Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Cara Kreatif Membangun Kebiasaan Menulis

Ditulis oleh: Yosua Setyo Yudo

"We first make our habits, and then our habits make us," demikianlah kata-kata dari John Dryden, seorang penyair, aktor drama, dan kritikus sastra yang berpengaruh pada Era Restorasi Inggris. Lewat kata-kata itu, ia hendak mengatakan bahwa kitalah yang membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kita miliki, tetapi di kemudian hari, kebiasaan-kebiasaan itulah yang akan menunjukkan kepada dunia siapa diri kita yang sebenarnya.

Berkaitan dengan dunia kepenulisan, paling tidak ada tiga hal yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kebiasaan menulis yang baik:

1. Keinginan

Jika keinginan untuk menulis sudah ada, maka semua halangan yang lain akan lebih mudah disingkirkan. Sebaliknya, jika keinginan untuk menulis tidak ada, maka usaha apa pun akan terasa sebagai tekanan dan paksaan.

2. Kedisiplinan Diri

Kedisiplinan membantu seseorang untuk "bersikap keras", untuk mendorongnya membangun sebuah kebiasaan menulis.

3. Keuletan

Keuletan dapat berarti semangat untuk terus maju sekalipun kualitas tulisan belum sempurna, bersabar terhadap diri sendiri, serta memaafkan diri sendiri ketika tidak dapat mencapai target yang telah ditentukan (sambil terus berusaha tentunya).

Dari sekian banyak cara kreatif yang dipakai untuk mendorong seseorang untuk disiplin menulis, di bawah ini ada tiga cara yang paling sering dipakai:

1. Menulis Jurnal Pribadi

Banyak orang yang menyamakan menulis jurnal pribadi dengan menulis buku harian. Sedikit mirip memang. Namun, menulis jurnal pribadi memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar menulis pengalaman sehari-hari. Kita bisa menganggap jurnal kita sebagai laboratorium kepenulisan, sebuah tempat di mana kita bisa bereksperimen dengan kata-kata, frasa, dan istilah maupun menulis jenis tulisan tertentu.

Bagaimana dengan topik yang ditulis di jurnal pribadi? Apakah topik yang membutuhkan pengetahuan spesifik tentang sebuah hal tertentu, dapat ditulis di jurnal pribadi? Jawabannya, ya dan tidak. Memang, topik yang biasanya ditulis dalam jurnal adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesan penulisnya, tentang bagaimana ia memandang sebuah masalah, apa yang berarti baginya, perasaannya, atau tentang orang-orang yang memengaruhi hidupnya. Tetapi tidak selamanya seperti itu. Jika Anda ingin menulis tentang Timlo (makanan khas Solo), misalnya, Anda dapat membaca beberapa artikel yang berkaitan dengan makanan tersebut, dan kemudian menulis topik itu dalam jurnal Anda menurut pengetahuan yang baru Anda dapatkan.

Ada beberapa hal yang perlu diingat ketika menulis jurnal harian. Hal pertama yang harus Anda ingat adalah Anda bebas melakukan apa pun. Tidak ada seorang pun yang akan membaca dan memberi penilaian atas tulisan Anda (kecuali Anda mengizinkannya). Hal lainnya adalah menulislah lebih cepat daripada biasanya. Hal ini akan "memaksa" pikiran Anda untuk mengeluarkan ide-ide, yang bahkan mungkin tidak Anda sadari sebelumnya. Ketika Anda menulis dengan cepat, Anda juga melatih pikiran Anda untuk memilih diksi yang tepat untuk mengungkapkan ide-ide itu, sambil tetap mencari cara untuk tetap setia kepada topik yang sedang Anda tulis.

Usahakan untuk tetap menulis hingga waktu yang Anda tentukan berakhir. Sebelum itu, jangan sekali-kali membaca tulisan Anda, apalagi menyuntingnya. Biarkan semua ide di dalam kepala Anda mengalir bebas ke atas kertas (atau layar komputer Anda). Bebaskan diri Anda sebebas-bebasnya.

Ketika Anda selesai menulis, Anda baru dapat membaca apa yang telah Anda tulis, menyunting, memberi tanda baca yang terlewat, dan merangkum apa yang telah Anda tulis. Setelah itu, jangan lupa memberi tanda pada halaman terakhir di setiap topik yang Anda tulis (jika Anda menulis di buku). Hal ini untuk memudahkan Anda mengakses tulisan dan ide-ide tersebut, sekiranya Anda membutuhkannya suatu hari nanti.

Sepintas lalu, cara ini terlihat agak sedikit "ngawur" atau "suka-suka", tetapi keuntungan menulis jurnal pribadi adalah Anda menolong diri Anda sendiri untuk memunculkan ide-ide baru, membuka sumbat "writer's block" Anda, dan membuat Anda semakin mahir menggunakan pilihan kata yang sederhana.

2. Membuat Kartu-Kartu Pengingat

Cara yang berikut ini adalah cara yang juga dapat dipakai dalam merangsang seseorang untuk disiplin menulis, bahkan cara ini dipakai oleh Elizabeth Gilbert untuk "mengikat" dirinya saat menyelesaikan novelnya yang berjudul "Eat, Love, Pray". Ada sedikit perbedaan antara cara ini dengan cara yang pertama (menulis jurnal). Dalam menggunakan kartu pengingat, Anda diharapkan sudah memiliki draf tulisan Anda. Artinya, Anda sudah memiliki bahan, mengolah bahan-bahan itu, dan menyusunnya ke dalam kerangka karangan. Di kartu-kartu pengingat itulah, nantinya Anda akan menulis draf yang sudah jadi tersebut dan menggunakannya menjadi sesuatu yang "mengikat" Anda. Kartu-kartu pengingat itu disarankan berwarna-warni. Hal itu dikarenakan untuk mempermudah penyortiran, membantu Anda mengingat dan menjaga, agar Anda tidak bosan.

Sebenarnya, inti dari cara ini adalah membuat Anda mengetahui sejauh mana Anda sudah menyelesaikan sebuah proyek menulis (untuk cerita panjang). Tetapi jika Anda ingin memakainya untuk menulis artikel-artikel pendek, Anda dapat memodifikasi penggunaan kartu ini menjadi kartu acak, yang harus Anda ambil setiap harinya dan menulis sesuai dengan draf dan topik yang tertera di kartu tersebut.

3. Membentuk atau Bergabung dengan Komunitas Menulis

Cara ketiga untuk mendorong Anda berdisiplin dalam menulis adalah dengan memiliki komunitas. Dengan memiliki komunitas, Anda memiliki rekan-rekan yang dapat menyemangati Anda untuk terus menulis. Tentu saja hal ini tidak terjadi searah. Anda juga "wajib" memberi semangat kepada rekan-rekan sesama penulis.

Membentuk atau bergabung dengan komunitas penulis tidak hanya membuat Anda memiliki rekan-rekan yang mendukung Anda, tetapi Anda juga dapat terus mengasah pengetahuan tulis-menulis Anda, mempelajari hal-hal yang mungkin baru bagi Anda, dan tentu saja membangun relasi dengan penulis yang lain. Dengan berkomunitas, Anda juga memiliki rekan-rekan penulis yang cukup kompeten untuk menilai tulisan Anda, memberi tahu di mana kelemahan-kelemahan Anda, sekaligus menunjukkan keunggulan Anda yang perlu dipertahankan. Dengan berada dalam komunitas seperti ini, Anda dapat memupuk rasa percaya diri Anda dan pada gilirannya dapat memberi dampak yang positif terhadap kualitas karya tulis Anda.

Ketiga cara di atas tidak selalu dapat menjadi cara terbaik untuk mendorong seseorang untuk berdisiplin dalam menulis, tetapi mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda untuk menemukan cara yang terbaik dan yang paling nyaman bagi Anda. Intinya di sini adalah kemauan dan kreativitas untuk mendorong diri Anda sendiri. Ketika Anda mau belajar dan berusaha untuk berdisiplin, lambat laun Anda akan membentuk sebuah kebiasaan menulis yang baik.

Sumber bacaan:

  1. Gilbert, Tom. "Your Journal and Your Journey". Dalam http://www.your-life-your-story.com
  2. Robson, Janson. "A Journaling Process". Dalam http://www.jounalforyou.com
  3. Krisnadefa, Winda. "Cara Kreatif Disiplin Menulis Cerita Panjang". Dalam http://www.kampungfiksi.com
  4. Brain, Helen. 2008. "Become a Disciplined Writer". Dalam http://www.suite101.com
  5. Ray, Ramadhani. 2012. "Cara Mendisiplinkan Diri demi Karier Kepenulisan". Dalam Kartunet.com

Komentar