Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Beberapa Ciri Bahasa Indonesia Baku

Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun memunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semuanya memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya, kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda, walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.

Di samping ragam yang berdasar wilayah penuturnya, ada beberapa ragam lain dengan dasar yang berbeda, dengan demikian kita mengenal bermacam ragam bahasa Indonesia (ragam formal, tulis, lisan, bidang, dan sebagainya); selain itu ada pula ragam bidang yang lazim disebut sebagai laras bahasa. Yang menjadi pusat perhatian kita dalam menulis di media masa adalah "bahasa Indonesia ragam baku", atau disingkat "bahasa Indonesia baku". Namun demikian, tidaklah sederhana memerikan apa yang disebut "ragam baku".

Bahasa Indonesia ragam baku dapat dikenali dari beberapa sifatnya. Seperti halnya dengan bahasa-bahasa lain di dunia, bahasa Indonesia menggunakan bahasa orang yang berpendidikan sebagai tolok ukurnya. Ragam ini digunakan sebagai tolok ukur karena kaidah-kaidahnya paling lengkap diperikan. Pengembangan ragam bahasa baku memiliki tiga ciri atau arah, yaitu:

  1. Memiliki kemantapan dinamis yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Di sini, baku atau standar berarti tidak dapat berubah setiap saat.

  2. Bersifat kecendekiaan. Sifat ini diwujudkan dalam paragraf, kalimat, dan satuan-satuan bahasa lain yang mengungkapkan penalaran dan pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.

  3. Keseragaman. Di sini, istilah "baku" dimaknai sebagai memiliki kaidah yang seragam. Proses penyeragaman bertujuan menyeragamkan kaidah, bukan menyeragamkan ragam bahasa, laras bahasa, atau variasi bahasa.

Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas), menghimpun ciri-ciri kaidah bahasa Indonesia baku dalam buku berjudul "Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia", di samping "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dalam kedua naskah tersebut terdapat banyak kaidah yang merupakan pewujudan ciri bahasa Indonesia baku.

Mengapa Harus Baku?

Banyak orang kurang menyetujui pemakaian bahasa "baku" karena mereka kurang memahami makna istilah itu. Mereka mengira bahasa yang baku selalu bersifat kaku, tidak lazim digunakan sehari-hari, atau bahasa yang hanya terdapat di buku. Mereka berpendirian bahwa kita cukup menggunakan bahasa yang komunikatif, maksudnya mudah dipahami. Mereka beranggapan bahwa penggunaan ragam baku mengakibatkan bahasa yang kurang komunikatif dan sulit dipahami. Pemahaman semacam ini harus diluruskan. Keterpautan bahasa baku dengan materi di media massa ialah bahwa ragam ini yang paling tepat digunakan, supaya bahasa Indonesia berkembang dan dapat menjadi bahasa iptek, bahasa sosial, ataupun bahasa pergaulan yang modern. Bahasa yang baku tidak akan menimbulkan ketaksaan pada pemahaman pembacanya. Ragam bahasa baku akan menuntun pembacanya ke arah cara berpikir yang bernalar, jernih, dan masuk akal. Bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lain di Eropa, bisa menjadi bahasa dunia dan bahasa komunikasi dalam ilmu pengetahuan karena tingginya sifat kebakuan bahasa-bahasa tersebut.

Di samping itu, bahasa baku dapat menuntun baik pembaca maupun penulisnya ke arah penggunaan bahasa yang efisien dan efektif. Bahasa yang efisien ialah bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku, dengan mempertimbangkan kehematan kata dan ungkapan. Bahasa yang efektif ialah bahasa yang mencapai sasaran yang dimaksudkan (Moeliono, 2002).

Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan kebakuan kalimat, antara lain:

  1. Pelesapan imbuhan, misalnya "Kita harus hati-hati dalam menentukan sampel penelitian ini" (seharusnya "berhati-hati").

  2. Pemborosan kata yang menyebabkan kerancuan atau bahkan kesalahan struktur kalimat, misalnya "Dalam rapat pimpinan kemarin memutuskan susunan pengurus baru" (kata "dalam" dapat dibuang).

  3. Penggunaan kata yang tidak baku, termasuk penggunaan kosakata bahasa daerah yang belum dibakukan. Contoh, "Percobaan yang dilakukan cuma menemukan sedikit temuan" ( kata "cuma" seharusnya diganti dengan "hanya").

  4. Penggunaan kata hubung yang tidak tepat, termasuk konjungsi ganda, misalnya "Meskipun beberapa ruang sedang diperbaiki, tetapi kegiatan sekolah berjalan terus." (Konjungsi "tetapi" sebaiknya dihilangkan karena sudah ada konjungsi "meskipun").

  5. Kesalahan ejaan, termasuk penggunaan tanda baca.

  6. Pelesapan salah satu unsur kalimat, misalnya "Setelah dibahas secara mendalam, peserta rapat menerima usul tersebut" (subjek anak kalimat "usul tersebut" tidak boleh dilesapkan).

Buku Sabarianto (2001) dalam daftar pustaka di bawah ini memuat beberapa contoh tentang penggunaan bahasa Indonesia baku.

Pustaka Pilihan:

  1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.

  2. Moeliono, Anton M. 2002. "Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek", makalah lepas.

  3. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1979. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.

  4. Sabarianto, Dirgo. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Mitra Gama Widya.

  5. Sakri, Adjat. 2002. Diktat Perlatihan. Jakarta: Dikti Diknas, Proyek Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : blog.bahtera.org
Alamat URL : http://blog.bahtera.org
Penyusun : Setyadi Setyapranata
Tanggal akses : 16 Oktober 2012