Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Gabriel Garcia Marquez

Dari mana ia bisa menulis seperti itu? Menurut Eka Kurniawan keberhasilannya ialah karena Marquez mengisahkan dunianya sendiri, Amerika Latin yang dikemas dalam legenda sebuah desa bernama Macondo. Seperti Toni Morrison yang bersikukuh mengisahkan semesta orang-orang Negro dan Faulkner dengan dunia Selatannya. Inilah sesuatu yang sering luput dari kekaguman kita akan Marquez, yang barangkali lebih terpesona oleh "bahasa imajinatifnya" (yang konon datang dari bahasa Spanyol yang kaya dibandingkan bahasa sendiri yang masih miskin dan sederhana), plus pesona realisme magisnya. Alih-alih membiarkan diri sendiri diterangkan oleh orang lain yang belum tentu tanpa pamrih (sebagaimana dicurigai Edward Said), mengapa kita tidak mencoba bicara tentang diri sendiri, melalui kata-kata sendiri, tanpa perlu meminjam tangan orang lain, sebagaimana Marquez melakukannya untuk Amerika Latin, atau juga Milan Kundera berbuat untuk Ceko, dan belakangan penulis serupa Mo Yan melakukannya juga untuk Cina?

Pada akhirnya, jika pepatah lama mengatakan bahwa seorang penulis besar sesungguhnya seorang pencuri kurang ajar, barangkali itu pun tepat bagi Marquez. Orang-orang jeli bisa melihat jejak-jejak Faulkner, Kafka, Hemingway, Joyce, dan tentu saja Cervantes, nabi bagi para penulis berbahasa Spanyol. Plot yang tumpang tindih serupa Faulkner, dikemas dalam bahasa jernih para jurnalis sebagaimana Hemingway, itulah ciri Marquez.

NB: Sejak tahun 1999, Gabito menderita kanker limpa dan menarik diri dari kehidupan publik selepas membeli sebuah perusahaan surat kabar di Kolombia, serta aktif dalam menjembatani negosiasi di antara pemerintah dan kaum gerilyawan yang mengarut-marut negeri tersebut dalam perang saudara berkepanjangan. Bersama isterinya, ia menyepi di Mexico City, tempat ia banyak tinggal dan memutuskan untuk menulis memoar dalam bentuk trilogi.

Dirangkum dan disarikan oleh Ary dari:

1. Estorino, Maria R., "Gabriel Garcia Marquez and His Approach to
History in One Hundred Years of Solitude", dalam
http://www.loyno.edu/history/journal/1994-5/Estorino.htm

2. Kurniawan, Eka., "Living to Tell the Tale", dalam
http://ekakurniawan.com/id/news.php?newsid=1

3. Laksana, A. Bagus., "Barang Siapa Minum Seorang Diri, Ia akan
Mati dalam Sepi", Majalah BASIS edisi November-Desember 2004.

4. Artikel "The Solitude of Latin America" dalam
http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1982/marquez-lec...