Bahan Belajar Kristen Online dapatkan di:live.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Artikel

Berikut adalah Daftar Judul Artikel.

"Menulis itu seperti berenang", demikian kata salah seorang budayawan senior Indonesia, Wilson Nadeak. Maksudnya, kegiatan menulis mengisyaratkan adanya latihan dan praktik yang tiada henti. Anda akan senantiasa belajar dan kembali berlatih berenang -- entah Anda seorang juara renang atau seorang telah sekian lama tidak berenang. Pernyataan ini perlu dicermati oleh para penulis pemula. Wilson Nadeak sendiri seorang yang dikenal amat disiplin dalam hal menulis. Beliau menulis beberapa lembar draf setiap hari sebelum berangkat ke tempat kerja. Kebiasaan ini tetap dilakukan setiap hari secara konsisten, dengan maksud mengasah naluri kepenulisan beliau.

Pada mulanya, Anda perlu banyak mendisiplinkan diri -- sampai Anda menyadari bahwa Anda ingin terus menulis, ketagihan menulis, dan menganggap kerja menulis jauh lebih mudah dibanding pekerjaan lain yang tidak melibatkan kegiatan tulis-menulis.

"Apakah Anda tidak menganggap ini sedikit berlebihan?"

Sama sekali tidak.

Ketika menulis, Anda memegang kendalinya; tidak seorang pun yang berhak mengatur (artikel ini pun tidak) apakah yang Anda akan tulis atau bagaimana Anda mengekspresikannya. Anda seorang diri di dalam ruang kerja Anda; merakit bukan dengan kayu dan paku, tetapi dengan kata-kata dan gagasan -- menciptakan puisi, cerita, dan dialog yang diucapkan serta dilakukan oleh tokoh cerita sesuai keinginan Anda.

Profesi penulis sering dikaitkan dengan kemewahan. Popularitas J.K. Rowling dan Stephen King memang memunyai daya tarik tersendiri, sebab dalam sekejap mereka sudah melihat buku-buku mereka masuk dalam daftar buku laris versi surat kabar New York Times dan meraup jutaan dolar dari royalti mereka. Sayang saja, menulis memerlukan disiplin ketekunan sebagaimana pekerjaan lainnya. Jika Anda rindu menjadi seorang penulis penuh waktu atau penulis lepas, Anda perlu mengembangkan keahlian yang tepat dan belajar mendisiplinkan diri. Dengan demikian, Anda bisa merasa yakin akan sukses!

William Blake terlahir di London sebagai putra seorang Irlandia. Semasa muda ia bekerja sambil belajar memperoleh keahlian sebagai seorang pemahat di Royal Academy, dan membiayai hidupnya sebagai pembuat ilustrasi untuk penerbit London. Ia sering merasa lemah dan nyaris tidak pernah dihargai sepenuhnya oleh penulis lainnya pada zamannya. Namun kini, Blake dihormati sebagai salah seorang tokoh paling masyhur sepanjang sejarah puisi dan kesenian.

Seperti penyair lain dari era Romantik, Blake melihat ke alam dengan penuh rasa ingin tahu yang menyegarkan. Ia menemukan misteri dan keindahan dalam kehidupannya sendiri. Tulisan dan karya seninya serupa dengan penyair Romantik lain, yang masih menyisakan sifat individualis. Satu ciri khas penting dari kepenulisannya ialah kebergantungannya pada simbol yang begitu rumit. Simbol-simbol itu kini telah menjadi jelas dan dipahami sepenuhnya oleh beberapa pembacanya.

Kemuliaan yang tidak tampak dalam semua hal telah dilakukan dan dialami Kristus di dunia ini. Jikalau orang dapat melihat kemuliaan itu, mereka tentu tidak akan menyalibkan-Nya. Namun, kemuliaan itu telah dinyatakan kepada sejumlah orang, yakni para murid: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, ...." (Yohanes 1:14).

Shalom,

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan merasa bahwa tulisan tersebut tidak "berinteraksi" dengan Anda? Ada banyak penjelasan dalam tulisan tersebut, namun tidak dapat Anda bayangkan dengan jelas, bahkan tidak terbayang sama sekali mengenai suasana, keadaan, waktu, emosi, ekspresi, dan sebagainya yang dapat membawa jiwa Anda menyatu dengan bacaan tersebut. Boleh dikatakan, tulisan tersebut tidak memiliki jiwa. Salah satu alasan mengapa tulisan menjadi tidak "berjiwa" adalah masalah detail tulisan. Banyak tulisan yang berisi pemaparan yang panjang lebar, namun tidak menuliskan dengan detail "rasa, bentuk, suasana, atau ekspresi" yang merupakan jiwa tulisan tersebut. Akibatnya, tujuan penulis pun bisa tidak tercapai, bahkan pembaca akan dengan cepat melupakan apa yang baru saja mereka baca. Tentu kita tidak ingin kita menulis dengan sia-sia, bukan?

Detail, jika disampaikan dengan kebenaran, membuat tulisan Anda hidup dan dapat membantu pembaca memahami tulisan.

Detail yang berasal dari pancaindera kita (menulis melalui indera kita), detail yang informatif, detail yang "agung"; dari situlah letak kebenarannya. Bukannya dari fakta.

Fakta: Kami makan malam pada pukul 6 malam.

Detail membuat tulisan Anda hidup! Perhatikanlah nasihat Tolstoy:

"Saya tidak memberitahu. Saya tidak menjelaskan. Saya menunjukkan."

Kata-kata Anda harus menghidupkan gambaran di benak Anda. Gambaran yang penuh warna, atau kalau mungkin, gambaran yang Anda telusuri seperti detektif yang hebat. Menurut Jack Cappon, seorang penyunting di Associated Press (AP), "warna" adalah perkara yang menyangkut detail -- terkadang detail yang kecil-kecil. Jules Loh dari AP, dalam sebuah profil Herbert Hoover, mengamati bahwa di meja kerja Hoover ada sebuah kotak yang berisi selusin pensil yang diserut tajam; sebuah detail yang biasanya tak luput dari pengamatan para penulis yang baik. Namun, Loh juga melihat bahwa penghapus di semua pensil itu hampir habis dipakai. Detail ini bercerita lebih banyak tentang Hoover daripada hal-hal yang tampak jelas: warna dasinya, kilap sepatunya, dll..

Membuat dan menggunakan garis besar yang detail adalah salah satu hal terbaik yang dapat Anda lakukan saat menulis artikel Anda. Dengan ini, Anda dapat mengatur ide-ide Anda terlebih dahulu untuk memastikan bahwa konten Anda akan mengalir dengan lancar.

Berikut adalah bagaimana Anda dapat membuat garis besar yang detail.

1. Pilih topik.

Tentukanlah topik apa yang akan Anda tulis. Pastikan bahwa itu adalah sesuatu yang akan mencapai tujuan Anda dan sesuatu yang akan menangkap perhatian target pembaca Anda.

2. Penelitian yang mendalam.

Hal berikutnya yang harus dilakukan adalah penelitian secara mendalam terhadap topik pilihan Anda. Anda dapat menggunakan blog, forum, situs, buku elektronik, dan lain-lain sebagai sumber informasi. Anda juga dapat melakukan wawancara dan berbicara dengan orang-orang yang Anda targetkan. Semakin banyak informasi yang Anda kumpulkan, semakin baik.

Bahasa Indonesia sesungguhnya adalah bahasa yang mudah dipelajari dan mudah dipakai. Buktinya hingga saat ini digunakan oleh lebih dari 100 juta orang -- paling tidak di Nusantara ini -- belum lagi orang asing yang makin banyak berbahasa Indonesia dengan lancar. Sayangnya, banyak yang kurang peduli terhadap aturan mainnya, terutama dalam penggunaan tanda baca. Contohnya, beberapa iklan di bawah ini yang tayang di sebuah harian nasional.

Iklan 1: "Rp. 1000,-/ ekor -- Festival Bebek Panggang"

Shalom,

Biasanya, awal tahun yang baru selalu menjadi momentum untuk memulai sebuah lembaran baru dalam kehidupan. Bagi para penulis, awal tahun yang baru bisa menjadi sebuah tonggak untuk lebih berkomitmen dalam menekuni dunia menulis. Redaksi e-Penulis berharap, dalam resolusi Anda tahun ini, ada komitmen untuk lebih produktif dalam menulis dan menelurkan karya-karya tulis yang semakin memuliakan Tuhan.

Dari seluruh harta yang dimiliki manusia, komunikasi merupakan harta yang paling berharga. Sejak zaman prasejarah, para pendongeng telah mendapat tempat yang baik di relung hati masyarakat. Gambar-gambar gua di Spanyol menunjukkan bahwa ribuan tahun yang lalu, tanpa bahasa tertulis pun orang telah berusaha melukiskan banyak kejadian melalui gambar.

Dari mana Anda memulainya?

Bila Anda adalah seorang penulis Kristen, maka Anda memunyai ukuran tambahan dalam hal tanggung jawab menuliskan kata-kata yang sesuai dengan hati Tuhan. Standar integritas dan kebenaran yang lebih besar juga menjadi tanggung jawab Anda kepada Tuhan dan juga pembaca Anda. Oleh sebab itu muncullah standar kesempurnaan yang terus berkembang dalam penerbitan Kristen bagi seluruh penulis Kristen. Dengan seluruh harapan-harapan ini maka bagaimana Anda mulai menulis kata-kata Anda yang mencerminkan hati Tuhan?

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Grace Livingston Hill dikenal publik sebagai "Ratu Novel Kristen". Banyak orang yang mengaguminya. Grace adalah anak tunggal seorang pastor Presbiterian yang lahir sehari setelah peristiwa penembakan Presiden Abraham Lincoln. Grace mulai mengenal tulisan melalui buku cerita yang dibacakan orang tuanya.

Grace memutuskan untuk menjadi penulis setelah suaminya meninggal. Pengalamannya menjanda memberikan kontribusi besar dalam tulisan-tulisannya. Dalam 1 tahun, rata-rata ada dua novel yang ditelurkannya. Novel pertamanya adalah "A Chautauqua Idyl" (1887). Kemudian ia menulis "The Witness" (Saksi) (1939) yang menarik perhatian harian Sunday School Herald dan yang membuat banyak orang menjadi percaya kepada Kristus serta memperbarui komitmen iman Kristen mereka. Ada juga "A Girl to Come Home To" (Gadis yang Pulang ke Rumah) yang bercerita tentang seorang veteran yang pertama kali melihat pertempuran berdarah lalu menjadi kecewa. Imannya lalu dikuatkan kembali sepulangnya dari medan perang. Sementara buku terakhir Grace yang terbit adalah "Where Two Ways Meet" (Tempat Dua Jalan Bertemu). Selain menulis novel, ia juga menulis kolom religius, "The Christian Endeavor Hour", dan berkolaborasi dengan Evangeline Booth untuk menulis "The War Romance of Salvation Army" (Romans Perang Bala Keselamatan) (1918).

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Grace Livingston Hill dikenal publik sebagai "Ratu Novel Kristen". Banyak orang yang mengaguminya. Grace adalah anak tunggal seorang pastor Presbiterian yang lahir sehari setelah peristiwa penembakan Presiden Abraham Lincoln. Grace mulai mengenal tulisan melalui buku cerita yang dibacakan orang tuanya.

Grace memutuskan untuk menjadi penulis setelah suaminya meninggal. Pengalamannya menjanda memberikan kontribusi besar dalam tulisan-tulisannya. Dalam 1 tahun, rata-rata ada dua novel yang ditelurkannya. Novel pertamanya adalah "A Chautauqua Idyl" (1887). Kemudian ia menulis "The Witness" (Saksi) (1939) yang menarik perhatian harian Sunday School Herald dan yang membuat banyak orang menjadi percaya kepada Kristus serta memperbarui komitmen iman Kristen mereka. Ada juga "A Girl to Come Home To" (Gadis yang Pulang ke Rumah) yang bercerita tentang seorang veteran yang pertama kali melihat pertempuran berdarah lalu menjadi kecewa. Imannya lalu dikuatkan kembali sepulangnya dari medan perang. Sementara buku terakhir Grace yang terbit adalah "
WHERE Two Ways Meet" (Tempat Dua Jalan Bertemu). Selain menulis novel, ia juga menulis kolom religius, "The Christian Endeavor Hour", dan berkolaborasi dengan Evangeline Booth untuk menulis "The War Romance of Salvation Army" (Romans Perang Bala Keselamatan) (1918).

Shalom,

Para penulis yang menorehkan tinta di berbagai halaman media cetak maupun yang berhasil menulis buku tidak serta merta mencapai kesuksesannya dengan mudah. Mereka tidak lain adalah para pejuang yang tak mengenal putus asa. Bukan hanya tenaga yang mereka korbankan, namun juga waktu, uang, dan perasaan. Tak sedikit penulis sukses yang harus bolak-balik ke kantor pos atau penerbit untuk mengirimkan tulisannya. Alih-alih tulisannya dimuat, malah surat penolakan yang datang. Lantas, apakah cukup sampai di sini? Tidak! Kita harus memiliki ketekunan dan kesabaran jika kita ingin tulisan kita menembus media massa. Ingat, selama ada keinginan pasti ada jalan.

"Ambisi tidak akan pernah menghasilkan apa-apa sampai ia dipadukan dengan kerja keras." (NN)

Barangkali banyak orang beranggapan menulis di media massa (surat kabar, majalah, tabloid, dll.) itu sulit. Sebaliknya, tidak sedikit yang berpendapat menulis di media massa itu gampang. Tidak mudah untuk menilai mana yang benar, mana yang salah. Sangat boleh jadi keduanya benar. Atau, mungkin yang benar rumusannya: gampang-gampang sulit; atau sulit-sulit gampang. Maksudnya, memang menulis di media massa itu tidak mudah, namun bukan berarti sulit melulu sehingga mustahil orang melakukannya. Kalau orang mau mengakui unsur kesulitannya, mau mendekatinya, bersedia merangkulnya, dan tidak henti-henti menjajalnya, maka lama- lama akan bisa atau terasa menjadi gampang. Sebaliknya, kalau orang beranjak dengan anggapan bahwa menulis di media massa itu gampang, bahkan karenanya lalu menggampangkan (menganggap segalanya gampang, dengan nada congkak), maka justru akan menjadi sulit, karena dia tidak bakal menghasilkan apa-apa, alias berhenti di tempat, stagnan.

Kebanyakan penulis pasti berharap tulisannya diterbitkan karena melihat tulisan sendiri dicetak dan dijual merupakan dukungan yang luar biasa atas panggilan, dan (sepertinya) dapat menambah pendapatan. Saya ingin memberitahukan kepada Anda bagaimana caranya sehingga tulisan saya diterbitkan dan memberikan komentar umum berdasarkan pengalaman saya.

Saya selalu ingin menulis. Saya senang menciptakan tokoh dan alur cerita dan saya suka dengan ide pengembangan orang yang menarik dan menempatkannya dalam situasi yang tak biasa atau menantang. Kira-kira 10 tahun yang lalu, saya membaca cerita pendek tentang malaikat penjaga. Gagasan tersebut membangkitkan minat dan saya mulai berpikir tentang malaikat- malaikat, khususnya menurut pandangan Kristen.

"Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 005/PUU-IV/2006 menyuratkan bahwa hakim konstitusi tidak termasuk hakim yang berada di bawah pengawasan Komisi Yudisial. Dengan kata-kata lain dapat disimpulkan bahwa "Komisi Yudisial (KY) berwenang mengawasi hakim, kecuali hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, ada juga media massa memberitakan bahwa "KY berwenang mengawasi hakim selain hakim MK."

Pemakaian kata-kata "kecuali" dan "selain" oleh penutur bahasa Indonesia memang ada kalanya keliru atau tertukar. Padahal ketidakcermatan begini berpotensi menimbulkan salah tafsir amat hakiki dan riskan, sebab kedua kata sesungguhnya memiliki fungsi saling berlotak belakang. Kata "kecuali" bersifat mempersempit (eksklusif dan disintegratif), sedangkat kata "selain" bersifat memperluas (inklusif atau komplementaris).

Shalom,

Sebagian besar orang yang menulis pasti ingin tulisannya dapat diketahui oleh orang lain, meski dalam jumlah kecil sekalipun. Itulah sebabnya banyak penulis ingin tulisannya dapat diterbitkan atau dipublikasikan sehingga ada semakin banyak orang yang dapat membaca pendapat maupun pemikirannya. Namun, jika tulisan kita tidak juga dapat diterbitkan atau dipublikasikan melalui media cetak, apakah artinya usaha kita berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak! Teknologi telah menyuguhkan beragam pilihan fasilitas agar tulisan setiap penulis tidak hanya tersimpan dalam file pribadinya saja. Dengan atau tanpa diterbitkan oleh penerbit, tulisan-tulisan tersebut masih dapat dibaca oleh orang lain. Salah satunya adalah melalui media blog.

Indonesia tak selalu kalah jika harus bersaing dengan negara maju macam Jerman, Italia, dan Perancis. Buktinya, di ranah blog WordPress, negara kita bisa mengalahkan ketiga negara Eropa tersebut. Demikian berita yang dilansir oleh situs berita www.detikinet.com. Kedigdayaan Indonesia ini dilihat dari bahasa yang tersebar di layanan blog WordPress.com. Menurut data per Desember 2008, bahasa Indonesia digunakan oleh 5 persen blog di WordPress. Sementara blog berbahasa Jerman, Perancis, dan Italia masing-masing hanya digunakan tak lebih dari 2 persen.

Pledoi Blogger Blog, entah ia hanya sekadar tren atau memang satu komponen penting dari kemunculan sebuah budaya dan peradaban baru, saya merasa beruntung bisa menjadi salah satu saksi, bahkan bagian dari sejarahnya.

Sampai saat ini mungkin masih ada beberapa pihak yang menganggap blog sebagai tren sesaat saja. Sebagaimana halnya mereka yang masih mempermasalahkan tentang mana budaya "tinggi" dan mana budaya "rendah", mereka ini menganggap karena ia hanya sebuah tren atau bagian dari pop culture, maka blog (juga friendster, forum komunitas, milis, chat, bahkan mungkin juga internet) tidak memberi sumbangan apa-apa bagi kemajuan peradaban dan budaya manusia.

Banyak generasi sebelum Perjanjian Baru ditulis, hamba-hamba Allah telah menulis kitab-kitab Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini adalah kitab suci bangsa Yahudi; jadi kita telah menerimanya melalui saluran-saluran yang agak berbeda dari rute yang ditempuh oleh teks Perjanjian Lama. Teks Perjanjian Lama telah bertahan terhadap kekerasan waktu selama berabad-abad lebih lama daripada Perjanjian Baru. Para penulis Perjanjian Lama menulisnya dalam bahasa Ibrani dan Aram, sedangkan seluruh Perjanjian Baru telah ditulis dalam bahasa Yunani. Oleh karena perbedaan-perbedaan ini, kami akan menguraikan teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu secara terpisah.

Perlunya wadah bagi para blogger Kristen Indonesia untuk saling berbagi dan menguatkan satu sama lain, mendorong Yayasan Lembaga SABDA untuk membangun situs SABDA Space pada tahun 2006 silam. Sampai saat ini, SABDA Space masih merupakan komunitas blogger kristiani terbesar di Indonesia dengan jumlah blogger lebih dari 4.000. Dalam 4 bulan terakhir, rata-rata hits per bulannya sebesar 4.293.277.

Diringkas oleh: Sri Setyowati

Ted Dekker (lahir 24 Oktober 1962) adalah seorang penulis laris versi majalah New York Times. Dia terkenal akan novel-novelnya yang menggetarkan hati dengan karakter-karakternya yang kompleks dan tak terlupakan. Pada awal kariernya, dia menulis beberapa cerita rohani yang menggetarkan hati, dan novel-novelnya dikategorikan sebagai karya fiksi Kristen. Novel-novel Dekker berikutnya adalah perpaduan ide utama novel-novelnya seperti Adam, Thr3e, Skin, Obsessed and BoneMan's Daughters, dan Fantasy -- roman yang mengeksplorasi iman secara metafora. Buku-bukunya yang paling terkenal di antaranya adalah Circle Series: Black, Red, White, Green; Paradise Books: Showdown, Saint, Sinner, House (bersama Frank Peretti); dan Skin.

Gambar: Ted Dekker

Dekker lahir dari pasangan misionaris yang hidup di antara suku-suku kanibal di Indonesia. Karena pekerjaan orang tuanya yang sering bepergian jauh dan berpisah dari anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama, Dekker menceritakan awal perjalanan hidupnya dalam satu kebudayaan di mana dia adalah orang asing yang menyenangkan dan sekaligus kesepian. Kehidupan unik itulah yang memaksanya memercayai khayalannya sendiri untuk menciptakan dunia tempat dia berada.

Setelah meninggalkan Indonesia, Dekker menyelesaikan pendidikannya di SMU internasional dan menetap di Amerika Serikat untuk mempelajari ilmu filosofi dan agama. Setelah memperoleh gelar sarjana muda dari Universitas Evangel, dia bergabung dalam dunia kerja yang menjadi batu loncatannya meraih kesuksesan. Namun, perjalanan hidupnya membuatnya resah dan setelah melewati masa-masa keberhasilan, dia membangun usaha sendiri untuk mengejar keberhasilan yang lebih besar.

Pada awal tahun 90-an, ketika mengunjungi seorang teman yang baru saja menulis sebuah buku, Dekker memutuskan untuk mewujudkan keinginan yang telah dipendamnya sejak lama, yaitu menjadi penulis novel. Dalam jangka waktu 2 tahun, dia menulis dua buah novel yang sangat panjang sebelum membuang dan menulis ulang dari awal kedua novel tersebut. Sejak saat itu, Dekker menyadari bahwa bercerita merupakan sesuatu yang membuatnya merasa puas, dan sungguh, pekerjaannya tidak jauh lebih menyenangkan dibanding tulisan hasil karyanya.

Ted Dekker adalah sebuah anomali dalam dunia penulis Kristen; tidak ada buku lain yang memiliki kategori yang sama dengan buku-bukunya.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Dia meninggalkan usahanya, mengajak keluarganya pindah ke daerah pegunungan di Colorado Barat dan mulai menulis sepenuh waktu untuk novelnya yang ke-3.

Karya pertama dari empat karyanya yang dikirimkan ke penerbit tidak menunjukkan titik terang dan membuatnya gelisah. Setelah selesai dengan keempat novelnya yang semuanya ditolak (termasuk novel terlarisnya sekarang, Black), Dekker menulis Heaven's Wager, lebih ke arah buku Kristen. Kemudian, empat tawaran datang dan Dekker menulis tiga buku, bekerja sama dengan Thomas Nelson.

Dekker mulai menulis enam cerita menggetarkan hati yang dengan cepat menduduki posisi atas daftar buku terlaris sehingga ia dijuluki sang maestro penulis cerita Kristen yang menggetarkan hati.

Yang menarik, penerbit dan toko buku-toko buku tidak begitu tahu bagaimana mengategorikan karya Dekker. Dia adalah sebuah anomali dalam dunia penulis Kristen; tidak ada buku lain yang memiliki kategori yang sama dengan buku-bukunya. (t/Setya)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Wikipedia
Alamat situs : http://en.wikipedia.org/wiki/Ted_Dekker
Penulis : Tidak dicantumkan

Banyak sukacita mewarnai minggu ketiga perayaan 15 Tahun SABDA. Selain jumlah fan SABDA yang sudah melewati angka 1.000, peluncuran Aplikasi Facebook SABDA Ayat juga telah mendapat sambutan yang hangat dari para penggunanya. Bagi Anda yang ingin facebooknya dihiasi dengan tampilan ayat setiap hari secara otomatis, silakan menambahkan aplikasi SABDA Ayat melalui URL berikut ini.

==> http://apps.facebook.com/sabda_ayat/

Penulis Adalah Seorang Pembaca

Hidup ini merupakan sebuah proses belajar, tak terkecuali bagi seorang penulis. Ia tidak akan melewatkan satu pun pengalaman belajar yang dapat menjadi inspirasinya dalam menulis. Salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman belajar adalah melalui buku. Tidak dapat ditawar-tawar, seorang penulis haruslah seorang pembaca yang baik pula. Buku merupakan gudang ilmu, pengetahuan, dan pengalaman belajar. Semakin banyak membaca, seorang penulis akan semakin berisi. Penulis harus berwawasan luas, dan itu dapat tercapai dengan membaca buku-buku yang notabene penuh dengan wawasan. Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas menulis adalah melalui membaca.

Rencana Tindakan

Ketika Anda membaca, Anda ingin memahami apa yang Anda baca. Anda ingin menikmati apa yang Anda baca. Anda juga ingin dapat mengingat dan menggunakan informasi tersebut. Jadi, bagaimana Anda bisa menjadi pembaca yang lebih baik? Berikut cara-cara yang bisa Anda lakukan.

  1. Bacalah sesering mungkin.
  2. Bacalah apa saja (cerita, buku, koran, bahkan layar komputer).
  3. Ubahlah kecepatan Anda ketika membaca.
  4. Gunakan strategi-strategi membaca.

Membaca dan menulis adalah kegiatan yang sifatnya sangat personal. Ketika Anda punya minat kuat untuk membaca dan menulis, Anda sesungguhnya hanya berhadadapan dengan diri Anda. Jika Anda sudah berapi-api untuk membaca dan menulis, namun "bara api" yang berkobar di dalam diri Anda itu tiba-tiba padam, itu berarti yang memadamkannya adalah Anda sendiri.

Ada kemungkinan "api" itu padam karena Anda tak menemukan buku yang menyenangkan diri Anda. Sebuah buku yang ingin Anda baca mungkin saja tertemukan. Namun, Anda kemudian tidak dibuat senang oleh buku tersebut. Bahkan yang lebih parah, "api" membaca itu padam karena Anda disiksa oleh si buku. Kok bisa? Karena Anda tidak mencicipi lebih dahulu dan tidak bertanya kepada diri Anda secara tajam tentang alasan Anda ingin membaca buku tersebut.

Seorang penulis pasti selalu ingin mendapatkan pelajaran berharga setiap hari. Membaca merupakan salah satu cara untuk mendapatkan pelajaran tersebut. Setiap penulis pun pasti juga ingin menambah wawasan dan keterampilan menulisnya. Kami mengajak Anda untuk membaca seputar kepenulisan sekaligus belajar menulis dalam situs Pelitaku (Penulis Literatur Kristen dan Umum).

Apa yang membedakan kata ibadah dengan ibadat? Cara yang paling gampang tentu dengan meraih kamus dan melihat apa yang dikatakan kamus tentang kedua kata tersebut. Maka cobalah membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga pada halaman 415. Pada halaman pertama dari daftar huruf I itu, kita langsung bertemu dengan kedua kata tersebut.

Baik ibadah maupun ibadat sepertinya bisa saling menggantikan. Pada lema ibadah, tercantum salah satu artinya ialah "ibadat". Demikian pula sebaliknya. Tapi benarkah keduanya bisa saling menggantikan? Belum tentu! Coba lihat pengertian lain yang ditawarkan oleh KBBI yang ukurannya memang besar itu.

Sejak duduk di sekolah dasar, kita sudah dikenalkan dengan klub belajar (belajar kelompok). Kegiatan yang sangat menyenangkan dan para anggotanya dapat belajar dengan lebih cepat karena bisa saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula dalam belajar menulis. Dengan membentuk klub menulis, kita dapat berkumpul bersama untuk menceritakan hasil tulisan dan mengispirasi satu sama lain untuk terus menulis. Bisa juga saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam menulis. Jika kita belajar sendiri, wawasan dan pengetahuan kita mungkin tidak seluas saat kita belajar bersama dalam klub menulis, dan kecepatan belajar kita tidak secepat saat kita bergabung di dalam klub menulis.

Setelah tinggal di daerah pelosok di Colorado, saya sangat mendambakan satu kehidupan seperti yang saya lihat di kota -- terutama, salah satunya kemampuan untuk menjalin koneksi dengan penulis-penulis lain. Dengan bergabung dalam kelompok menulis atau klub penulis, Anda mendapat kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan menulis yang Anda miliki secara pribadi dan bersama-sama sebagai satu tim, mengasah keterampilan Anda, dan secara terus-menerus menambah pemacu untuk mengobarkan semangat Anda dalam mencari ilham.

Salah satu hal yang membuat saya takjub pada hidup adalah ketika kita membiarkan hal-hal yang tak terduga datang. Kita seakan mengapung dengan keseimbangan "sempurna" di dalamnya. Tak ada dorongan berlebihan karena asa yang meluap-luap. Tak ada sesak karena penolakan dalam diri. Mengalir, begitu saja.

Seperti keberadaan saya di sebuah klub menulis ini. Tak terduga. Tanpa saya cari, tanpa saya tolak. Saya terima begitu saja, ketika ajakan dari seorang kawan itu menghampiri. Ini adalah klub menulis yang unik. Yang saya tahu, kebanyakan klub menulis di luar sana adalah sebuah klub yang lepas, hanya didasari oleh minat menulis. Tapi klub menulis ini dipayungi oleh satu organisasi dan berbicara atas nama satu sektor, HIV dan AIDS. Klub menulis ini bernama Klub Menulis Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), memiliki "tagline": Klub Menulis yang Menyenangkan.

Diringkas oleh: Davida Welni Dana

Tokoh penulis kali ini merupakan seorang pendeta yang juga aktif sebagai pengurus berbagai organisasi kekristenan, Pdt. Weinata Sairin, M.Th. Beliau juga adalah seseorang yang sangat berminat pada bidang sastra, jurnalistik, dan penulisan di bidang keagamaan, gereja, dan masyarakat.

Selain menulis pada berbagai media massa, ia menulis narasi Natal untuk Perayaan Natal KORPRI Pusat & ABRI sejak tahun 1990, dan bersama TB Silalahi, ia menulis naskah oratorium Natal KORPRI Pusat dan ABRI tahun 1995 dan 1996.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak harus memiliki bakat khusus untuk dapat menjadi seorang penulis. Menjadi penulis merupakan pilihan, mau atau tidak? Nah, terkadang alasan tidak memiliki bakat inilah yang menjadi hambatan bagi para penulis pemula untuk mengepakkan sayap di dunia tulis-menulis. Merasa tidak percaya diri bahwa dia mampu menghasilkan sebuah tulisan yang dapat memengaruhi dunia membuatnya memilih untuk tidak menulis. Apakah Sahabat Penulis merupakan salah satu orang yang takut untuk mulai menulis?

Sering kali, orang punya ide atau gagasan yang bagus dan ingin mengungkapkannya dengan menulis. Namun, tak jarang semua ide "brilian" itu menguap begitu saja karena kurangnya rasa percaya diri. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah sekadar karena kurangnya rasa percaya diri? Berikut ini contoh kalimat-kalimat yang menggambarkan hubungan antara menulis dan rasa percaya diri.

"Duh, aku nggak bisa nulis, nih!" "Duh, aku nggak tahu mau mulai dari mana?" "Terus, aku nulis apa, dong?" "Aku nggak yakin bakalan bisa nulis. Tulisanku kan jelek, ntar diketawain orang lagi!!!"

Sambil menunggu jadwal penerbangan, saya mengisi waktu luang di Bandara Sukarno Hatta dengan membaca buku yang ditulis oleh Susan Shaughnessy, "Walking on Alligator", sebuah buku yang merangsang kita untuk terus menulis. Dalam buku itu, Susan mengatakan,

"Jalan yang tidak dilalui merupakan sebuah gambaran yang menghantui. Hasilnya tidak akan pernah diketahui. Hampir semua orang memilih jalan yang dikenali, aman dan pasti. Tetapi karakter-karakter yang memilih jalan samping yang tidak terduga adalah karakter-karakter yang memikat untuk dibaca."

Kepercayaan diri adalah faktor yang menentukan apakah Anda menulis secara bebas, terbuka, dalam, serta jelas seperti yang Anda inginkan atau sama sekali tidak menulis.

Bila sebagai penulis Anda memiliki kepercayaan diri yang rendah, pandangan Anda tentang tulisan Anda menjadi menyimpang. Anda menjadi sangat kritis, setiap kata atau frasa yang Anda pikir tidak terungkapkan dengan sempurna, Anda buang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Segera setelah itu, kepercayaan diri Anda dalam menulis segala sesuatu yang bernilai -- yang sudah rapuh -- menjadi serapuh vas kristal yang indah. Bergeser sedikit saja, vas itu bisa jatuh ke lantai dan berserakan menjadi ribuan keping ....

Telah hadir bagi Anda semua, situs In-Christ.Net dengan wajah dan fasilitas yang baru! Kini, situs In-Christ.Net tampil semakin mantap dalam menjadi infrastruktur bagi komunitas bidang-bidang pelayanan Kristen dan kolaborasi antarpelayan Tuhan melalui media internet. Mengapa? Karena situs In-Christ.Net kini ...

Harus diakui, memang, kita sering kelabakan ketika berhadapan hanya dengan EyD. Bayangkan saja, kita harus mengerti mengenai penggunaan huruf kapital dan huruf kecil, yang hingga sekarang saja masih sering membingungkan kita. Ada pula masalah penggunaan tanda baca yang terdiri dari tanda titik (.), tanda koma (,), titik dua (:), tanda petik ganda ("), tanda petik tunggal ('), atau tanda pisah (-–) yang sering disalahmengerti dengan tanda hubung (-). Atau ketika kita berhadapan dengan aspek morfologi. Kita masih sulit menentukan mana yang benar antara, misalnya mempercayai dan memercayai; mempengaruhi dan memengaruhi.

"Jujur pada tulisan", kurang lebih seperti itulah perkataan Samuel Mulia malam itu.

Ketika saya menulis, ada tiga tujuan hasil inspirasi dari Injil yang menjadi fokus tulisan saya -- saya ingin memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31), menyokong hamba-hamba Tuhan (Ga

Ada dikatakan demikian: "Jika Anda dapat menciptakan kebiasaan menulis, Anda akan memiliki fondasi yang kuat sebagai seorang penulis."

Jika Anda kesulitan mengusahakan waktu yang cukup untuk menulis, atau terus menunda-nundanya, atau nampaknya tidak pernah mulai menulis meskipun Anda sudah merencanakannya, Anda harus berusaha menciptakan kebiasaan menulis.

Pikirkanlah hal ini sejenak -- jika Anda dapat menulis dengan konsisten selama satu jam (atau dua jam) dalam sehari:

Shalom,

Salah satu cara untuk menjadi penulis yang berhasil adalah dengan memupuk kebiasaan menulis itu sendiri. Banyak penulis yang hanya berapi-api pada awalnya, namun lama-kelamaan semangat itu surut dan berhenti ditelan aktivitas sehari-sehari. Memang, bagi penulis penuh waktu, hal ini mungkin jarang terjadi. Namun, tahukah Sahabat Penulis semua, bahwa pada dasarnya mereka pun membangun karier mereka dengan fondasi yang kuat, yaitu dengan menciptakan kebiasaan menulis itu dalam hidup mereka?

Sudah banyak yang mengenal Lee Strobel melalui buku-bukunya. Kebanyakan dari mereka mengenalnya sebagai seorang ateis yang akhirnya menerima Yesus setelah melakukan investigasi terhadap kebenaran-kebenaran Alkitab. Investigasi Lee inilah yang kemudian dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Tidak banyak yang mengenal Lee, selain fakta bahwa beliau sebelumnya adalah seorang ateis. Sebenarnya, seperti apakah sosok Lee Strobel yang sesungguhnya?

Dalam sebuah pelatihan membaca dan menulis, saya menggambarkan tingkat terendah menulis itu ada pada bentuk kegiatan menulis untuk mengisi buku/jurnal harian. Lantas, karena yang bertanya adalah seorang sarjana, saya menganggap penulisan karya ilmiah -- skripsi, contohnya -- sebagai bentuk kegiatan menulis yang sangat tinggi. Tentu, di tengah spektrum penulisan catatan harian di paling bawah dan penulisan karya ilmiah di paling atas, ada bentuk-bentuk kegiatan menulis yang sangat beragam dan banyak sekali coraknya.


Hari Buruk Anda

Teman lama Anda, Bobbi Jones, memberitahu semua orang bahwa kaos kaki Anda tidak cocok. Ibu Anda memberi Anda bekal roti keju dan dua potong wortel selama 3 hari berturut-turut. Anda tidak pernah mendapat kesempatan untuk memukul selama jam olahraga. Dan ketika pulang dari sekolah, map kesayangan Anda tertinggal di bis. Ulangi apa yang saya katakan: "Hari ini adalah hari yang buruk, menjengkelkan, dan tidak menyenangkan!"

Diringkas oleh: Yohanna Prita Amelia

Timothy F. LaHaye adalah seorang pendeta, penulis, dan pembicara yang dilahirkan di Detroit, Michigan, pada tanggal 27 April 1926. Dia telah menulis lima puluh buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Ayahnya meninggal pada saat dia berusia 9 tahun. LaHaye bergabung dengan angkatan udara pada tahun 1944 setelah menamatkan sekolah malamnya. LaHaye mendapat gelar B.A. dari Universitas Bob Jones pada tahun 1950. Pada tahun 1958, LaHaye sekeluarga pindah ke San Diego, California, di mana dia menjadi pendeta di Scott Memorial Baptist Church.

Yesus hidup! Ya, Dia hidup selamanya! Yesus menang! Dan kita pun turut dimenangkan! Selamat Paskah untuk Sahabat Penulis sekalian!

Masih dalam rangka sukacita perayaan Paskah, redaksi mengajak Pembaca sekalian merenungkan lagi bukti-bukti mutlak kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus. Tidak ada lagi yang perlu kita ragukan. Anugerah iman percaya yang Dia berikan kepada kita semakin memantapkan langkah untuk menjalani hidup ini dengan penuh makna sebagai seorang pemenang.

Pages

Komentar