaca yang militan. Tidak ada karya-karya besar yang lahir tanpa budaya literasi, pelestarian kebudayaan lokal, tradisi, dan keunikan kesusastraan dalam suatu bangsa.

Jadi, karya-karya besar pada era digital adalah miniatur kehidupan yang kaya akan pesan-pesan kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mari kita mewujudkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

*)Penulis adalah Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan Associate Editor Jurnal Indonesia Language Education and Literature.

Menulis pada Era Digital

Diambil dari:
Nama situs : FloresPost
Alamat situs : https://www.florespost.co/2018/05/27/opini-membangun-kesadaran-menulis-di-era-digital/
Judul artikel : Opini: Membangun Kesadaran Menulis di Era Digital
Penulis artikel : Anselmus Sudirman
Tanggal akses : 30 Mei 2018