Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Artikel

Menulis Natal untuk Era Digital

Ditulis oleh: Berlin B.

Saat Natal menjelang, kita seolah merasakan suasana damai yang sedang mendekat. Untuk menyambutnya, kita merencanakan atau mengharapkan suatu pengalaman baru selama Natal. Hal itu mungkin berupa pertemuan dengan keluarga besar, melakukan retret keluarga, berbagi sukacita bersama para pemulung, menceritakan kisah-kisah Natal kepada anak-anak jalanan, dsb.. Banyak hal bisa kita kerjakan untuk merayakan dan memaknai Natal dalam hidup kita. Bagaimana dengan seorang penulis? selengkapnya... about Menulis Natal untuk Era Digital

Fungsi Bahasa Indonesia secara Politis

Secara politis, fungsi bahasa Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kedua fungsi tersebut dilandasi oleh landasan filosofis dan yuridis. Landasan filosofis bahasa Indonesia terekam dalam baris ke tiga Sumpah Pemuda yang berbunyi "Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia". selengkapnya... about Fungsi Bahasa Indonesia secara Politis

Susahnya Menjadi Penulis Pemula

Penulis : Firrar Utdirartatmo
Pernah sebuah lelucon menyatakan, suatu artikel dimuat di koran karena penulisnya benar-benar bermutu, alias (maaf) bermuka tua. Maksudnya, ia memang sudah dikenal karena sering menulis di banyak media, sehingga karyanya gampang dimuat. Mungkinkah salah satu syarat agar karya bisa dimuat di media adalah sudah berpengalaman menulis di media? Lalu bagaimana dengan para penulis muda yang belum pernah dimuat? Susah juga kan? selengkapnya... about Susahnya Menjadi Penulis Pemula

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Cara Kreatif Membangun Kebiasaan Menulis

Ditulis oleh: Yosua Setyo Yudo

"We first make our habits, and then our habits make us," demikianlah kata-kata dari John Dryden, seorang penyair, aktor drama, dan kritikus sastra yang berpengaruh pada Era Restorasi Inggris. Lewat kata-kata itu, ia hendak mengatakan bahwa kitalah yang membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kita miliki, tetapi di kemudian hari, kebiasaan-kebiasaan itulah yang akan menunjukkan kepada dunia siapa diri kita yang sebenarnya. selengkapnya... about Cara Kreatif Membangun Kebiasaan Menulis

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Kisah Allah yang Tercermin dalam Literatur Anak

Saya telah berada di dunia akademis selama 30 tahun dan telah menjadi orang Kristen selama 26 tahun. Ketika pertama kali menjadi Kristen, saya berjuang untuk melihat hubungan antara kehidupan yang saya jalani setiap hari dengan hidup baru dalam iman sebagai seorang percaya dalam Kristus. Namun, semakin saya bertumbuh di dalam pemahaman terhadap Alkitab, saya semakin dapat melihat kehadiran Allah dalam pekerjaan dan pendidikan saya. Sebagai seorang akademisi yang tertarik dengan cara belajar anak, saya memiliki minat yang dalam terhadap literatur serta kekuatannya untuk tidak hanya mengajar tentang bahasa dan kehidupan, tetapi juga memperkaya hidup kita, bahkan mengubah cara berpikir kita terhadap dunia. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa cerita-cerita, bahkan yang ditulis oleh orang-orang non-Kristen, mengandung gema dari kisah utama di belakang kisah-kisah Alkitab. selengkapnya... about Kisah Allah yang Tercermin dalam Literatur Anak

Karya Kristiani di Dunia Sastra Sekuler

Ditulis oleh: Santi T.

Tidak gampang untuk mendapatkan karya sastra yang memuat unsur Kristen di dalamnya. Bahkan, dalam rak perpustakaan gereja pun belum tentu ada. Jika kita membaca artikel-artikel dalam internet mengenai topik ini, kita akan menemukan sebuah polemik yang pernah terjadi di antara para penulis terkemuka di Indonesia mengenai "Kristen dalam Sastra Indonesia" pada awal tahun 1970-an. Berawal dari diberikannya sebuah tema "Kristen dalam Sastra Indonesia" oleh Dewan Kesenian Jakarta kepada Dick Hartoko untuk diceramahkan. Dick Hartoko menerima tema tersebut, tetapi dalam ceramahnya ia memberi judul "Mengerling Sastra Indonesia dari Sudut Kristen", yang akhirnya memicu banyak respons dari para penulis. Respons dari para penulis mengenai tema ini pun bisa menjadi indikasi yang menentukan apakah kelak nilai-nilai kristiani dapat disalurkan melalui karya-karya sastra. Satyagraha Hoerip, seorang penulis novel, cerpen, dan skenario film yang cukup terkenal di dunia sastra Indonesia, merespons hal ini dengan penolakan yang ia nyatakan di Majalah KOMUNIKASI No. 13 Tahun I (10 Januari 1970), halaman 27 -- 28 dalam opininya berjudul "Sastra Kristen yang Kita Harap-Harapkan". selengkapnya... about Karya Kristiani di Dunia Sastra Sekuler

Membangun Kesadaran Menulis pada Era Digital

Kejayaan era digital ditandai dengan kekuatan media daring profesional dan media sosial yang memiliki kapasitas data besar, mobilitas, dan jangkauan informasi secara luas. Kekuatan teknologi informasi ini dimanfaatkan oleh para penulis untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang mencerahkan masyarakat digital. selengkapnya... about Membangun Kesadaran Menulis pada Era Digital

Visi dan Misi Jurnalistik Kristen

Hampir semua perusahaan di dunia ini, terutama yang profesional, selalu memiliki visi dan misi perusahaan. Istilah yang mereka pakai bermacam-macam. Namun, yang paling sering mereka pakai, terutama di buku-buku manajemen adalah Mission Statement (Pernyataan Misi).

Jurnalis Kristen, sebagai orang yang menyandang nama Kristus, tentu saja harus memiliki visi dan misi yang jelas. Tujuan hidup utama orang Kristen adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam rangka mengasihi Tuhan dan sesama itulah, pengikut Kristus diperintahkan untuk melaksanakan Amanat Agung yang Yesus ucapkan: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Gambar: Visi Misi Menulis

Untuk melakukan Amanat Agung itu, jurnalis Kristen harus ikut berperan serta secara aktif melalui talenta dan keterampilannya. Jurnalis Kristen bisa mengambil bagiannya, paling tidak, dalam tiga hal. Pertama, menunjukkan kepada dunia bahwa orang Kristen adalah media itu sendiri. James F. Engel, pakar komunikasi Kristen, mengatakan bahwa gereja (orang Kristen) bukan hanya media, tetapi juga pesan itu sendiri. Rasul Paulus mempunyai penjelasan yang lebih baik. Dia menulis: "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." (2 Korintus 3:2) Kedua, menyebarkan kabar baik atau berita keselamatan itu melalui medianya. Ketiga, mengajarkan pada pembaca mengenai cara memperoleh keselamatan itu.

Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma mengenai hal berikut ini: "Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Akan tetapi, bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakannya?"

Tugas seorang jurnalis Kristen adalah menceritakan berita keselamatan itu melalui media, tempat dia bekerja. Bagi jurnalis Kristen, media cetak, koran, majalah, dan tabloid adalah tempat baginya untuk menyalurkan pelayanannya itu. Namun, masih banyak orang yang belum memahami bahwa penerbitan Kristen merupakan suatu pelayanan. Isaac Phiri, editor Interlit -- sebuah majalah internasional tentang penerbitan Kristen -- menulis:

"Penerbitan dikatakan sebagai suatu profesi kecelakaan, dan tidaklah sukar untuk mengerti mengapa bisa begitu. Sangat sedikit akademi atau universitas yang menawarkan mata kuliah utama di bidang penerbitan. Para penasihat karier tidak bisa berkata banyak tentang karier di bidang penerbitan. Bagaimana orang bisa terlibat dalam penerbitan Kristen jauh lebih misterius. Seminari dan universitas Kristen, hampir tidak pernah menyebutkan penerbitan sebagai suatu bidang pelayanan. Demikian halnya dengan gereja. Allah memanggil manusia untuk misi, bukan penerbitan."

Kelebihan Media Cetak

Tokoh-tokoh terkenal dunia, sejak dahulu mengakui kelebihan media cetak ini. Napoleon Bonaparte, misalnya, berkata: "Senjata api dan pena adalah kekuatan-kekuatan yang paling dahsyat di dunia. Tetapi, kekuatan pena akan bertahan lebih lama bila dibandingkan dengan senjata api." Senada dengan Napoleon Bonaparte, Benyamin Franklin pun mengatakan: "Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia. Ketika ditanya, apakah yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, "Huruf A sampai Z". Martin Luther, Reformator Gereja, bahkan dengan tegas mengucapkan: "Selain keselamatan dari Tuhan Yesus, maka anugerah terbesar dari Tuhan yang lain adalah Mesin Cetak."

Perkataan Martin Luther sudah terbukti. Setelah mesin cetak berhasil dibuat, di Amerika terjadi panen jiwa yang luar biasa. Puluhan juta jiwa dibaptis. Di antara mereka yang dibaptis, 85% mengatakan bahwa mereka datang kepada Kristus karena bacaan rohani dalam bentuk traktat, buku, dan majalah. Pendeta Oswald Smith, gembala sidang People Church di Toronto, Kanada berkata, "Saya sudah berkeliling dunia ke 70 negara sambil mencari cara, manakah yang paling efektif untuk penginjilan sedunia. Dan, sampai detik ini, yang bisa saya dapatkan adalah melalui MEDIA CETAK."

Senada dengan Napoleon Bonaparte, Benyamin Franklin, Martin Luther, dan Oswald Smith, para tokoh Kristen modern pun memercayai kekuatan media cetak ini. Apa saja komentar mereka? Ucapan mereka dimulai dengan frasa yang sama, saya percaya penerbitan karena:

1. "Penerbitan mematuhi perintah Kristus" (Andrezej Gandecki, India).
2. "Penerbitan sangat dibutuhkan" (Daniel Bourdanne, Cote d´Ivoire).
3. "Penerbitan memenuhi kebutuhan yang dalam" (C.D. Jebasingh, India).
4. "Penerbitan membagi harapan" (Andrea Zaki, Mesir).
5. "Potensinya besar" (A.T. Kurian, India); "Lebih kuat ketimbang senapan" (Nico Bougas, Afrika Selatan).

George Verwer, tokoh penginjilan literatur, juga memercayai kekuatan literatur Kristen. Di dalam traktatnya yang berjudul Pelayanan Literatur menyebutkan bahwa literatur Kristen juga sering disebut "Utusan Injil Tercetak". Di dalam traktat itu, pendiri dan koordinator internasional Operation Mobilisation (OM) ini menyebutkan bahwa paling tidak ada sepuluh kekuatan literatur Kristen, yaitu:

1. Ia dapat pergi ke mana-mana tanpa dilihat sebagai orang asing.
2. Lewat pos, ia dapat masuk sampai ke tempat-tempat, tempat seorang penginjil tidak diizinkan masuk.
3. Ia menyampaikan beritanya dengan rajin tanpa mengenal batas waktu, istirahat atau cuti.
4. Ia mempersembahkan beritanya sesuai dengan kecepatan berpikir seseorang dan menurut kesenangan pembacanya.
5. Ia memungkinkan si pembaca mendalami berita yang sama berulang-ulang.
6. Ia adalah pengkhotbah estafet yang menyampaikan beritanya dari satu orang ke orang lain.
7. Ia memungkinkan si pembaca mempelajari satu bagian khusus dari berita yang menarik hatinya.
8. Dalam bentuk buku, ia dapat memberi makanan rohani kepada mereka yang lapar berjam-jam, bahkan berhari-hari seperti pengkhotbah bersambung yang tidak berkeputusan.
9. Pada umumnya, tidak mahal, tetapi juga tidak kalah baik buahnya dibandingkan dengan cara penginjilan lainnya.
10. Dalam waktu satu jam, ia dapat dibagikan kepada lebih banyak orang daripada jumlah rata-rata pengunjung setiap Minggu pagi.

Ternyata, George Verwer pun bertobat dan mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat karena pelayanan literatur pula. Dalam pendahuluan, bukunya yang berjudul Literature Evangelism (Penginjilan Literatur), pemimpin badan misi yang memiliki kapal Logos 11 dan Doulos ini menulis:

"Pada 1957, saya menerima kitab Injil Yohanes melalui pos yang dikirimkan oleh seorang ibu Kristen yang baik hati dan yang percaya bahwa Allah menjawab doa dan yang juga percaya akan kuasa Injil dalam bentuk barang cetakan. Selama dua tahun saya membaca buku kecil itu dengan teratur sehingga akhirnya saya 'dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal' (1 Petrus 1:23)."

Seperti George Verwer, Billy Graham pun mengakui kuasa media cetak. Dalam bukunya Just As I Am, penginjil internasional ini menulis: "Liputan media mengenai kami, beberapa tahun pertama, tahun lima puluhan tak pelak lagi merupakan penentu yang membawa pekerjaan kami kepada masyarakat. Meskipun demikian, selama itu, pertanyaan lain terus-menerus timbul dalam pikiran saya: Jika media bisa digunakan untuk mempromosikan pelayanan evangeli, apakah media juga bisa langsung digunakan untuk evangeli? Seperti sudah saya catat, pemikiran tersebut membawa kami, mula-mula pada radio dan film. Namun, tidak lama kemudian, kami mengalihkan perhatian kami kepada halaman cetak. Begitu program radio atau film usai, pengaruhnya sebagian besar berakhir pula. Akan tetapi, buku dan majalah bisa mencapai tempat-tempat yang tidak bisa dicapai khotbah, dan bisa secara berkesinambungan memengaruhi, lama setelah si penulis sudah tidak ada."

Diambil dari:
Judul buletin : Menulis Dengan Cinta
Judul artikel : Visi dan Misi Jurnalistik Kristen
Penulis artikel : Xavier Quentin Pranata
Penerbit : Yayasan Andi Yogyakarta
Halaman : 17 -- 23

selengkapnya... about Visi dan Misi Jurnalistik Kristen

Kolom Publikasi: 
Edisi Publikasi: 

Pages


Subscribe to Artikel