Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Dia Tetap Memberi yang Terbaik

Pagi hari, 19 Oktober 2004 ... kami sekeluarga benar-benar syok, dikagetkan karena orang yang kami kasihi meninggal dunia. Bukan hanya kami sekeluarga yang kaget dengan kejadian ini, tetapi seluruh kerabat yang kami hubungi, teman-teman, dan semua orang yang mengenal mama, mereka juga kaget. Mereka ada yang kemarin ketemu dengan mama, ada yang janjian selasa sore mau diajak makan-makan dengan mama, ada yang kemarin baru ngobrol-ngobrol dengan mama. Mama sehat-sehat saja ... Tidak ada pesan-pesan atau tanda-tanda sama sekali, benar-benar serasa mimpi.

Pagi itu, di RS Kasih Ibu, papa dan kami didampingi Pak Fri. Beliau memberikan kata-kata penghiburan kepada kami, banyak kata yang beliau keluarkan untuk menguatkan kami sekeluarga ... manusia tidak bisa mengerti maksud dan rancangan Tuhan, tetapi satu hal yang pasti, "DIA tetap memberi yang terbaik bagi kita".

Gambar: Pengorbanan Kristus

Awalnya, kami tidak bisa menerima kata-kata itu. Memberi yang terbaik? Dari segi mananya? Apakah bisa kita mengatakan bahwa kejadian ini baik?

Akan tetapi, ada satu renungan yang menguatkan: "Saya memohon kekuatan .... Dan, Tuhan Yesus memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat. Saya memohon kebijakan .... Dan, Tuhan Yesus memberi saya persoalan untuk diselesaikan. Saya memohon kemakmuran .... Dan, Tuhan Yesus memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja. Saya memohon keteguhan hati .... Dan, Tuhan Yesus memberi saya bahaya untuk diatasi. Saya memohon cinta .... Dan, Tuhan Yesus memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong. Saya memohon kemurahan atau kebaikan hati .... Dan, Tuhan Yesus memberi saya kesempatan-kesempatan. Saya tidak memperoleh yang saya inginkan. Saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan. Kadang, Tuhan Yesus tidak memberikan yang kita minta, tetapi dengan pasti .... Tuhan Yesus memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti atau mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, kenyataannya, itulah yang terbaik untuk kita."

Banyak orang yang memberi komen tentang mama. Memang, semuanya kaget dengan kepergian mama, tetapi mereka memuji mama; karena mama termasuk orang yang "supel" dalam pergaulannya. Temannya dari berbagai kalangan dan kelompok. Apalagi mama akhir-akhir ini sangat aktif dalam pelayanan besuk di gereja. Kalau melihat tipe mama, rasanya mustahil dia bisa bertahan dalam tim besuk seperti itu. Akan tetapi, heran, ternyata mama pernah cerita ke seseorang, bahwa saat dia menjadi tim besuk, orang yang dikunjungi ini sengaja tidak mau keluar-keluar. Akan tetapi, buat mama itu adalah tantangan, dia bilang dia tidak mau menyerah .... Dia bilang gini, "Kalo loe gak mau keluar ... yah gue tetap tunggu ... loe bisa apa?" demikian mama bercerita dengan gaya Jakartanya. Dan, memang, akhirnya orang itu keluar juga.

Akhir-akhir ini, mama memang aktif ikut dalam kegiatan gereja, bahkan minggu sebelum dia meninggalkan kami, mama pergi ke gereja empat kali dalam satu minggu untuk temu doa selasa, persekutuan lansia kamis, ceramah keluarga sabtu, dan kebaktian minggu pagi. Kami juga mendengar komentar orang-orang kalau mama sangat baik, senang memberi, dan mama kalau bicara memang apa adanya. Akan tetapi, hebatnya, orang bisa menerima walaupun cara bicaranya sangat "blak-blakan". Aku bisa melihat mama menggunakan waktu yang diberikan Tuhan Yesus selama hidup di dunia ini dengan baik.

Dari apa yang kami tahu tentang mama, kami bersyukur punya mama seperti dia dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Dia memiliki karunia memberi dan hidupnya penuh dengan semangat memberi ... dia ada semangat untuk mau menjadi berkat, juga dia semangat menggunakan waktunya untuk kepentingan orang lain.

Kami mau merefleksikan kehidupan mama dalam kehidupan kita, apakah arti hidup kita? dengan satu renungan di bawah ini.

Arti Hidup

Musim hujan sudah berlangsung dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan tampak menghijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin. "Apa kabar daun hijau?" katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. "Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?" tanya daun hijau. "Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?" kata ulat kecil. "Tentu ... tentu ... mendekatlah kemari". Daun hijau berpikir, "Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya, aku akan kelihatan berlubang-lubang. Namun, tidak apalah."

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini, tetapi ia bahagia bisa melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya, ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh, akhirnya, semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati" bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlubang, tetapi itu sebenarnya tidak memengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita.

"Isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran, dan kerendahan hati."

Facebook Twitter Telegram WhatsApp

Bagi "daun hijau", berkorban merupakan suatu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai "daun hijau". Suatu hari, ia akan kering dan jatuh. Demikianlah kehidupan kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya, isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran, dan kerendahan hati.

Sekian, Tuhan memberkati keluarga besar Hidayat Tjokrosusanto.

Dikutip dari:
Judul buletin : Cintaku untukmu Kalam Kudus
Judul artikel : Dia Tetap Memberi yang Terbaik bagi Kita
Penulis artikel : Lina
Halaman : 7