Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Bukan Pemain Cadangan

Penulis: Lea Cahyani Gunawan(Peserta Kelas Menulis Online "Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab")

A great man shows his greatness by the way he treats little men. -- Homas Carlyle

Kalau kepada kita ditanyakan faktor apa saja yang menentukan kemenangan sebuah tim sepak bola, jawabannya kira-kira adalah pelatih, skill pemain, kekuatan lawan, atau mungkin juga wasit. Akan tetapi, saya kira tidak ada yang menjawab bahwa pemain cadangan juga termasuk faktor penentu kemenangan. Padahal bisa kita bayangkan bagaimana jika sebuah tim sepak bola bertanding tanpa pemain cadangan. Sehebat apa pun pemain utama, sebuah tim tetap membutuhkan pemain cadangan. Akan tetapi, ya begitulah nasib pemain cadangan. Mereka berlatih sama seperti pemain utama, merasakan kelelahan yang sama, tetapi mereka tidak dihargai sebagaimana layaknya pemain utama.

Gambar: Filipi 2:8

Saya rasa tidak ada orang tua yang bercita-cita anaknya menjadi pemain cadangan. Semua pasti ingin anaknya menjadi pemain utama. Juga tidak ada yang ingin anaknya hanya menjadi juara kedua. Semua ingin menjadi juara pertama. Begitulah manusia. Semua ingin menjadi yang terhebat dan terutama.

Demikian juga murid-murid Yesus pada waktu bertengkar demi memperebutkan siapa yang layak disebut sebagai yang terbesar.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. (Markus 9:33-34)

Masing-masing merasa sebagai murid yang terhebat. Mungkin ada yang merasa hebat karena sudah memberikan seluruh waktunya untuk mengikut Yesus ke mana pun Dia pergi. Mungkin ada yang merasa hebat karena sudah meninggalkan seluruh hartanya demi menjadi murid Yesus. Mungkin ada yang merasa paling pintar sehingga paling bisa diandalkan dalam pelayanan dan seterusnya. Bukankah kita juga sering merasakan hal yang sama? Kita kerap merasa sebagai orang yang paling berjasa dalam rumah tangga, pekerjaan atau pelayanan kita sehingga layak untuk diakui sebagai yang terbesar. Ketika masing-masing merasa sebagai yang "paling", maka yang kemudian terjadi adalah pertengkaran dan perpecahan. Tidak jarang orang kemudian pergi meninggalkan rumahnya, pekerjaannya, pelayanannya, bahkan gerejanya atau malah meninggalkan Tuhan karena merasa tidak mendapat pengakuan seperti yang diharapkan.

Meskipun tampaknya sepele, tetapi Yesus menanggapinya sebagai sesuatu yang serius. Yesus yang sedang dalam perjalanan pun berhenti dan duduk. DIA mengambil waktu untuk berbicara dengan murid-murid-Nya. Kita patut mendengar bagaimana tanggapan Yesus tentang hal ini.

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." (Markus 9:35)

Jadi, siapa yang terbesar menurut Tuhan?

Keinginan untuk menjadi yang terbesar bukanlah sesuatu yang salah, tetapi jadilah yang terbesar dalam pandangan Tuhan, bukan terbesar dalam pandangan manusia. Menjadi terbesar dalam pandangan Tuhan seharusnya menjadi keinginan setiap orang yang mengaku sebagai murid-murid-Nya.

Tidak ada gunanya kita mencari pengakuan dari dunia karena hanya akan melelahkan dan mengecewakan kita. Ketika seseorang kaya, kuat, dan berkuasa, dunia akan mengakui kebesarannya. Dunia akan mengutamakan dan mengasihinya. Akan tetapi, ketika seseorang itu tak lagi kaya, kuat dan berkuasa, dunia tak lagi memandangnya. Karena itu, orang-orang yang mencari pengakuan dari dunia ini akan terus berusaha menjadi yang "paling", bahkan dengan menghalalkan segala cara. Orang berusaha untuk menjadi kaya, lebih kaya, dan paling kaya tak peduli bagaimana caranya. Demikian juga orang berusaha keras mengejar jabatan, berebut kekuasaan demi kepuasan dirinya, menjadi yang terbesar dan termulia di mata dunia. Kita melihat banyak dari mereka yang pada akhirnya justru menemui kehancuran. Sungguh melelahkan dan mengecewakan jika kita mengejar pengakuan dari dunia ini.

Apa yang terbesar dan termulia dalam pandangan Tuhan ternyata jauh berbeda dengan apa yang dipandang oleh dunia ini. Dunia menilai kebesaran seseorang dari apa yang dimilikinya. Misalnya, dari seberapa besar kekayaannya, seberapa tinggi kekuasaannya, seberapa besar kekuatannya, seberapa tinggi jabatannya, dan seterusnya. Akan tetapi, Tuhan menilai dari apa yang seseorang berikan kepada sesamanya, yaitu kerelaan untuk menjadi terkecil dan pelayan bagi semua orang.

Karena itu, di mata Tuhan, orang yang terkaya bukanlah mereka yang banyak memiliki, tetapi yang banyak memberi agar orang lain diperkaya meskipun sedikit yang dimilikinya. Demikian juga terhadap para penguasa, Tuhan menilai kebesaran mereka bukan dari seberapa besar kekuasaan mereka, tetapi dari bagaimana mereka menggunakan kekuasaan itu. Penguasa yang terbesar adalah penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk melayani dan menyejahterakan sesamanya. Mereka yang terbesar bukanlah mereka yang terkuat dalam hal apa pun, tetapi mereka yang memberikan kekuatannya untuk menguatkan sesamanya yang lemah, miskin, menderita, dan teraniaya.

Seorang anak kecil yang hanya memiliki lima roti dan dua ikan adalah yang terkaya di antara lebih dari lima ribu orang, karena dia rela memberikan semua yang dimilikinya untuk mengenyangkan bukan hanya dirinya, tetapi juga semua orang yang bersama-sama dengan dia. Anak kecil pemilik roti dan ikan itu menjadi yang terbesar dalam pandangan Tuhan. (Lihat Matius 14:13-21; Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:1-13)

Demikian juga Tuhan Yesus adalah yang termulia dalam pandangan Allah karena DIA rela menanggalkan keIlahian-Nya dan menjadi seorang hamba yang lemah, miskin dan menderita bahkan mati agar kita yang hina ini dimuliakan.

Menurut Rasul Paulus kita bisa menjadi orang yang mulia dalam pandangan Tuhan jika kita mengesampingkan pikiran dan perasaan kita dan mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Itu berarti memiliki kerendahan hati seperti Kristus, tidak mementingkan diri sendiri dan menganggap orang lain lebih utama dari dirinya sendiri.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:5-11)

Meskipun manusia tak memandang kita, tak menganggap kita sebagai yang terbesar dan termulia, kita bukanlah "pemain cadangan". Kita hanya sedang mencari kemuliaan dalam pandangan Tuhan yaitu kemuliaan yang kekal.

You want to be great? Help others achieve their greatness. – Bangambiki Habyarimana

Komentar