Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Pojok Bahasa

Kalau Anda mencari arti frasa "auktor intelektualis" di Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidaknya yang versi daring, Anda tak akan menemukannya. Yang akan Anda temukan hanya aktor intelektual. Menurut KBBI, aktor intelektual adalah otak berbagai tindakan yang menyimpang (seperti kerusuhan, pembakaran, pembunuhan).

Dalam dunia tulis-menulis, kita tidak asing lagi dengan istilah kamus. Selain itu, ada pula tesaurus. Kamus dan tesaurus merupakan rujukan yang biasa digunakan untuk mencari makna kata. Apa perbedaan keduanya?

Diringkas oleh: Santi T.

Para penutur bahasa Indonesia harus menggunakan kosakata dengan tepat supaya dapat menghasilkan pembicaraan yang enak didengar. Jika penggunaan kosakata tidak tepat, pembicaraan akan membingungkan pendengar. Pemilihan kata yang kurang tepat akan membuat kalimat menjadi samar-samar atau bahkan menggelikan dan bisa juga dari segi kaidah penulisan kata, kata tersebut tidak termasuk kata baku.

Perhatikan judul artikel yang ditayangkan di situs daring sebuah grup media nasional. "Andiren: Kenal ataupun Nggak, Penilaian tentang Mike Sama Rata". Selintas tak ada yang aneh. Akan tetapi, kalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada kesalahan di judul tersebut.

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga memengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan. Penyimpangan/kesalahan umum dalam berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1. Hiperkorek
Kesalahan berbahasa karena "membetulkan" bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.
Contoh:

  • utang (betul) --> hutang
  • pihak (betul) --> fihak

"Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean Bahasa Indonesia." Kurang lebih begitulah bunyi ketiga Sumpah Pemuda 28 oktober 1928. Bunyi sumpah pemuda tersebut menyerukan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa terpenting untuk digunakan di kawasan wilayah NKRI.

Sdr. Yuliantoro, pekerja pers sekaligus peminat pariwisata yang tinggal di Surakarta, menanyakan hal-hal berikut:

Apa perbedaan kata "semua", "seluruh", "segala", "sekalian", dan "segenap"?

Sebagai kata bilangan (numeralia), "semua", "seluruh", "segala", "sekalian", dan "segenap" memiliki persamaan dan perbedaan arti. Persamaan arti menyebabkan kata itu dapat saling dipertukarkan, sedangkan perbedaan arti menyebabkan kata itu tidak dapat saling dipertukarkan.

Masalah dinamika penggunaan bahasa Indonesia selalu menarik untuk didiskusikan, selain merunut pembenaran dari aturan baku yang ada. Kata yang akan kita bahas kali ini adalah "Absen" dan atau "Absensi". Kata ini sudah sangat familiar bagi kita yang bergelut di dunia akademik ataupun profesional, khususnya terkait karyawan. Kita sudah akrab dengan "Daftar Hadir", "Daftar Absen", atau "Daftar Presensi". Namun, dari ketiga istilah di atas, manakah yang paling cocok dan paling relevan dengan pemahaman kita sehari-hari dalam menggunakannya?

Beberapa waktu lalu, dalam rubrik "Klasika" Kompas edisi 5 Maret 2012 dimuat artikel singkat, "Etika Berbicara di Telepon". Di situ dijelaskan bagaimana operator telekomunikasi di perusahaan harus menjalankan tugasnya. Misalnya, ia tidak boleh bicara dengan nada tinggi. Nada bicara harus selalu dijaga dan tetap tenang. Sebagai pembuka percakapan, ia harus mengucapkan salam dan menyebutkan namanya kepada lawan bicara. Sebelum menutup pembicaraan, ia tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepada lawan bicara, dan seterusnya.

Pages