Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Editorial: Sekadar Pengantar


Disusun oleh: R.S. Kurnia


PENGANTAR

Editorial sebenarnya bukanlah kolom yang paling dicari pembaca. Ketika berhadapan dengan media cetak, misalnya saja surat kabar, orang cenderung akan terfokus pada informasi utama. Jarang sekali, kalau boleh dikatakan demikian, ditemukan orang yang langsung mencari dan membaca kolom editorial.

Fakta tersebut pulalah yang mungkin menyebabkan kebanyakan media cetak tidak menaruh editorial pada halaman muka, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Dalam format surat kabar skala nasional, "Media Indonesia" tercatat sebagai salah satu dari segelintir surat kabar yang memilih meletakkan kolom editorialnya pada halaman depan. Sementara dalam format majalah, "GetLife" boleh disebut sebagai yang cukup mengedepankan kolom tersebut; Anda akan langsung menatapnya begitu membuka kovernya.

Kolom editorial memang tidak selalu hadir dengan nama editorial. Masing-masing media cenderung memberi nama yang berbeda sebagai ciri khas medianya. Ada yang menyebutnya sebagai "Dari Kami" (Intisari), "Readmefirst" (GetLife), "Prologue" (PC Media), "Mata" (Matabaca), "Dari Meja Redaksi" (Buletin Pillar). Sementara "Kompas" menyebutnya "Tajuk Rencana", "Seputar Indonesia" "Tajuk". Adapun "Media Indonesia" dan "Berita GKMI" termasuk yang masih memakai nama "editorial" pada kolom tersebut.


APA ITU EDITORIAL

Sederhananya, editorial itu merupakan kata pengantar dari redaksi. Yang menulis tidak harus seorang editor, meskipun namanya "editorial" (lihat, misalnya, pada St. S. Tartono 2005). Meski bisa disebut sebagai pengantar, editorial memang memiliki karakter yang unik sehingga, sebagai pengantar, posisinya tidak selalu berada di halaman utama. Sebab editorial bukan daftar isi yang menceritakan secara gamblang sajian edisi yang diantarkannya.

Itulah sebabnya, KBBI (2003:284) memuat lema ini untuk menyebut artikel dalam surat kabar atau majalah (pada praktiknya bisa berupa apa saja) yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tersebut mengenai beberapa pokok masalah. Sementara tentang tajuk rencana hanya disebut sebagai karangan pokok dalam surat kabar (KBBI 2003:1123).

Pandangan editorial sebagai salah satu tulisan yang mengekspresikan opini tercermin dalam pendapat Meyer Sebranek dan Dave Kemper. Opini tersebut menjadi suatu reaksi terhadap berita(-berita) terkini, kejadian, atau isu-isu yang merisaukan.


BEBERAPA JENIS EDITORIAL

Berdasarkan isinya, editorial bisa dibedakan atas empat jenis.

  1. Editorial yang menjelaskan atau menginterpretasikan sesuatu. Model ini sering digunakan untuk menjelaskan cara media tersebut menutupi subyek/topik yang sensitif atau kontroversional. Terkadang model ini juga dipakai untuk menjelaskan situas-situasi baru yang berlangsung di seputar media tersebut. Misalnya, editorial pada surat kabar sekolah akan menjelaskan peraturan-peraturan baru.

  2. Editorial yang mengkritik.

    Editorial ini menghadirkan kritik terhadap tindakan, keputusan, maupun situasi yang sifatnya membangun sembari menyediakan solusi bagi masalah yang diidentifikasikan. Tujuan praktisnya ialah mendorong pembaca untuk melihat masalah, bukan solusinya.

  3. Editorial yang persuasif.

    Berbeda dengan tipe sebelumnya, editorial model ini bertujuan untuk menyoroti solusi, bukan masalah. Umumnya, pembaca (atau institusi tertentu, biasanya pemerintah) akan didorong untuk mengambil tindakan spesifik yang nyata terhadap suatu masalah. Pernyataan politik sering kali menjadi contoh editorial persuasif yang baik.

  4. Editorial yang memuji.

    Ini tipe editorial yang paling jarang ditemui ketimbang dua model sebelumnya. Jenis editorial ini biasanya akan memuji orang(-orang) atau organisasi(-organisasi) tertentu karena telah menghasilkan sesuatu yang sangat baik.


APA YANG DIMILIKI EDITORIAL

Sebenarnya, hal-hal apa saja yang ada pada sebuah editorial? Samakah karakternya seperti jenis tulisan lainnya?

Setidaknya ada tujuh hal yang seharusnya terdapat dalam sebuah editorial.

  1. Pengantar, isi tulisan, dan simpulan seperti tulisan-tulisan lainnya.
  2. Penjelasan yang objektif mengenai isu-isu tertentu, terutama yang kompleks.
  3. Disampaikan dalam sudut pandang berita yang akurat.
  4. Opini dari sudut pandang berlawanan yang secara langsung menyanggah isu yang dialamatkan penulis.
  5. Opini penulis disampaikan secara profesional. Editorial yg baik mengangkat isu/berita, bukan personalitas dan tidak menyebutkan nama panggilan/julukan atau taktik persuasi yang licik lainnya.
  6. Solusi alternatif kepada masalah atau isu yang sedang diangkat. Siapa saja bisa mengeluhkan suatu masalah, tapi editorial yang baik harus mengambil pendekatan yang proaktif untuk menjadikan suasana lebih baik dengan menggunakan kritik yang membangun, sekaligus memberikan solusi.
  7. Simpulan yang padat dan ringkas, yang merangkum opini penulis.


PRINSIP-PRINSIP EDITORIAL

Berikut ini beberapa prinsip umum yang berlaku dalam menulis editorial.

  1. Editorial adalah sikap sebuah lembaga (penerbit) bukan sikap pribadi, pahami secara benar karakter, visi dan misi media yang bersangkutan.
  2. Editorial harus mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dan menonjolkannya, hindari pemaparan bersifat menggurui, soktahu, dan menganggap pembaca tidak memahami isu yang bergulir.
  3. Topik, arah, dan permasalahan yang akan diangkat harus dirembukkan dengan tim redaktur.
  4. Jangan menjadikan editorial hanya sekadar penghias atau pelengkap halaman; sajikan pendapat/pemaparan tentang berita yang sedang hangat.
  5. Gunakan pemakaian kalimat yang ringkas, padat, jelas, lugas, dan langsung ke pokok persoalan; jangan bertele-tele dan berputar-putar.
  6. Pada hakikatnya, editorial itu merupakan sebuah analisa singkat, diperlukan penggarapan yang serius berupa argumentasi yang solid dan valid dengan memperkaya melalui refrensi yang ada melalui kepustakaan yang lengkap dan representatif.
  7. Halaman yang tersedia sangat terbatas, oleh karena itu hindari penulisan latar belakang permasalahan secara berlebihan.
  8. Ukur dan kenalilah kemampuan serta keahlian Anda mengenai suatu bidang tertentu (menguasai permasalahan secara pasti).
  9. Pemaparan editorial harus berpijak pada kebenaran.


PENUTUP

Di negara maju seperti Amerika Serikat, keberadaan editorial memang mulai dipertanyakan. Ada anggapan bahwa kolom ini tidak perlu ada sebab daya nalar masyarakat Amerika dianggap sudah cukup tinggi. Mereka dapat memberi kesimpulan secara mandiri terhadap apa yang dibaca. Namun, kolom ini tetap dipertahankan karena dianggap sebagai jantung dan roh media.

Editorial memang bukan kolom yang paling dicari. Meski demikian, posisi editorial tetaplah penting. Bukan semata-mata untuk memenuh- menuhi isi sebuah publikasi. Bukan pula karena publikasi lain (surat kabar, majalah, atau tabloid) menyajikannya (sekadar ikut-ikutan; karena memang sudah seharusnya ada). Tetapi sebuah editorial menghadirkan aspek edukatif (sekaligus sedikit provokatif dalam arti positif) kepada pembacanya (lihat lagi butir 2 di atas).


Bahan-bahan lain

- How To Write an Editorial
http://www.physiosa.org.za/Publications/documents/Guidelines_editorial20...

- Writing an Editorial
http://custom-writing.org/blog/writing-tips/121.html

- Writing an Editorial
http://www.edu.gov.mb.ca/k12/cur/socstud/frame_found_sr2/tns/tn-26.pdf

- Editorials an Influential and Important Responsibility
http://www.nique.net/issues/2002-04-12/opinions/3


DAFTAR BACAAN

Anonim. Peran dan Fungsi Editorial, dalam http://www.lin.go.id/dokumen/100902jA2A0001/EDITORIAL(OL10902).doc.

Weintraut, Alan. Tanpa Tahun. Writing an Editorial. Dalam http://www.geneseo.edu/~bennett/EdWrite.htm.

Koesworo, F.X., J.B. Margantoro, dan Ronnie S. Viko. 1994. Di Balik Tugas Kuli Tinta. Surakarta dan Yogyakarta: Sebelas Maret University Press dan Yayasan Pustaka Nusatama.

Sebranek, Meyer and Dave Kemper. How To Write Editorial. Dalam "The Write Source 2000", http://projects.edtech.sandi.net/montgomery/sandiegowatershed/how_to_wri....

Tartono, St.S.. 2005. Menulis di Media Massa Gampang!. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.