Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Karya Sahabat 1: Mading Talenta (Edisi Khusus Ulang Tahun ke-7)

Oleh: Yesaya Emde

Minggu pagi itu, seperti biasanya, Tiar dan Vera berangkat ke gereja bersama-sama. Kedua cewek yang baru saja menapaki jenjang pendidikan SLTA ini selalu kompak mengikuti kebaktian pagi di gereja kecil yang ada di kompleks perumahan mereka. Beberapa meter menuju gedung gereja, mendadak Vera menghentikan langkahnya.

"Ada apa, sist?" tanya Tiar yang keheranan melihat sahabatnya bertingkah kebingungan.

"Astaga, aku lupa bawa bolpen nih, aku ambil di rumah dulu ya?" jawab Vera.

"Ah, kamu, masih muda kok udah pikun, sih? Bentar lagi kebaktian dimulai lho. Nih aku pinjemin bolpenku. Kamu tuh emang cocok dipromosikan jadi sekretarisnya Pak Ayub, hehehe," Tiar menggoda sahabat dekatnya.

Sedari SD, Vera memang sudah menunjukkan minat di bidang kepenulisan. Setiap mengikuti kebaktian, cewek manis berambut sebahu ini selalu mencatat khotbah yang disampaikan Pak Ayub, gembala jemaat mereka. Dalam persekutuan-persekutuan, Vera rajin merangkum renungan yang disampaikan oleh kakak-kakak pembimbing maupun diskusi yang dilakukan bersama teman-teman remaja lainnya. Di waktu senggang, dia juga menuangkan ide dalam bentuk cerpen, puisi, maupun sekadar coretan di buku harian.

Tiar, teman sekelasnya sejak SMP, sudah sejak lama mengagumi talenta sahabatnya. Hanya sayangnya, Vera suka pelupa, entah lupa membawa bolpen atau lupa menaruh catatannya. Sampai-sampai Tiar yang agak tomboi terkadang gemas karena harus menenangkan Vera yang kebingungan.

Pak Ayub, pendeta yang masih bersemangat di usianya yang menjelang kepala lima itu, telah siap menanti jemaat di depan pintu gereja. Ketika menjabat tangan Tiar dan Vera, Pak Ayub berpesan, "Nanti seusai kebaktian, jangan pulang dulu ya. Bapak mau minta tolong." Mereka berdua saling berpandangan penuh tanya.

Seusai kebaktian pagi itu, Tiar dan Vera menemui Pak Ayub di ruang rapat. Di sana juga ada Kak Otniel, ketua Komisi Pemuda di gereja itu.

"Adik-adik semua, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Bapak akhir-akhir ini," Pak Ayub memulai pembicaraan.

"Setelah Bapak amati, kebanyakan jemaat kita langsung pulang selepas kebaktian. Ada juga beberapa yang masih tinggal sebentar untuk bercakap-cakap, namun biasanya mereka mengobrol hal-hal yang kurang berguna," beliau menjelaskan dengan serius.

"Mereka hanya sekadar berkumpul, bukan bertemu. Dalam hati, Bapak merindukan jemaat saling berkomunikasi dan berinteraksi, melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat sebagai satu tubuh Kristus. Bapak terus menggumulkan hal ini," Pak Ayub menghela napas sejenak. Tiar dan Vera semakin penasaran.

"Puji Tuhan, ketika berbincang dengan salah satu jemaat minggu lalu, ada gagasan menarik yang mungkin bisa kita coba untuk membangun jemaat kita. Nah, Otniel akan menjelaskan lebih lanjut kepada kalian berdua," Pak Ayub menepuk pundak Kak Otniel.

"Terima kasih, Pak," sahut Kak Otniel.

"Vera, Tiar, aku perhatikan kalian memang remaja yang rajin dan berbakat. Kami minta tolong kalian membantu dalam mengatasi persoalan tersebut. Nah, aku udah mengusulkan kepada Pak Ayub agar kalian mulai merintis dan mengelola majalah dinding untuk gereja kita," jelas Kak Otniel.

Vera dan Tiar terkejut. Mereka tidak percaya telah diberi kesempatan untuk merintis suatu pelayanan.

Kak Otniel sudah lama memerhatikan kedisiplinan dan minat Vera dalam menulis dan mencatat hasil-hasil rapat komisi, sedangkan Tiar sangat piawai menghias ruangan sebagai seksi dekorasi Perayaan Paskah yang lalu. Ternyata, dari atas mimbar, Pak Ayub pun juga memerhatikan mereka berdua yang selalu menyimak dan mencatat khotbah beliau.

"Ya, Otniel yang mengusulkan program itu kepada Bapak. Bapak berpikir dengan adanya majalah dinding, jemaat mungkin akan meluangkan waktu untuk membaca renungan atau kesaksian daripada menggosipkan hal-hal yang tidak berguna," Pak Ayub menyahut.

"Lagipula, di majalah dinding itu kita juga bisa memberi ruang untuk karya anak-anak sekolah minggu maupun 'sharing' dan pokok doa dari jemaat kita bukan?" beliau menambahkan.

"Bagaimana Vera? Tiar? Apakah kalian mau membantu kami?" tanya Kak Otniel.

Vera dan Tiar saling berpandangan. Mereka mengangguk setuju, namun wajah mereka tak dapat menyembunyikan sedikit kebingungan.

"Terima kasih. Kalian bisa mulai menyusun konsep majalah dindingnya. Nanti kami akan bicarakan anggaran pemasangan papan untuk menempel dengan majelis," Pak Ayub meyakinkan.

"Kak, kami tetap minta masukan dan bantuan dari Kakak, juga dari teman-teman lainnya," kata Tiar.

"Kami juga minta dukungan doa dari Pak Ayub, agar Tuhan memakai kami untuk memberkati jemaat lainnya melalui pelayanan ini," Vera menambahkan.

Majalah dinding itu diberi nama TALENTA. Setiap bulannya, dinding timur di lahan parkir gereja dengan papan persegi panjang yang ditempeli sejumlah kesaksian, ringkasan khotbah, ayat renungan, informasi dan 'sharing' jemaat, serta karya anak-anak sekolah minggu selalu disesaki jemaat yang berebut membaca. Vera dan Tiar bersyukur bahwa pelayanan mereka selama tiga bulan ini telah membuka kesempatan jemaat untuk saling melayani lewat tulisan yang membangun.