Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Editor Kristen Rindu Melayani

Melayani sesama berarti membimbing, menghargai, dan memenuhi kebutuhan orang lain. Bagi editor, pelayanan adalah cara hidup. Melayani orang lain merupakan aturan main paling penting bagi editor, termasuk bagi editor Kristen. Editor Kristen melayani empat tuan: penerbit, penulis, pembaca, dan Tuhan.

EDITOR MELAYANI PENERBIT

Penerbit adalah sebuah perusahaan atau organisasi atau perseorangan yang membiayai penerbitan, pencetakan, dan pendistribusian media bacaan. Dalam penerbitan, editor bertanggung jawab memperoleh, mengedit, dan memproduksi bahan-bahan bacaan.

Editor adalah mata dari perusahaan penerbitan.

Editor melihat potensi yang ada pada konsep, garis besar, dan naskah yang masih mentah. Editor mereka-reka, membayangkan, atau menerka maksud dari penulis. Kadang-kadang editor bertemu dengan orang yang memunyai pengalaman atau ide-ide yang menarik untuk diceritakan. Orang tersebut mungkin tidak berniat untuk menulis artikel atau buku. Sang editorlah yang dengan kreatif memberi dorongan kepadanya untuk menulis.

Editor tidak hanya melihat kelemahan dari naskah tersebut, tetapi editor juga perlu menyampaikan dengan efektif apa yang dia dapatkan dari sebuah tulisan kepada semua orang yang terlibat dalam proses penerbitan.

Editor berperan sebagai fasilitator.

Sering kali para editor dipandang sebagai makhluk yang terisolasi, makhluk yang dibayar untuk duduk di balik meja, membaca dan menulis sepanjang hari. Itu tidak benar! Walaupun jantung kehidupan editor adalah kata-kata dan ide-ide, siapa pun yang berkecimpung dalam bidang editorial untuk waktu yang cukup lama mengetahui bahwa dia memunyai banyak pekerjaan, tugas, atau aktivitas yang berbeda-beda. Masing-masing pekerjaan merupakan pelayanan kepada penerbit.

Editor membantu membuat proses penerbitan berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Editor perlu menghadapi setiap masalah yang timbul saat proses penerbitan tersendat atau saat proyek mereka melewati batas waktu. Terkadang editor perlu mencari naskah baru, bekerja dengan para penulis untuk memperbaiki naskahnya, menolong penulis untuk menulis ulang, menghitung biaya dan laba dari sebuah produk, meyakinkan bagian pemasaran dan penjualan dengan produk tersebut sehingga mereka tertarik untuk menjualnya.

Editor juga bernegosiasi mengenai kontrak dengan pengarang. Dia mengatur para pengarang dan naskah-naskah pada waktu yang bersamaan. Dia mengatur alur kerja publikasi-produksi-proses grafis. Dia berpartisipasi dalam berbagai pertemuan editorial. Dia juga menulis teks untuk sampul buku atau katalog. Di antara semua kegiatan ini, editor mengedit naskah-naskah!

EDITOR MELAYANI PENULIS

Peran editor sebagai seorang pelayan terlihat jelas dalam hubungan antara editor dan penulis. Ketika kita bekerja dengan seorang penulis, kita secara eksklusif menjadi milik mereka. Paling tidak, demikianlah si penulis melihatnya. Akan tetapi, editor memerlukan pembagian waktu yang tepat dan seimbang. Pengarang perlu menghargai waktu editor karena editor juga memiliki tanggung jawab terhadap para pengarang lain. Karena itu, kita perlu mengerahkan seluruh kemampuan terbaik kita untuk membina hubungan yang profesional namun personal, yaitu hubungan yang bersifat saling percaya tetapi tidak ekslusif.

Editor tidak dapat mengajarkan bakat menulis. Kita hanya dapat mengajarkan penulis untuk bersikap lebih serius dengan bakat mereka sendiri dan mendorong mereka untuk mengembangkannya lebih baik. Bagian dari pelayanan editor adalah mendapatkan hasil yang terbaik dari para penulis.

Penulis adalah orang yang rapuh. Barangkali mereka terlihat kuat di luar, tetapi mereka merupakan campuran yang rumit dari kegelisahan dan otoritas, kebanggaan dan kerendahan hati di batin mereka. Editor perlu memahami hal ini dan belajar cara untuk menghadapinya dengan benar. Kita perlu belajar cara membaca hal-hal yang tersirat agar kita tahu bagaimana kita bisa memberikan semangat yang sesuai dengan kebutuhan penulis.

Editor bukanlah professor yang menasihati seorang murid yang bodoh. Dia juga bukan intelektual superior yang memberikan instruksi kepada yang inferior. Walaupun para penulis meyakinkan para editor dengan cukup serius bahwa mereka ingin karya mereka dikritik secara jujur dan bahkan "dengan kejam", setiap perubahan atau saran dapat menjadi hal yang menyakitkan bagi penulis. Bayangkanlah komentar dari catatan-catatan editorial Anda ditujukan kepada Anda sendiri. Bagaimana perasaan Anda? Apakah kritikan itu terlalu kasar, terlalu sombong. Bagaimana nadanya?

Walaupun mengubah kata-kata bisa memperlemah beberapa jenis tulisan, kata-kata adalah bagian pekerjaan editor yang berharga. Sebuah kata "mungkin" di sini, sebuah kata "barangkali" di sana seperti sesendok gula yang membuat obat dapat ditelan. "Menurut saya, ini dapat dibaca lebih jelas dengan cara seperti ini. Bagaimana menurut Anda?" Perkataan ini akan membawa penulis ke dalam suatu percakapan. Perkataan ini seringkali membantu pengarang melupakan kebanggaan, subyektivitas, kekeraskepalaan, dan kelelahan. Hal ini justru membantu mereka mendengarkan dan menerima saran editorial atau kritik.

Seorang pelayan dipercaya untuk mengurus barang milik orang lain. Editor banyak menangani barang milik orang lain: ide orang lain, kata-kata orang lain, artikel orang lain, buku orang lain. Saat mengurusi karya orang lain dengan cara memberikan sentuhan-sentuhan di berbagai tempat, editor mendorong penulis untuk berjuang mencapai kesempurnaan. Penulis yang baik senang akan hal ini. Penulis mengetahui bahwa editor yang baik sesungguhnya mengutamakan kepentingan penulis.

EDITOR MELAYANI PEMBACA

Editor adalah pembaca pertama naskah (maaf, teman dan keluarga tidak masuk hitungan). Editor pula yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh penulis: Apakah buku saya enak dibaca? Apakah tulisan saya mengalir dengan lancar? Apakah membaca buku saya menyenangkan atau berguna atau menuturkan suatu pengalaman yang memberi inspirasi? Apakah ada bagian-bagian yang tidak penting? Apakah tulisan saya masuk akal? Apakah ada sesuatu yang baik dalam tulisan ini?

Karenaeditor yang bekerja untuk pembaca, kita juga perlu mengetahui apa yang dipikirkan oleh pembaca. Apa yang menjadi perhatian mereka? Topik apa yang ingin mereka baca dan apa yang perlu mereka baca. Saya yakin bahwa editor perlu menyemangati pembaca untuk berani mencoba arah yang baru, arah yang mungkin tidak mereka ketahui. Kita perlu menyeimbangkan antara topik yang sedang "hangat" dengan topik yang "awet".

Jika kita ingin melayani pembaca, kita perlu menghormati pembaca. Kita perlu memerhatikan buku, penulis, ide dan gaya bahasa sebuah karya. Tidak ada yang namanya satu "masyarakat pembaca" yang hebat. Sebaliknya, karena ada banyak budaya serta individu yang berbeda, maka ada banyak tipe pembaca, kebutuhan dan kepentingan. Tentu saja ada hal-hal yang bersifat universal. Contohnya, kebanyakan orang Kristen barangkali tertarik dengan buku yang membahas tentang doa atau pemuridan atau kedisiplinan hidup orang Kristen. Akan tetapi, ada banyak cara yang berbeda untuk mengelola dan menyampaikan subyek-subyek ini kepada pembaca. Sebagai editor, kita tidak bisa bersikap elitis kepada para pembaca atau jenis-jenis kesusastraan.

Saya peka terhadap sikap ini karena selama bertahun-tahun di balik layar saya telah mendengar (dan merasa bersalah) dengan sikap merendahkan penulis atau buku atau gaya bahasa tertentu. Tentu saja kita perlu membedakan karya-karya tersebut; kita perlu mencari yang terbaik dalam jenis dan kategori buku tertentu. Namun demikian, kita perlu menyadari bahwa topik dan gaya bahasa yang berbeda-beda cocok dan menarik bagi orang-orang yang berbeda juga.

Benar, kita menerbitkan buku yang menarik bagi kita, yang menggugah kita, yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu, yang kita nikmati. Akan tetapi, radar editor kita juga perlu memberi sinyal bahwa orang lain juga akan tertarik membaca buku itu.

Saat kita melayani pembaca, materi apapun itu perlu menggugah kita terlebih dahulu. Materi itu harus membuat kita terpukau, memberi inspirasi, memikat dan memotivasi kita. Edward England, seorang penerbit besar dari Inggris, menuliskan, "Saya belajar untuk menerbitkan karya yang membakar hati dan pikiran saya. Jika sebuah buku doa tidak mendorong saya untuk berdoa, jika sebuah buku tentang orang-orang yang lapar tidak mendorong saya untuk memberi, jika Roh Kudus tidak mendorong saya untuk mencari berkat-Nya, maka saya akan menolak untuk menyuntingnya. Saya adalah seorang penerbit yang bekerja dengan hati bukan dengan kepala."

Editor dan penulis perlu berhubungan untuk menjalin hubungan dengan pembaca. Katherine Paterson, seorang putri keluarga misionaris yang lahir dan mengenyam pendidikan di China, yang bukunya untuk kaum muda mendapatkan penghargaan "The Newbery and National Book" mengatakan, "Tidak masalah seberapa bagusnya sebuah tulisan, sebuah buku belum bisa dikatakan selesai sampai buku itu selesai dibaca."

EDITOR MELAYANI TUHAN

Editor melayani penerbit, penulis, pembaca. Akan tetapi, di atas segalanya, editor Kristen juga melayani Dia yang memanggil kita untuk ikut dalam pekerjaan-Nya. Dalam panggilan, bakat dan kemampuan yang Dia anugrahkan kepada kita, kita perlu mempertanggungjawabkan pekerjaan kita kepada-Nya.

Beberapa ayat Alkitab tampaknya menyentuh para editor secara langsung. Salah satu ayat favorit saya adalah Pengkhotbah 12:10 "Pengkhotbah berusaha mendapat kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur." Allah memercayakan Firman-Nya pada kita. Apa kata Firman-Nya itu? I Korintus 4:2 mengatakan "yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai."

Salah satu cara editor Kristen melayani Tuhan adalah dengan sikap dan hati seorang pelayan. Editor bekerja di belakang layar untuk melayani penulis dan penerbit. Sikap seperti ini dimiliki oleh editor-editor yang baik, mulai dari penerbit New York sampai penerbit Kristen yang kecil. Karakter inilah yang membangun keahlian dan kemampuan dalam profesi ini. Itulah sebabnya hati dan sikap seorang pelayan memegang peranan penting dalam posisi sebagai editor.

Diambil dan disunting dari:

Judul artikel asli : Servanthood and The Christian Editor
Nama makalah : Pelatihan Editor Kristen Indonesia
Penulis : Judith Markham
Penerjemah : Tim Bina Kasih
Halaman : 1 -- 6