Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

"Dream Big": Belajar dari Kesungguhan Samuel F.B. Morse sebagai Seorang Kristen

Penulis: Julius Manullang (Peserta Kelas Menulis Online "Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab")

"Justru karena itu … menambahkan kepada imanmu kebajikan … pengetahuan … penguasaan diri … ketekunan… kesalehan… kasih akan saudara-saudara … kasih akan semua orang." (2 Petrus 1:5-7)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur, angan-angan; sedangkan memimpikan adalah bermimpi akan sesuatu, mencita-citakan sesuatu yang susah atau tidak mungkin dicapai.

Keluarga Dr. Jedidah Morse, pendeta dan ahli geografi, memegang teguh ajaran Alkitab tentang penciptaan yang akan membentuk dasar iman Samuel Finley Breese Morse. Seperti anak-anak pada umumnya, Samuel kecil mempunyai mimpi besar. Dimulai dari masa sulit yang bahagia ketika menjadi pelukis terkenal, dia bersama saudaranya, Sidney, justru terinspirasi membuat pompa air yang lebih baik dan sebuah mesin pemotong batu pualam. Temuan ilmiah berikutnya muncul ketika dia bersama John Draper, seorang ilmuwan dan guru besar, dapat meningkatkan proses kimia fotografi sehingga hanya diperlukan waktu satu menit untuk menyelesaikan suatu sesi pemotretan (sebelumnya memakan waktu selama sepuluh menit). Akan tetapi, mimpi besar yang sebenarnya adalah ketika ia berhasil menemukan telegraf dengan sandi Morse sesuai dengan nama keluarganya.

Gambar: Samuel Morse

Setiap orang pasti mempunyai mimpi atau memimpikan sesuatu. Sejumlah anak nelayan di kampung pesisir kota Cirebon, Jawa Barat, memimpikan kalau mereka sudah besar nanti ingin menjadi guru atau dokter atau atlet atau profesor. Jauh sebelumnya, pada awal abad ke-20, para pendiri bangsa memimpikan mimpi-mimpi indah untuk membangun bangsa dan negara Indonesia merdeka. Para atlet nasional Indonesia terus berlatih keras untuk meraih mimpi akan mempersembahkan medali emas bagi Indonesia pada Asian Games Agustus sampai September 2018 di Jakarta dan Palembang.

Tulisan artikel ini bertujuan untuk mengajak para pembaca supaya menggumulkan segala mimpi pribadi, seberapa kecil atau besar pun itu, di atas dasar pengenalan akan Allah yang kekal (iman). Kembali kepada kisah Samuel Morse di atas. Pada 1843, dia berhasil meyakinkan dan menarik minat pemerintah Amerika Serikat untuk membiayai pembangunan jalur telegrafi pertamanya dari Washington ke Baltimore dengan anggaran yang tersedia dan dalam waktu yang ditentukan. "Keajaiban yang dibuat Allah" dari kitab Bilangan 23:23 disampaikan oleh seorang wanita muda Kristen, putri sahabatnya, untuk menyatakan bahwa Tuhanlah yang telah mengilhami dan mendukung Morse selama ini.

Suatu penemuan atau kegiatan tertentu (dalam bentuk apa pun yang berasal dari suatu mimpi) akan menjadi pekerjaan-pekerjaan baik yang berlimpah dan unggul jikalau dilakukan dengan kekuatan dan keberanian (kebajikan) berdasarkan iman. Sebenarnya, Morse termasuk berhasil dalam kariernya ketika ia memadukan bakat seni dan ilmunya. Akan tetapi, ia memperoleh kekuatan dan keberanian dalam kariernya ketika ia menghadapi masalah kelambatan proses komunikasi pada waktu itu. Telegraf dengan sandi Morse perlahan-lahan, tetapi pasti, turut memberikan andil memperdamaikan kubu Amerika Serikat dan Inggris yang telah bertahun-tahun berperang karena masalah komunikasi. Telegraf juga membantu memperbaiki hubungan komunikasi antaranggota keluarga yang terpisah jauh setelah kejadian memilukan yang dihadapi Morse ketika ia baru menerima kabar kematian istrinya satu minggu kemudian. Morse mengalami sendiri kebesaran dan keagungan pertolongan Tuhan bagi manusia yang berdosa melalui penemuan telegrafnya yang memelopori dan memengaruhi kemajuan proses dan teknologi berkomunikasi antarmanusia sepanjang zaman.

Setiap orang percaya harus berusaha mendapatkan pengetahuan dan hikmat yang berguna untuk memberikan arahan yang tepat supaya setiap penemuan mendapat perkenanan dan sesuai dengan kehendak Allah. Morse melihat hubungan yang saling melengkapi antara pengetahuan ilmiahnya dengan iman Kristennya. Teknologi telegraf dengan sandi Morse temuannya menjadi bukti nyata kehendak Allah untuk masa depan komunikasi antarmanusia yang diterangi dengan harapan dan sukacita.

Injil mengajarkan tentang penguasaan diri dan juga kejujuran supaya kita tidak berlebihan menggunakan hal-hal baik dari kehidupan alamiah (seperti makanan, minuman, rekreasi atau penghargaan tertentu) yang dianugerahkan untuk menggunakan setiap penemuan kita. Keberhasilan telegrafi mendatangkan ketenaran dan perbaikan keuangan bagi Morse. Namun, ada beberapa orang culas pada masa itu yang mencoba menggugat hak kepemilikan Morse atas penemuannya. Morse tetap seorang Kristen yang rendah hati dengan mengaku "Semuanya adalah karya Dia. Bukan bagi kami, tapi bagi nama-Mu lah, ya Tuhan, semua pujian." Mahkamah Agung Amerika Serikat justru meneguhkan hak penemuan Morse dan jasa-jasanya yang bisa digunakan untuk keperluan praktis dan berkomunikasi masyarakat.

Kesempurnaan semua karya penemuan kita diperoleh melalui ketekunan untuk dapat menghadapi dan menanggung segala kesukaran dan penderitaan jalan salib kepada Dia, yang berkuasa menopang kita, sehingga melalui pengalaman kesalehan ini, kita memperoleh pengetahuan tentang kebaikan kasih dari Bapa surgawi yang tidak pernah mengambil kembali kebaikan dari anak-anak yang dikasihi-Nya. Kepercayaan Morse kepada Juru Selamat dan Tuhannya, Yesus Kristus, tampak nyata dalam semua aspek hidup dan pekerjaannya. Selama kurang lebih sebelas tahun, ia berulang kali mencoba mendemonstrasikan penemuan sandi telegrafnya dan mengalami banyak kegagalan. Morse hidup dalam kemiskinan, kesedihan, frustrasi, dan cemooh. Akan tetapi, ia selalu mengandalkan berkat Allah yang tak berkesudahan dan mengatakan: "Hanya Dia yang berkuasa menopang saya untuk melalui semua pencobaan saya."

Dan, semua mimpi besar kita akan memuliakan nama Kristus ketika kita menjadi pelayan kasih bagi sesama saudara kita dalam Kristus dan bermurah hati kepada semua orang. Meskipun hidupnya sering dalam kekurangan, Morse selalu tergerak menyumbang banyak untuk pekerjaan Tuhan. Dia mendukung para misionaris dan badan-badan yang mendidik pendeta. Dia juga menyediakan waktunya kepada Allah. Di gerejanya, dia mendirikan salah satu sekolah minggu yang pertama di Amerika Serikat. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk memberikan semangat kepada sesama orang Kristen dan juga masyarakat.

Samuel Morse memperoleh anugerah mimpi besar yang menjadikannya sebagai penemu telegraf dan temuan-temuan lainnya supaya ia hidup saleh dan memperoleh pengenalan akan pribadi dan karya Kristus dalam dan melalui hidupnya. Walaupun ia bukan lulusan dari sekolah teologia, tetapi Tuhan berkenan memanggil dan memimpin dia boleh mengambil bagian dalam kodrat rencana ilahi-Nya dan memberikan dia hikmat untuk dapat melalui semua krisis hidup yang dia alami.

Semua orang boleh bermimpi untuk menjadi atau melakukan apa saja dalam hidupnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kini dan kedepan sudah tidak dapat dibendung lagi. Kita sedang menghadapi era zaman serba versi 4.0 (empat titik nol), seperti Revolusi Industri 4.0 yang membawa efek disruptif dalam segala bidang. Akan tetapi, banyak orang yang tidak menyadari kalau minat mereka yang menggebu-gebu dalam era ini telah menjadi jebakan yang menyeret mereka masuk dan hidup dalam hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia dan diri mereka sendiri.

Sebagai orang Kristen yang telah menerima iman karena keadilan Allah dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus, kita telah dianugerahkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup kudus sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Apakah kita mempunyai mimpi besar sebagai penemu seperti Samuel Morse, atau sebagai anak-anak nelayan, atau sebagai pelaku di dunia politik dan sosial kemasyarakatan, atau sebagai atlet olahraga sesuai dengan ilustrasi di atas, atau sebagai misionaris atau pendeta atau guru Sekolah Minggu atau sebagai apa pun, baiklah kita berusaha bersungguh-sungguh melakukannya supaya panggilan dan pilihan hidup kita diteguhkan. Dengan demikian, kita akan dipimpin untuk memasuki Kerajaan Kekal yaitu kerajaan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus.

Lakukan langkah-langkah diatas dan mimpi besar kita akan menjadi berkat (jm).

*) Artikel ini pernah dimuat di situs ebahana tanggal 30 Juni 2018 dengan beberapa tambahan dan revisi.

Komentar